Hari Pramuka 2019

Sejarah Sandi Morse dalam Gerakan Pramuka Atau Kepanduan

Oleh: Nasywa Humaira - 14 Agustus 2019
Dibaca Normal 1 menit
Sejarah Sandi Morse atau kode yang sering digunakan dalam Pramuka ditemukan oleh Samuel Morse pada 1838.
tirto.id - Sandi Morse telah menjadi bagian dari sejarah Kepanduan atau Scout Movement di seluruh dunia, termasuk gerakan Pramuka di Indonesia. Kode dalam Sandi Morse sudah perkenalkan sejak abad ke-19 Masehi.

Dikutip dari Observer, Sandi Morse dalam prosesnya telah berubah dari keterampilan atau pekerjaan menjadi kegemaran yang menyenangkan. Radio yang menerapkan Sandi Morse juga telah berkembang untuk memasukkan komunikasi suara, komunikasi data, bahkan untuk siaran.

Istilah Sandi Morse diambil dari nama belakang penemunya, yakni Samuel Finley Breese Morse alias Samuel Morse. Ia lahir di Charlestown, Massachusetts, Amerika Serikat, tanggal 27 April 1791. Selain sebagai ilmuwan atau penemu, Samuel juga dikenal sebagai pelukis yang cukup terkenal kala itu.


Sejarah Sandi Morse

Menurut NRICH, sebelum penemuan telegraf, sebagian besar pesan jarak jauh dikirim oleh kurir dengan menghafalnya atau dibawa secara tertulis. Pesan juga dapat dikirimkan melalui kode semafor (semaphore) dengan menggunakan bendera atau alat-alat lainnya.

Kemudian ada sistem mekanis yang disebut telegraf semafor. Namun, sistem ini mengharuskan penerima untuk cukup dekat melihat pengirim, kekurangannya adalah tidak dapat digunakan pada malam hari.

Telegraf memungkinkan pesan dikirim dari jarak jauh dengan sangat cepat menggunakan listrik. Telegraf komersial pertama dikembangkan oleh William Forthergill Cooke dan Charles Wheaststone pada 1837.

Mereka mengembangkan perangkat yang dapat mengirim pesan menggunakan sinyal listrik untuk meluruskan jarum kompas pada kotak yang berisi huruf-huruf alfabet.

Tahun 1838, Samuel Morse dan asistennya, Alfred Vail, mendemonstrasikan perangkat telegraf yang lebih sukses dengan menciptakan alfabet khusus untuk digunakan sebagai pengirim pesan di telegraf. Kode ini kemudian dikenal sebagai Sandi Morse.


Pesan telegraf dikirim dengan mengetuk kode untuk setiap huruf dalam bentuk sinyal panjang dan pendek. Sinyal pendek disebut dits (titik). Sinyal panjang disebut dahs (tanda hubung). Kode ini diubah menjadi impuls listrik dan dikirim melalui kabel telegraf. Penerima telegraf di ujung kabel mengubah impuls kembali ke titik dan garis, lalu menerjemahkan pesan.

Pada 1844, Samuel Morse mendemonstrasikan telegraf dengan mengirimkan pesan pertama ke Kongres Amerika Serikat dengan kode Morse, "What hath God wrought", atau “Apakah yang telah Tuhan tulis?”

Kode asli Morse tidak persis sama dengan yang digunakan saat ini, termasuk jeda serta tanda hubung dan titik. Dalam konferensi di Berlin pada 1851, ditetapkan versi internasional Sandi Morse yang digunakan hingga sekarang.

Sandi Morse dalam Pramuka

Dalam gerakan Kepanduan atau Pramuka, Sandi Morse dipelajari sebagai salah satu bentuk keterampilan. Kode ini disampaikan dengan menggunakan senter atau peluit. Peluit ditiup dengan durasi pendek untuk mewakili titik dan durasi panjang untuk mewakili garis.

Hermiaty Honggo dalam risetnya bertajuk "Rancangan Perangkat Lunak Pengkodean Sandi Morse dengan Metode BST" memaparkan, untuk menghafalkan kode ini digunakan metode dengan mengelompokkan huruf-huruf berdasarkan wakil dalam Sandi Morse-nya.


Kode yang paling terkenal dalam Sandi Morse adalah SOS, digunakan untuk memanggil bantuan, biasanya oleh pelaut di kapal yang sedang berlayar di laut lepas, jika berada dalam situasi berbahaya dan darurat.

Seorang anggota Pramuka yang memiliki kemampuan menerima dan mengirimkan Sandi Morse dengan baik berpeluang menerima penghargaan berupa Tanda Kecakapan Khusus.

Baca juga artikel terkait HARI PRAMUKA atau tulisan menarik lainnya Nasywa Humaira
(tirto.id - Sosial Budaya)


Penulis: Nasywa Humaira
Editor: Iswara N Raditya
Kontributor: Nasywa Humaira
DarkLight