Siap-siap Harga Minyak Naik

Infografik Harga minyak kian melonjak
Ilustrasi sumur minyak. REUTERS/Lucy Nicholson
Oleh: Yan Chandra - 9 November 2017
Dibaca Normal 2 menit
Harga minyak sempat naik tajam, merespons perkembangan di Arab Saudi. Harga minyak diprediksi terus meninggi jika konflik terus menerus terjadi.
tirto.id - Harga minyak mentah jenis Brent naik menjadi 64 dolar per barel pada Selasa (7/10). Harga ini merupakan tertinggi sejak pertengahan 2015 lalu. Di pasar global, harga minyak terus naik setelah pemerintah Arab Saudi menangkapi pangeran dan menteri yang diduga melakukan korupsi.

Tidak hanya Brent, minyak jenis West Texas Intermediate juga menguat di atas 57 dolar per barel. Langkah penangkapan itu menguncang pasar minyak mentah dunia. Banyak pihak yang mengkhawatirkan stabilitas di negara produsen minyak terbesar kedua di dunia itu.

Pangeran dan milioner Alwaleed bin Talal merupakan salah satu di antara pangeran, menteri dan pejabat yang ditangkap oleh pangeran Mohammed bin Salman. Alwaleed baru-baru ini mengatakan dia mendukung pemangkasan produksi di negara produsen minyak terbesar itu.

Baca juga: Pangeran Alwaleed, Donald Trump Asal Saudi?

OPEC mengatakan sedang mempertimbangkan untuk memperpanjang pemangkasan produksi pada pertemuan di Wina November mendatang. Para analis energi mengatakan, ketidakpastian yang terjadi karena tindakan calon raja Saudi itu menyebabkan harga minyak jenis Brent melonjak. Padahal, pada semester pertama tahun ini, harga minyak Brent hanya 50 dolar per barel.

“Kenaikan harga itu merupakan reaksi atas ketidakpastian dari Arab Saudi,” kata Mihir Kapadi, CEO Sun Global Investment seperti dikutip the Guardian.

Selain itu, ada faktor lain yaitu pertemuan negara produsen minyak yaitu Saudi, Rusia, Kazakhtsan dan Uzbekistan akan bertemu akhir pekan ini. Mereka menyatakan akan tetap menjaga pembatasan harga minya untuk mengatasi kelebihan pasokan dan kenaikan harga.

“Negara yang berpartisipasi menyatakan kepuasannya seiring dengan penurunan cadangan minyak komersial dan menyatakan kesiapan untuk bersama membuat kebijakan ke arah ini,” kata menteri energi Rusia dalam pernyataan tertulisnya.

Tidak hanya penangkapan saja yang membuat harga minyak naik. Ketegangan di Timur Tengah juga meningkat. Pekan lalu, Perdana Menteri Lebanon yang didukung Arab Saudi mengundurkan diri. Dia menyalahkan Iran yang disebutnya menciptakan ketidakstabilan di negaranya. Arab Saudi lalu menuduh Lebanon yang didukung oleh Kelompok Hezbollah menggerakkan perang terhadapnya. Menteri Urusan Teluk Saudi Arabia Thamer a-Sabhan mengatakan pemerintahan Lebanon akan diperlakukan sebagai negara yang mendeklarasikan perang terhadap Arab Saudi.

Menurut para analis, kombinasi inilah yang merupakan faktor pendukung kenaikan harga minyak, bukan hanya satu faktor saja. Dalam hal ini, ada tambahan dukungan dari Nigeria. Menurut oilprice.com menteri perminyakan Nigeria memberi sinyal bahwa negara itu siap untuk berkontribusi terhadap pemangkasan produksi OPEC.

Harga minyak sendiri sehari kemudian mulai melandai. Pada perdagangan Rabu (8/10), harga minyak Brent ditutup turun 20 sen menjadi 63,49 dolar per barel. Hal itu terjadi setelah keluarnya data yang cukup mengejutkan soal peningkatan produksi minyak domestik AS.


Naikkan perkiraan harga

Harga minyak memang belum mencapai level tertingginya lagi, setelah mengalami kejatuhan mulai tahun 2014. Harga minyak dalam tiga tahun terakhir memang terus turun seiring melemahnya permintaan di tengah suplai yang berlebih. Namun, memasuki tahun 2017, harga minyak secara perlahan meningkat. Beberapa analis sudah menaikkan proyeksi harga untuk tahun depan.

Salah satunya adalah Morgan Stanley yang menaikkan perkiraan harga minyak hingga 2020. Alasannya, saat ini dunia memerlukan lebih banyak minyak jenis shale dari AS.

Baca juga: Menanti Titik Balik Harga Minyak di 2017

Menurut Morgan Stanley, harga rata-rata Brent akan sampai 62 dolar per barel pada kuartal terakhir ini. Naik dari perkiraan sebelumnya yang sebesar 55 dolar barel. Sementara harga rata-rata WTI 56 dolar per barel naik dari perkiraan semula yang sebesar 48 dolar per barel.

Permintaan minyak dunia terus bertambah. Sementara cadangan minyak mentah AS menurun, demikian disebutkan Morgan Stanley. Pada saat yang bersamaan, OPEC dan negara pengekspor minyak lainnya termasuk Rusia tampaknya akan memperpanjang kesepakatan untuk menjaga produksi hanya sebesar 1,8 juta barel hingga tahun depan.

Di luar OPEC, ada sedikit penambahan pasokan minyak, kecuali di AS. Untuk membuat pasar lebih seimbang, diperlukan pasokan dari kilang-kilang shale oil sekitar 5,9-7 juta barrel per hari pada tahun 2018. Jumlah ini lebih banyak dibandingkan dengan perkiraan sebelumnya. Dengan demikian diperlukan tambahan rig sebanyak 8-10 setiap bulan. Akan tetapi, para analis Morgan Stanley seperti dikutip oleh CNBC juga tidak yakin kapan hal itu akan terjadi.

Baca juga artikel terkait HARGA MINYAK MENTAH DUNIA atau tulisan menarik lainnya Yan Chandra
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Yan Chandra
Penulis: Yan Chandra
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight