Sejarah Megawati dan Prabowo: Sesekali Akur, Kadang Renggang

Infografik Pasang Surut Mega Pro
Megawati Soekarnoputri menerima Prabowo Subianto di kediaman Jalan Teuku Umar, Jakarta, Rabu (24/7/2019). tirto.id/Bayu Septianto
Oleh: Petrik Matanasi - 25 Juli 2019
Dibaca Normal 3 menit
Prabowo dan Megawati bersekutu dalam Pilpres 2009. Mereka bersimpang jalan pada 2014 dan Mega dianggap melanggar perjanjian.
tirto.id - Sumitro Djojohadikusumo dan Sukarno adalah dua politikus yang tak akur setelah dekade kedua 1950-an. Saat itu Sumitro memilih tak di Jakarta dan ikut serta dalam PRRI di Sumatra. Sumitro baru kembali ke Jakarta setelah Sukarno lengser dari kursi kepresidenan. Di masa Orde Baru, Sumitro tak menunjukkan diri lagi sebagai musuh Sukarno. Anak-anak Sumitro dan Sukarno pun tak terjebak dalam permusuhan orang tua mereka.

Pemilihan Presiden (Pilpres) 2009 adalah tahun penting dari hubungan keluarga Sukarno dan Sumitro. Ada pasangan Mega-Pro yang maju sebagai calon presiden dan wakil presiden waktu itu. Mega-Pro tentu mudah diingat orang, karena itu adalah salah satu merek sepeda motor rilisan Honda yang beredar luas di Indonesia.

Mega adalah Megawati Soekarnoputri, putri tertua Sukarno; dan Pro maksudnya Prabowo Subianto Djojohadikusumo, putra tertua Sumitro. Prabowo Subianto yang pernah jadi bagian daripada keluarga Soeharto tampaknya kurang disukai suami Megawati, Taufiq Kiemas (TK).

“TK sebetulnya tidak keberatan bila istrinya berkoalisi dengan Prabowo,” tulis Derek Manangka dalam Jurus & Manuver Politik Taufiq Kiemas (2013: 69).

Sementara Tjipta Lesmana dalam Bola Politik dan Politik Bola (2013: 178) menyebut, “Prabowo sejak awal rupanya ngotot mau menjadi orang nomor satu melalui tiket (koalisi) Prabowo-Mega.”

Pada akhirnya Prabowo harus mengalah dan membiarkan Megawati jadi "nomor satu" untuk sementara waktu.

Inilah koalisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang mengusung Mega dan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) pengusung Prabowo. Dua pihak ini bahkan pernah mengikat diri dalam Perjanjian Batu Tulis yang diteken pada 16 Mei 2009 di Jakarta.

Poin pertama perjanjian itu membicarakan tentang siapa yang akan jadi presiden atau wakil presiden. Poin kedua dan ketiga membahas tentang langkah-langkah yang dilakukan jika pasangan ini menang. Poin keempat: dua kubu berikrar akan saling dukung program partai.

Poin kelima dan keenam bicara soal bagaimana koalisi ini menghadapi Pilpres 2009. Poin kelima menyebut: "Pendanaan pemenangan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden 2009 ditanggung secara bersama-sama dengan presentase 50% dari pihak Megawati Soekarnoputri dan 50% dari pihak Prabowo Subianto.” Poin keenam bicara soal tim sukses. Bunyinya: "Tim sukses pemenangan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden 2009 dibentuk bersama-sama melibatkan kader-kader PDI Perjuangan dan Partai Gerindra serta unsur-unsur masyarakat."

Poin ketujuh bukan lagi bicara soal bagaimana melangkah menuju kemenangan dan menjalani kemenangan Pilpres 2009, tapi sudah jauh ke depan. Bunyi poin ketujuh itu adalah: "Megawati Soekarnoputri mendukung pencalonan Prabowo Subianto sebagai calon presiden pada Pemilu Presiden tahun 2014."

Dalam Pilpres 2009 kubu Mega-Prabowo berhadapan dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Boediono dan Jusuf Kalla (JK)-Wiranto. Pencoblosannya dilakukan pada 8 Juli 2009. SBY-Boediono dapat 73.874.562 suara (60,8 persen), Mega-Prabowo dapat 32.548.105 suara (26,79 persen), dan JK-Wiranto cuma 15.081.814 suara (12,41 persen). Artinya SBY-Boediono menang, sementara Mega-Prabowo dan JK-Wiranto kalah dalam “perang jenderal” berwujud pilpres itu.


