Sejarah Notre Dame: Api Melalapnya, Bukan Revolusi dan Perang Dunia

Infografik kebakaran Notre Dame
Petugas pemadam kebakaran mengatasi kobaran api di Notre-Dame de Paris, Senin (15/4/2019). Michel Euler/AP
Oleh: Eka Ningtyas - 20 April 2019
Dibaca Normal 4 menit
Notre-Dame de Paris yang kebakaran memiliki sejarah panjang. Setelah Revolusi Perancis meletus, katedral ini sempat diabaikan.
tirto.id - Senin, 15 April 2019. Sekitar pukul 19.05 waktu setempat kesibukan di stasiun Saint Michel-Notre Dame terhenti sejenak. Saya dan penumpang kereta di jalur RER B, yang sebagian besar adalah mahasiswa dan pekerja, berjalan tergopoh dan panik mengikuti instruksi petugas stasiun melalui pengeras suara. Petugas memerintahkan kami menuju pintu keluar.

Kami diarahkan ke stasiun metro Clunny de Sorbonne karena semua pintu keluar di stasiun Saint Michel-Notre Dame telah ditutup. Terlihat asap membumbung tinggi ketika kami berhasil keluar stasiun. Tampak pula hilir mudik suara sirene mobil pemadam kebakaran, polisi, dan ambulans di sekitar Boulevard Saint-Michel hingga Boulevard du Palais. Orang-orang tumpah ruah di jalan dengan rasa penasaran yang sama.

Saya berjalan menyusuri Boulevard Saint Michel hingga ujung Pont de Change dan melihat hiruk-pikuk sepanjang mata memandang. Para pekerja Gilbert Joseph, toko buku yang terletak tidak begitu jauh dari Notre Dame, sibuk mengemasi tumpukan buku-buku obral di di depan pintu masuk. Kasir kafe dan restoran yang ada di sekitar Boulevard de Palais ikut sibuk melayani pembeli yang tergesa-gesa membayar.

Sementara para pesepeda maupun pejalan kaki yang menggunakan trotinette bisa dengan segera mendekati sumber keramaian. Terdengar seorang perempuan paruh baya berteriak, "Oh Mon Dieu, Oh Mon Dieu! Notre-Dame brule, Notre-Dame est en feu!" Notre-Dame terbakar.

Sedikit ragu, saya mendekati sumber keramaian di ujung Pont Saint Michel. Benar kata ibu paruh baya itu: di seberang sungai Seine, asap hitam menggumpal dan api membakar bagian tengah menara Notre Dame.

Pont Saint Michel adalah tempat paling dekat untuk melihat kejadian mengejutkan ini karena hampir semua area di île de la cité sudah ditutup untuk memudahkan proses evakuasi pengunjung dan lalu-lalang mobil pemadam kebakaran. Saya melihat tidak sedikit orang yang berdoa di tengah banyaknya orang yang sibuk mengabadikan kejadian ini.

Hari itu semua orang dari berbagai warna kulit tampak memiliki ekspresi yang beragam, namun menyiratkan perasaan yang sama: kehilangan.



Penyebab Kebakaran

Pada pukul 19.50 puncak menara, atap, dan sebagian besar bagian dalam katedral terbakar. Api dengan cepat menyebar melalui bangunan yang telah berdiri di jantung kota Paris selama lebih dari 800 tahun itu. Angin kencang membuat para petugas pemadam kebakaran berkejaran dengan api yang semakin membesar dan menghancurkan bagian bangunan yang terbuat dari kayu.

Guardian mewartakan berdasarkan laporan resmi investigator bahwa penyebab kejadian ini adalah korsleting listrik. Bencana tersebut bermula dari area atap yang sedang direnovasi yang terletak di atas bagian tengah gereja.

Perancah besar (scafolding) telah didirikan untuk mencapai struktur bangunan setinggi hampir 100 meter. Ukuran yang raksasa ini membuat lebih dari 400 petugas pemadam kebakaran harus bergerak cepat.

Pada pukul 19.20 saya melihat sebuah helikopter mengudara di dekat Notre Dame. Namun intervensi dari pesawat maupun helikopter yang membawa air tidak dimungkinkan, karena air dalam jumlah besar akan merusak struktur bangunan. Perintah spesifik yang diterapkan dalam kejadian Notre Dame adalah misi penyelamatan manusia, kemudian penyelamatan karya seni berharga.

Presiden Perancis Emmanuel Macron, dalam pidatonya di depan Notre Dame pada Senin malam, mengatakan, "Cette Cathedrale, nous la rebatirons." Katedral akan dibangun kembali. Ia berjanji proyek renovasi akan dimulai esok harinya, 16 April 2019, dan merekrut orang-orang terbaik di Perancis untuk membantu proyek ini. Macron juga menyampaikan bahwa Notre-Dame merupakan bagian dari sejarah Perancis dan bagian dari sejarah dunia.

Sementara itu Jack Lang, bekas Menteri Kebudayaan Perancis, mendorong pemerintah untuk secepatnya menyelesaikan renovasi itu. "Kita harus menyelesaikannya dalam waktu singkat, tiga tahun," katanya pada Selasa (16/4/2019) seperti dikutip Le Figaro.

Pernyataan tersebut segera ditanggapi Frédéric Létoffé, wakil presiden Groupement des entreprises de restauration des monuments historiques (GMH). Menurutnya, seperti dilaporkan C News (17/4/2019), ambisi menyelesaikan restorasi dalam tiga atau empat tahun tidak realistis karena harus melewati proses pengamanan situs terlebih dahulu. Restorasi dalam jangka waktu sepuluh hingga lima belas tahun lebih masuk akal.

