Menuju konten utama

Sejarah Gempa & Tsunami di Jepang, dari Tahun 2011 hingga 2024

Jepang merupakan negara yang pernah mengalami sejumlah peristiwa gempa dan tsunami. Berikut sejarah tsunami Jepang di tahun 2011 hingga 2024.

Sejarah Gempa & Tsunami di Jepang, dari Tahun 2011 hingga 2024
Retakan jalan akibat gempa terlihat di Wajima, prefektur Ishikawa, Jepang 1 Januari 2024. FOTO/Kyodo/REUTERS

tirto.id - Dalam sejarah, Jepang merupakan negara yang pernah mengalami sejumlah peristiwa tsunami. Adapun belakangan ini sempat terjadi beberapa bencana alam tersebut, misalnya dari tahun 2011 hingga 2024.

Penyebab Jepang sering gempa dan tsunami salah satunya adalah karena lokasi negara ini yang berada di titik pertemuan Lempeng Laut Filipina dan Lempeng Samudera Pasifik. Mengutip Live Science, keduanya hingga saat ini terbilang masih aktif sehingga pergerakannya dapat menyebabkan guncangan di bagian permukaan.

Dengan kata lain, kondisi tersebut dapat menimbulkan peristiwa gempa bumi. Lebih dari itu, berpotensi juga menimbulkan gelombang laut mendadak dengan ketinggian tertentu yang disebut sebagai tsunami.

Berikut ini keterangan mengenai sejarah tsunami Jepang mulai tahun 2011 hingga 2024.

Sejarah Tsunami Jepang 11 Maret 2011

Pada 2011 silam, Jepang sempat mengalami tsunami akibat guncangan berkekuatan magnitudo 9.1 yang sumber lokasinya di Pulau Honshu. Secara rinci sumber gempa Jepang 2011 tersebut berada 130 kilometer di sebelah timur Sendai, Honshu.

Kerusakan gempa Jepang 2011 itu tidak terbatas pada guncangan, melainkan menimbulkan dampak lain lantaran mengakibatkan tsunami. Gempa dan tsunami itu terjadi pada hari yang sama, yakni tanggal 11 Maret 2011.

Sehubungan dengan itu, maka penyebab tsunami Jepang 2011 adalah peristiwa gempa bumi. Adapun gelombang air pasang tersebut terjadi di Tohoku. Kemudian, memberikan dampak juga ke 11 negara lain yang ada di sekitarnya.

Sebagaimana dikutip dari World Data, korban dampak tsunami Jepang tahun 2011 secara spesifik menyebabkan hilangnya nyawa 18.431 orang. Adapun gelombang bencana saat itu mencapai ketinggian maksimal 55.88 meter.

Setelah melewati peristiwa tersebut, Jepang tidak mengalami tsunami sepanjang 2011-2023 silam. Negara itu hanya beberapa kali memperoleh peringatan tsunami dari beberapa gempa tahun 2016, 2019, dan 2022.

Akan tetapi, peringatan-peringatan itu langsung dihapuskan karena dianggap tak akan membawa gelombang besar ke daratan.

Tsunami Jepang 2024

Gempa dan tsunami Jepang

Gerbang torii yang runtuh akibat gempa terlihat di Kuil Onohiyoshi di Kanazawa, prefektur Ishikawa, Jepang 1 Januari 2024. FOTO/Kyodo/REUTERS

Pada Senin, 1 Januari 2024, Jepang kembali dilanda gempa bumi dengan kekuatan magnitudo pengantar sebesar 7,6. Sebagaimana dikutip dari Reuters, goncangan itu dapat mengakibatkan tsunami sehingga beberapa warga disuruh mengungsi.

Sumber gempa Jepang pada hari pertama 2024 tersebut berlokasi di koordinat 37,35 derajat Lintang Utara dan 137,24 derajat Bujur Timur. Secara gamblangnya berpusat di Prefektur Ishikawa, Jepang, sekitar 45 kilometer di bawah permukaan laut.

Berhubungan dengan itu, NHK, Lembaga penyiaran publik Jepang, merilis informasi tentang peringatan tsunami yang terjadi di Ishikawa, Toyama, dan Niigata. Bahkan, sudah ada gelombang tsunami setinggi kisaran 1 meter di beberapa pantai Jepang.

Hingga saat ini, Selasa (2/1/2024), baru dikonfirmasi oleh Pemerintah Prefektur Ishikawa bahwa gempa tersebut menyebabkan korban jiwa sebanyak empat orang. Selain itu, korban material lain juga terjadi di sekitaran Wajima, Ishikawa.

Seorang pemadam kebakaran di sana mengonfirmasi terkait terbakarnya beberapa rumah kayu dan runtuhnya bangunan, sebagaimana dikutip dari Antaranews.

Kemudian, berdampak pula terhadap munculnya korban luka sebanyak 30 orang dan terganggunya transportasi umum. Sebut saja Japan Airlines dan AII Nippon Airways yang terpaksa membatalkan sebanyak 25 rencana terbangnya.

Baca juga artikel terkait TSUNAMI JEPANG atau tulisan lainnya dari Yuda Prinada

tirto.id - Sosial budaya
Kontributor: Yuda Prinada
Penulis: Yuda Prinada
Editor: Yulaika Ramadhani