Dari Pilkada DKI hingga Demo Berjilid-Jilid

Mega-Pro boleh kalah pada 2009 dan gagal masuk Istana Negara, namun mereka bersatu kembali pada 2012 dalam Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jakarta. Kubu Mega dan Prabowo mengusung pasangan Joko Widodo (Jokowi) dan Basuki Tjahaja Purnama (BTP) alias Ahok sebagai calon gubernur dan calon wakil gubernur Jakarta. Pasangan ini menang, mengalahkan petahana Fauzi Bowo. Sebagian kalangan menganggap keduanya sukses membangun Jakarta.

Pamor Jokowi naik di pentas nasional. Tak heran, Jokowi kemudian maju menjadi calon Presiden RI pada 2014. Jokowi yang kader PDIP didukung oleh Megawati. Di kubu lain, Prabowo pun juga hendak maju sebagai calon presiden. Mega yang menjagokan Jokowi lalu dianggap mengkhianati Perjanjian Batu Tulis 2009, terutama poin ketujuh. Kekalahan 2009 tak bikin Megawati ambil pusing soal poin ketujuh itu. Koalisi Mega-Prabowo pun bubar.

Bersalah atau tidak, Megawati nyatanya terus memajukan Jokowi, yang berpasangan dengan JK, sebagai calon presiden dalam Pilpres panas 2014 itu. Prabowo saat itu berpasangan dengan Hatta Rajasa, politikus Partai Amanat Nasional (PAN). Di kubu Prabowo, terdapat pula adik perempuan Megawati, yakni Rachmawati Soekarnoputri. Belakangan Rachmawati menjadi salah satu anggota Dewan Pembina Gerindra.



Pemenang Pilpres 2014 adalah Jokowi-JK. Prabowo dan pendukungnya jadi oposisi selama lima tahun. Sentimen akar rumput para pendukung Prabowo pun terus menggema dalam menyerang kubu Jokowi. Antara 2014 hingga 2019 adalah tahun-tahun panas pertarungan antara pendukung Prabowo dengan Mega dan Jokowi. Jokowi dianggap satu paket dengan Megawati, bahkan Jokowi dianggap pula sebagai “petugas partai” dalam tahun-tahun tersebut.

Perseteruan Prabowo melawan Mega dan Jokowi salah satunya terlihat dalam usaha mendongkel Ahok sebagai Gubernur DKI Jakarta, setelah tuduhan penistaan agama terhadap Ahok menjadi ramai pada 2016. Kelompok Islam politik yang anti-Jokowi melakukan demo berjilid-jilid di sekitar Monas dan Istana Negara.


Dalam Pilgub DKI Jakarta 2017, perseteruan itu memuncak. Kali ini kubu Prabowo jadi pemenang dengan terpilihnya Anies Baswedan, yang berpasangan dengan Sandiaga Salahudin Uno (Sandi), sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta.

Pada Pilpres 2019 Jokowi dan Prabowo bertemu lagi. Kali ini dengan calon wakil presiden yang berbeda. Prabowo bersama Sandi, yang belum lama jadi wakil gubernur dan relatif muda sehingga ada harapan untuk menyerap suara generasi milenial. Jokowi yang makin mapan citranya memilih K.H. Ma’ruf Amin. Pilihan Jokowi dianggap sebagai cara menarik dukungan dari orang-orang Islam. Sebelum 2018, kelompok Islam politik dianggap sebagai lawan utama kubu Mega dan Jokowi.

Parabowo kalah lagi dalam Pilpres 2019. Tak lama setelah Pilpres 2019, terjadi kerusuhan yang menolak terpilihnya Jokowi. Tapi Prabowo kemudian memilih legowo. Pertemuan Jokowi-Prabowo pun terjadi di dalam MRT Jakarta.

Tak lama seusai pertemuan MRT itu, pada Rabu (24/7/2019) kemarin, Prabowo mengunjungi kediaman Megawati. Mereka tampak akrab, penuh senyum, dan makan siang bersama. Setelah melewati tahun-tahun yang panas, anak Sukarno dan anak Sumitro itu terlihat mesra lagi.

Baca juga artikel terkait PERTEMUAN MEGAWATI-PRABOWO atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Politik)


Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight