Siapkah Pemerintah Hadapi Pandemi Corona COVID-19?

Oleh: Restu Diantina Putri - 16 Maret 2020
Dibaca Normal 2 menit
Per 15 Maret 2020, jumlah pasien meninggal karena COVID-19 mencapai 5 orang.
tirto.id - Per 15 Maret 2020, jumlah kasus positif COVID-19 di Indonesia mencapai 117 orang. Dari jumlah itu, lima kasus di antaranya meninggal dan 8 lainnya dinyatakan negatif atau sembuh.

Jika dihitung tingkat kematiannya (death rate) maka Indonesia berada di angka 4,27 persen atau berada di atas tingkat kematian global sebesar 3,72 persen per 15 Maret 2020. Sementara tingkat kesembuhan berada di angka 6,83 persen. Cukup jauh di bawah tingkat kesembuhan global yang berada di angka 46,48 persen.

Secara statistik, Indonesia menempati urutan ketiga dengan tingkat kematian tertinggi. Di peringkat pertama ada Italia dengan 6,81 persen, lalu disusul Iran sebesar 5,19 persen. Cina menempati urutan keempat yakni 3,8 persen. Kendati demikian, jumlah kasus positif di ketiga negara adalah yang tertinggi.

Dalam artikel Why 'Flattening The Curve' Is So Critical For COVID-19 Right Now yang dilansir Sains Alert, Matthew Mcqueen menjelaskan salah satu cara untuk menekan laju penyebaran pandemik juga tingkat kematian adalah dengan pelandaian kurva. Kurva yang dimaksud adalah eskalasi penambahan kasus baru tiap harinya.

Dalam penjelasannya, Mcqueen menarik sebuah garis lurus putus-putus di tengah kurva sebagai kapasitas sistem kesehatan sebuah negara. Dengan ini ia memaparkan bahwa kasus positif yang berada di atas garis itu kemungkinan besar tidak akan tertangani dan menyebabkan kematian yang lebih tinggi.

Maka dari itu, penting untuk melandaikan kurva, atau menekan laju penambahan kasus baru untuk tetap berada di bawah garis tersebut agar tertangani oleh tenaga medis.

Pertanyaannya, siapkah sistem kesehatan Indonesia jika nantinya akan terjadi outbreak – penyebaran pandemik secara masif?



Pemerintah Tidak Transparan soal Kasus Meninggal


Dari lima pasien positif yang meninggal, dua di antaranya meninggalkan banyak tanda tanya, Pemerintah pusat dinilai menyembunyikan status keduanya hingga meninggal.

Pasien meninggal pertama merupakan kasus ke-25, seorang warga negara Inggris yang dikonfirmasi positif pada 10 Maret dan diumumkan meninggal keesokan harinya.

Juru bicara pemerintah penanganan Corona Achmad Yurianto mengatakan perempuan 53 tahun itu memiliki riwayat penyakit berat sejak masuk rumah sakit. Ia menyebut pasien ini memiliki riwayat sakit diabetes, hipertensi, hipertiroid dan penyakit paru yang menahun.

"Jadi bukan karena Corona virus sebagai penyebab utama, tapi itu yang memburuk kondisinya," kata dia.

Usai pengumuman kasus meninggal, baru diketahui kasus ke-25 merupakan pasien di RSUP Sanglah, Bali. Statusnya di Dinas Kesehatan Provinsi Bali masih merupakan Pasien Dalam Pengawasan (PDP), belum positif COVID-19.

Kedutaan Besar Inggris di Jakarta mengonfirmasi pasien positif COVID-19 yang meninggal itu merupakan warga negaranya. Kasus ke-25 diketahui sempat akan menginap di Hotel Four Seasons bersama suami dan keempat anaknya. Namun, batal karena ia ditempatkan di ruang isolasi untuk dites terjangkit COVID-19 atau tidak.

Namun di sisi lain, Pemprov Bali maupun pihak RSUP Sanglah mengaku tidak mengetahui status positif pasien tersebut hingga diumumkan meninggal.

“Sampai tadi pagi meninggal dunia, dalam catatan kami di rumah sakit, pasien ini termasuk yang belum keluar hasil lab-nya. Sehingga statusnya masih dalam pengawasan. Ketika meninggal dunia, kami coba konfirmasi ke Kemenkes baru kemudian diinformasikan bahwa pasien ini kemarin salah satu yang diumumkan positif COVID-19,” ujar Sekretaris Daerah Provinsi Bali, Dewa Made Indra kepada wartawan, Rabu (11/3/2020) di Bali.



Sementara, kasus meninggal kelima merupakan satu orang suspect Corona yang meninggal di Cianjur, Jawa Barat. Ia baru dinyatakan positif terjangkit COVID-19 setelah meninggal. Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil mengatakan, pasien tersebut sempat berstatus suspect.

Pasien tersebut (50) masih berstatus suspect saat meninggal pada Selasa (3/3/2020). Pria tersebut adalah seorang warga Bekasi yang sempat menjalani perawatan di ruang isolasi Rumah Sakit Dr Hafidz (RSDH) Cianjur.

"Satu warga Cianjur meninggal dunia yang dulu disampaikan Bupati Cianjur. Data terakhir kami terima pasien positif," kata Ridwan di Gedung Pakuan, Jabar, Minggu (15/3/2020).

Ketika meninggal, Dinas Kesehatan masih menunggu hasil pemeriksaan dari Laboratorium Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.

Sehari setelah dinyatakan meninggal, juru bicara pemerintah untuk penanganan corona, Achmad Yurianto bahkan sempat menyatakan pasien tersebut negatif Corona. Namun, kini telah dipastikan D positif COVID-19.

Juru bicara Forum Peneliti Muda Indonesia atau Young Scientist Forum (YSF) Berry Juliandi menyoroti kemampuan Kemenkes dalam mengerjakan tes COVID-19 sesuai standar yaitu 1.700 tes per hari.

Pasalnya usai pasien ke-25 dan ke-35 meninggal, mereka belum sempat mendapat kejelasan statusnya yang masih dalam perawatan. Seharusnya dengan metode Reverse Transcription Polymerase Chain Reaction (RT-PCR), hasil dapat diketahui dalam waktu 24 jam.

Belajar dari sejumlah persoalan itu menurutnya Kemenkes perlu segera berbenah. Ia mencontohkan sejak kasus pertama Italia pada 31 Januari 2020, jumlahnya meningkat pesat menjadi 15.113 kasus di 13 Maret 2020.

Lalu sejak kasus pertama Iran di 12 Februari 2020, jumlahnya sudah meningkat menjadi 11.364 kasus di 13 Maret 2020. “Keterlambatan pembendungan ini bisa membuat kondisi epideminya menyerupai Italia dan Iran atau bahkan lebih,” ucap Berry yang juga dosen di Departemen Biologi Institut Pertanian Bogor (IPB).

Hingga saat ini, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sudah mengumumkan daftar 100 rumah sakit (RS) yang bisa menjadi tempat rujukan untuk perawatan masyarakat yang mengalami infeksi virus corona dan akan bertambah menjadi 132 rumah sakit.

Selain itu, Kemenkes mengklaim sudah menyiapkan 10 ribu kit dan akan ditambahkan lagi. Kemudian dari beberapa BUMN, BUMD sudah memastikan menyiapkan 15 juta masker.

Namun benarkah pemerintah siap? Mengingat masih ada tenaga medis yang menggunakan jas hujan sebagai pengganti APD dan tes Corona hanya bisa dilakukan di tiga tempat yakni, Jakarta (Puslitbangkes Kemenkes), Unair (Rumah Sakit Universitas Airlangga), dan Eijkman (Lembaga Biologi Molekuler Eijkman).

Baca juga:

Baca juga artikel terkait VIRUS CORONA atau tulisan menarik lainnya Restu Diantina Putri
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Andrian Pratama Taher & Vincent Fabian Thomas
Penulis: Restu Diantina Putri
Editor: Gilang Ramadhan
DarkLight