Sistem Pencernaan pada Hewan Ruminansia: Rumen hingga Usus Besar

Penulis: Maria Ulfa, tirto.id - 23 Mar 2021 14:30 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Proses pencernaan ternak ruminansia terjadi secara mekanis (di dalam mulut) dan secara fermentatif (oleh enzim-enzim pencernaan).
tirto.id - Hewan ruminansia memiliki sistim pencernaan yang berbeda dengan ternak yang lain. Sistem pencernaan ruminansia memiliki beberapa tahapan dalam mencerna makanan.

Mengetahui sistem pencernaan ternak yang dipelihara oleh peternak sangat bermanfaat untuk mengetahui bagaimana cara kerja saluran pencernaan sehingga memudahkan dalam penanganan jika terjadi kasus-kasus pada pencernaan.

Hewan yang Termasuk Ruminansia


Ruminansia atau dikenal juga dengan hewan memamah biak adalah hewan yang dalam aktivitas memenuhi kebutuhan perut melakukan pengunyahan kembali terhadap pakan yang sudah ditelannya.


Kelompok hewan ruminansia sebagian besar pakannya adalah berupa bahan hijauan yang terdiri atas rumput atau daun-daunan, meskipun kadang-kadang juga diberikan pakan yang berupa tepung.

Sebagai pakan ruminansia hijauan dapat berupa hijauan segar ataupun hijauan yang sudah diawetkan.

Ternak ruminansia terdiri dari ruminansia besar di antaranya sapi dan kerbau dan ruminansia kecil di antaranya kambing dan domba.

Selain itu, berikut ini adalah beberapa contoh hewan lainnya yang juga dikategorikan sebagai hewan ruminansia.
  1. Anoa
  2. Banteng
  3. Bison
  4. Kambing gunung
  5. Antelop bertanduk empat
  6. Kerbau air
  7. Domba salju
  8. Domba domestik

Sistem Pencernaan Hewan Ruminansia


Pencernaan adalah tempat di mana makanan diperoses di dalam tubuh. Pencernaan ternak ruminansia berbeda dengan ternak yang lain, ternak ruminansia memiliki lambung ganda.

Proses pencernaan ternak ruminansia terjadi secara mekanis (di dalam mulut) dan secara fermentatif (oleh enzim-enzim pencernaan).

Organ pencernaan pada ternak ruminansia terdiri dari mulut, rumen, retikulum, omasum, abomasum, usus halus, sekum, kolon dan rektum.

Rumen memiliki ukuran yang paling besar yaitu 80 persen, retikulum 5 persen, omasum 7 persen dan abomasum 8 persen.

A. Pencernaan Secara Mekanis

Pencernaan secara mekanis dilakukan di dalam mulut, HPT yang telah direnggut dikunyah didalam mulut kemudian ditelan, setelah istirahat dikeluarin kembali dan dikunyah lebih halus, hal ini disebut memamah biak.

Pengunyahan di dalam mulut bercampur dengan saliva (air liur) untuk membantu proses pengunyahan dan menelan makanan.

Saliva memiliki pH sekitar 8,2 dan dengan kandungan sodium bikarbonat yang tinggi.

Saliva berfunsi sebagai buffer yang membantu menetralkan pengaruh asam dari pakan yang dikonsumsi ternak setelah masuk ke dalam rumen.

B. Pencernaan pada Rumen

Rumen disebut juga perut besar karena merupakan bagian lambung terbesar di dalam sistem pencernaan ternak ruminansia.

Permukaan rumen dilapisi oleh papilia. Rumen berfungsi sebagai tempat fermentasi oleh mikroba, tempat absorbsi VFA dan tempat pencampuran pakan.

Rumen sapi memiliki berbagai jenis bakteri yang berbeda dengan jumlah yang sangat banyak dan beberapa tipe protozoa yang membantu memanfaatkan serat dari bahan pakan dan sumber Nitrogen non protein.

Bakteri menghasilkan enzim untuk menguraikan makanan sehingga membantu ternak memanfaatkan nutrisi yang ada di dalam pakan.

C. Pencernaan pada Retikulum

Retikulum disebut juga perut jala karena permukaan bagian dalamnya mirip dengan jala atau sarang lebah.

Rumen dengan retikulum hampir tidak berjarak. Retikulum juga membantu regurgitasi (ruminasi).

Retikulum berfungsi sebagai tempat fermentasi pakan oleh mikroorganisme. Hasil fermentasi retikulum diantaranya adalah VFA, amonia dan air.

Bahan pakan yang difermentasi terutama VFA, amonia dan air pada retikulum mulai diabsorbsi.

D. Pencernaan pada Omasum

Omasum adalah lambung ketiga dari ternak ruminansia. Omasum disebut perut buku karena memiliki lipatan-lipatan seperti buku berupa lipatan-lipatan logitudinal.

Pencernaan pada omasum masih terjadi fermentasi mikroorganisme. Omasum berfungsi sebagai pengatur arus ingesta ke abomasum dan menyaring partikel yang besar.

Terjadi penyerapan air yang terkandung di dalam hijauan pakan ternak oleh dinding omasum, di dalam omasum enzim bekerja menghaluskan hijauan.

E. Pencernaan pada Abomasum

Abomasum terbagi atas tiga bagian, yaitu florika yang merupakan sekresi mukus, fundika (sekresi pepsinogen, renin dan mukus) dan Kardia yang merupakan sekresi mukus.

Abomasum tempat permulaan pencernaan protein dan mengatur arus digesta dari abomasum ke duodenum.

Pakan di abomasum akan dicerna kembali dengan bantuan asam klorida dan berbagai enzim. Asam klorida membantu mengaktifkan enzim pepsinogen melakukan pencernaan.

F. Pencernaan pada Usus Halus

Setelah selesai pencernakan pakan di abomasum maka akan dilanjutkan ke usus halus. Usus halus terdiri dari duodenum, jejenum dan ileum.

Dodenum kondisinya asam sehingga bakteri dari lambung tidak bisa hidup di duodenum. Kondisi asam akibat dari percampuran asam dari abomasum, getah pankereas, hati, kantung empedu dan kelenjar dari usus halus.

kemudian makanan akan mengalami pencernaan dengan bantuan enzim yang dihasilkan dari dinding usus. Makanan pada tahap ini partikelnya lebih halus.

Setelah itu makanan berlanjut pada ileum, ileum memiliki banyak vili yang berfungsi memperluas bagian penyerapan sehingga penyerapan akan lebih optimal.

G. Pencernaan pada Usus Besar

Sisa-sisa dari pencernaan sebelumnya didorong dengan peristaltik usus ke usus besar. Sisa tersebut masih mengandung mineral dan air.

Penyerapan mineral dan air paling banyak di usus besar, penyerapan terjadi melalui dinding usus.

Zat-zat yang diserap akan didistribusikan ke seluruh tubuh yang membutuhkan, sedangkan sisa atau ampas dari penyerapan akan dikeluarkan melalui rektum.


Baca juga artikel terkait HEWAN RUMINANSIA atau tulisan menarik lainnya Maria Ulfa
(tirto.id - Pendidikan)

Penulis: Maria Ulfa
Editor: Yulaika Ramadhani

DarkLight