Dukungan masyarakat Perancis terhadap proses restorasi Notre Dame sangat besar. Hingga Selasa (17/4/2019) malam, sebagaimana diwartakan 20 minutes, mengalir sumbangan lebih dari 3 juta euro dalam waktu kurang dari 24 jam yang terkumpul dalam situs Heritage Foundation. Organisasi ini juga berhasil menghimpun 13,7 juta euro dari penyumbang anonim, beberapa perusahaan dalam negeri, bahkan perusahaan luar negeri dari Hongaria hingga Pantai Gading.

Sementara dari dunia bisnis, Total, keluarga Arnault, dan keluarga Pinault turut menyumbang dalam jumlah yang cukup besar. Hingga Selasa malam total jumlah sumbangan mereka melebihi 600 juta euro.

Kebakaran Katedral Notre Dame
undefined

Sejarah Notre Dame de Paris

Notre-Dame memiliki arti "Perempuan Kami", sebagai bentuk penghormatan pada Maria, ibunda Yesus sang juru selamat.

Sepanjang sejarahnya, Notre-Dame kerap dijadikan tempat bagi royal wedding Kerajaan Perancis seperti pernikahan Francis II dan Marie Stuart pada 1552 dan pernikahan Henri of Naverre dengan Marguerite de Valois. Penobatan Napoleon oleh Paus Pius VII pada 1804, pernikahan Louis-Napoleon pada 1853, dan pembaptisan Louis-Napoléon Bonaparte pada 1857 merupakan beberapa peristiwa penting lain yang dilakukan di Notre-Dame.

Tapi nilai gothic dari Notre Dame tidak hanya menjadi latar belakang sejarah. Notre Dame adalah sejarah itu sendiri.

Sejak didirikan pada abad ke-12, Notre-Dame dan Kerajaan Perancis memiliki hubungan yang kuat. Relasi ini pula yang membuat Notre-Dame ikut menjadi korban dalam Revolusi Perancis. Sebelum revolusi meletus, di atas tiga pintu terdapat dua puluh tujuh patung raja-raja Perancis terdahulu dari Childebert hingga Philip II dan di antara mereka ada Pepin le Bref duduk di atas singa. Menara Notre-Dame juga dilengkapi dengan satu set lonceng dan delapan lonceng kecil. Jumlah ini berkurang setelah revolusi.

Revolusi Perancis juga berdampak pada menyebarnya sekularisme. Setelah revolusi, Notre-Dame kehilangan pamor dan dibiarkan tidak terawat. Hingga pada 1831 novelis Victor Hugo melalui karya fenomenalnya, Notre-Dame de Paris, membawa kesadaran masyarakat Perancis akan tingginya nilai historis yang dimiliki katedral itu.


Dari novel yang lebih dikenal lewat judul versi bahasa Inggrisnya, The Hunchback of Notre-Dame, itu, kita belajar bahwa Notre Dame de Paris mulai didirikan pada masa Charlemagne (abad ke-9) dan selesai sepenuhnya pada masa Philip II (abad ke-13).

Namun sulit untuk membuktikan versi Victor Hugo itu. Kalangan sejarawan Perancis masing-masing memiliki penekanan berbeda pada aktor di balik berdirinya Notre Dame. Pada akhir abad ke-14 Childebert, keturunan dari Clovis (raja pertama Perancis), memberikan donasi melalui piagam tanah di Celles, dekat Montereau-Faut-Yonne, yang ditujukan pada Mother Church of Paris. Piagam tersebut menjadi bukti tersendiri bahwa Notre-Dame dibangun oleh keturunan raja pertama Perancis.

Setelah kebakaran Senin malam, karya Victor Hugo itu menduduki peringkat pertama sebagai buku dengan pembelian terbanyak di situs belanja Amazon Perancis. Puluhan tahun sebelumnya, Quasimodo, tokoh protagonis dalam kisah cinta tragis tersebut, telah memberi inspirasi pada Eddy Marnay dan Marc Heyral untuk menulis lagu berjudul "Notre-Dame de Paris" (1952). Lagu ini kemudian dinyanyikan Édith Piaf dan begitu populer hingga hari ini.

Notre Dame dibangun dalam dalam bentuk salib Latin dan termasuk bangunan Gothic. Eksteriornya ditandai karakteristik arsitektur Goth yang mencolok, dikelilingi dinding-dinding melengkung yang dimulai dari Menara lonceng, serta didukung penyangga dari luar yang menangkal efek dorongan dari dalam.


Dalam artikel "The Clôture of the Cathedral of Notre-Dame: Problems of Reconstruction" yang dimuat di Gesta (1975), Dorothy Gillerman mencatat bahwa pada 1842, atas desakan Service des Monuments Historique, pemerintah Perancis memutuskan untuk memulihkan sepenuhnya Notre-Dame yang terbengkalai akibat revolusi. Pemerintah lalu menunjuk Jean-Baptiste Lassus dan Viollet le-Duc sebagai arsitek yang akan memimpin proses renovasi (hlm. 41-61).

Sejak pertengahan abad ke-19, Notre-Dame lebih banyak menarik minat pengunjung jika dibandingkan dengan istana Louvre, Bourse, Pantheon, atau Madeleine. Sangat disayangkan, meski Notre-Dame berhasil selamat dari Perang Dunia I dan II, ia tidak dapat diselamatkan dari kebakaran.

==========

Eka Ningtyas adalah alumnus Program Studi Ilmu Sejarah Universitas Gadjah Mada dan pengajar di Universitas Negeri Yogyakarta. Saat ini sedang menyelesaikan studi doktoral di Institut National des Langues et Civilisations Orientales (INALCO), Paris.

Baca juga artikel terkait SEJARAH DUNIA atau tulisan menarik lainnya Eka Ningtyas
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Eka Ningtyas
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight