Sisi Kelam dari Mesin Pencarian Google

Oleh: Ahmad Zaenudin - 10 April 2018
Dibaca Normal 3 menit
Google merupakan cerminan “infobesity” sebuah istilah yang menyamakan pencarian informasi dengan konsumsi masyarakat atas fast food.
tirto.id - Larry Page dan Sergey Brin, duo pendiri Google kali pertama bertemu di Stanford University pada 1995 silam. Saat itu, Page masih belum menjadi mahasiswa Stanford, sedangkan Brin telah duduk sebagai mahasiswa tingkat dua kampus yang menjadi bagian Ivy League—kampus-kampus prestisius di Amerika Serikat.

Sebagaimana dikisahkan pada laman resmi Google, pertemuan pertama kedua pendiri itu diwarnai banyak ketidaksetujuan. Namun, itu tak membuat pertemanan mereka kandas. Keduanya lalu sepakat membangun mesin pencarian. Siang-malam, bekerja di kamar asrama, Backrub adalah nama mesin pencarian yang dikembangkan mereka berdua akhirnya tercipta.

Backrub tidak berumur lama, karena kedua pendiri itu akhirnya memilih “Google” sebagai nama pengganti. Google yang merupakan ekspresi matematis dari angka 1 yang diikuti 100 nol di belakang, menurut duo pendiri tersebut, lebih mencerminkan misi mereka. Misi “untuk mengorganisasikan informasi dunia dan membuatnya dapat diakses dan digunakan secara universal.”


Sejak 1998, perlahan tapi pasti, Google jadi penguasa mesin pencarian di dunia. Ramai-ramai orang menggunakan Google untuk menemukan segala sesuatu di internet. Sekarang, ada 3,5 miliar pencarian yang dilakukan Google tiap harinya.

Jan Brophy, peneliti pada City University London, dalam papernya berjudul “Is Google Enough? Comparison of an Internet Search Engine with Academic Library Resources” mengatakan bahwa Google memainkan peranan penting dalam perubahan bagaimana orang mencari informasi. “Alih-alih pergi ke perpustakaan untuk mencari sesuatu, kita kini memilih mencari dokumen hanya dengan beberapa klik dan sentuhan tut keyboard,” tulis paper itu.

Google, dalam bahasa sederhana, telah berubah maknanya jadi “melakukan riset.” Sayangnya, meskipun memiliki manfaat yang banyak, Google punya sisi kelam. Sisi ini terutama tentang dampak negatif pada para penggunanya.

Safiya Umoja Noble, asisten profesor di bidang komunikasi pada University of Southern California, yang baru saja menerbitkan buku berjudul “Algorithms of Oppression: How Search Engines Reinforce Racism” menemukan sebuah kesimpulan dari penggunaan mesin pencari seperti Google. Menurut Noble, dalam bukunya setebal 256 halaman itu, Google dianggap punya andil membikin penggunanya bersinggungan dengan hal porno atas hasil yang mereka cari.

“Saya melakukan pencarian ‘black girl,’ ‘Asian girls,’ dan ‘Latina girls’ secara online dan menemukan bahwa aspek pornografi ialah respresentasi di halaman pertama hasil pencarian (Google),” kata Noble dalam wawancaranya pada Vox.

Menurut pemikirannya, hasil di halaman pertama mesin pencarian Google atas kata kunci tersebut sangat tidak adil. Bagi Noble, itu mereduksi “black girl,” “Asian girls,” dan “Latina girls” bukan mencerminkan hal yang sesungguhnya.

Noble, menyesalkan hal ini. Menurut pendapatnya, Google merupakan mesin pencari yang memainkan peranan penting pada penciptaan ide, nilai, serta identitas masyarakat masa kini. Sehingga, hasil pencarian rasis atau porno pada kata kunci yang ia contohkan, akan mendorong orang semakin rasis memandang suatu golongan dan sebagainya. Terutama bagi pengguna yang mentah-mentah menelan informasi dari hasil pencarian di Google.

“Saya berpendapat bahwa platform iklan online multinasional (seperti Google) tidak dapat dipercaya sebagai portal informasi publik yang kredibel. Kebanyakan orang berpikir bahwa Google, dan mesin pencari pada umumnya, dianggap sebagai perpustakaan umum atau sebagai tempat tepercaya di mana mereka dapat memperoleh informasi akurat tentang dunia. (Padahal sesungguhnya tidak),” lanjut Noble.

Google sesungguhnya tidak bisa disalahkan mentah-mentah atas permasalahan ini. Hasil pencarian yang bersifat rasis, atau secara umum bersifat negatif, timbul karena dunia internet yang di-index Google dikuasai kaum mayoritas. Mayoritas yang membentuk kata kunci seperti “black girl,” “Asian girls,” dan “Latina girls” dengan konotasi negatif.

“Orang-orang minoritas secara angka di masyarakat tidak akan bisa menggunakan kekuatan ‘aturan mayoritas’ untuk kepentingan mereka. Mayoritas akan selalu bisa mengendalikan apa yang mereka anggap penting, atau apa yang penting untuk diklik, dan itulah landscape informasi internet hari ini,” kata Noble melanjutkan.

Salah satu bentuk lain dari berkuasanya mayoritas atas Google ialah sebuah fitur bernama autocomplete, fitur yang memberikan sugesti kata kunci pada pengguna. Secara umum, kata kunci sugesti yang diberikan merupakan kata kunci yang populer, alias dipakai oleh mayoritas.


Infografik sisi negatif googling


Pengaruh Terhadap Memori


Selain dianggap menimbulkan sikap negatif, merujuk penelitian yang dilakukan oleh psikolog bernama Betsy Sparrow dari Colombia University, sebagaimana diwartakan The Washington Post, mesin pencari seperti Google dianggap memicu orang untuk malas mengingat, terutama bagi hal-hal yang dianggap dapat ditemukan di internet.


“Sejak munculnya mesin pencari, manusia modern mengatur ulang bagaimana mengingat sesuatu,” kata Sparrow.

Peranan mesin pencari ini bisa dianalogikan sebagai sosok ibu yang tahu betul di mana peralatan rumah tangga disimpan. Anggota keluarga lainnya umumnya tidak mengingat dan menyerahkan semuanya pada ibu.

“Otak kita bergantung pada internet untuk mengingat sama seperti mereka bergantung pada memori seorang teman, anggota keluarga atau rekan kerja,” tambahnya.

Roddy Roediger, psikolog pada Washington University, mengatakan bahwa mengapa manusia harus mengingat, jika fungsi itu bisa dipindahkan pada mesin pencari. “Dengan Google dan mesin pencari lain, kita memindahkan sebagian memori kita ke mesin,” katanya.

Soal memori ini pula didukung oleh Daniel M. Wegner, peneliti dari Harvard University, dalam papernya berjudul “Google Effect on Memory: Cognitive Consequences of Having Information at Our Fingertips” dalam sebuah penelitian pada 46 mahasiswa Harvard ditemukan kecenderungan bahwa responden merespons lebih lambat kata kunci yang berhubungan dengan internet. Mereka pikir, jika kata kunci berhubungan dengan internet, tinggal melakukan pencarian via Google.



Saat kita menuju laman Google Indonesia dan memasukkan kata “Bitcoin” sebagai kata kunci, ada 77.900.000 hasil yang ditawarkan Google. Selepas menyodorkan hasil pencarian versi iklan, laman Bitcoin.org jadi yang utama yang diberikan Google bagi pengguna yang mencari sesuatu dengan kata kunci itu. Dalam pandangan sederhana, tidak ada yang salah dengan hasil pencarian itu. Bitcoin.org memang merupakan salah satu titik pusat dunia Bitcoin, kata kunci yang digunakan.

Jan Brophy, masih dalam paper yang sama, berkata sebaliknya. Paling jika membandingkan dengan hasil kerja seorang pustakawan. Dalam papernya itu, dari 723 dokumen yang dijadikan sampel pembanding antara kerja Google dan pustakawan, rata-rata dokumen yang dipersembahkan Google sebagai hasil pencarian tidak lebih baik dibandingkan dokumen yang ditawarkan seorang pustakawan. Hanya 52 persen dokumen yang ditawarkan Google memiliki level kualitas baik. Sementara itu, dokumen yang ditawarkan seorang pustakawan memiliki level kualitas di angka 84 persen.

Google, menurut pendangan Brophy, merupakan cerminan “infobesity” sebuah istilah yang menyamakan pencarian informasi dengan konsumsi masyarakat atas fast food. Infobesity dianggap menghadirkan informasi sampah alih-alih melahirkan informasi yang berkualitas.

Baca juga artikel terkait GOOGLE atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Reporter: Ahmad Zaenudin
Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Suhendra