Sejarah Keluarga Jokowi: dari Lurah, Pedagang, hingga Politikus

Jokowi menggendong Jan Ethes bersama Gibran Rakabuming Raka usai menjenguk Selvi Ananda di RS PKU Muhammadiyah Surakarta. ANTARA/Aris Wasita
Oleh: Petrik Matanasi - 29 Februari 2020
Dibaca Normal 3 menit
Kakek dan buyut Jokowi adalah lurah, sementara ayahnya merupakan pedagang. Jokowi tak hanya berdagang, tapi juga berpolitik ke jenjang yang lebih tinggi.
Setelah tentara Belanda benar-benar angkat kaki pada 1949, kolonialisme gaya lama menghilang dari Indonesia. Pada masa sesudahnya, di Kragan, sebuah desa di Kabupaten Karanganyar, Lamidi Wirjo Mihardjo bin Mangun Dinomo menjadi lurah. Lamidi sebetulnya anak lurah juga. Ayah Lamidi, Mangun Dinomo, adalah lurah desa Giritirto, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali.

Seperti disebut Wawan Mas'udi dan Akhmad Ramdhoni dalam Jokowi dari Bantaran Kalianyar ke Istana (2018: 12), Lamidi menjadi lurah desa sejak 1950-an sampai periode Orde Baru (pertengahan 1980-an). Buku tersebut menyebut Lamidi sebagai sosok pemimpin yang melayani rakyat desanya. Lamidi adalah lurah dongkol alias lurah seumur hidup. Sepanjang hidupnya dia pernah kawin tiga kali. Dari istri pertamanya lahirlah Widjiatno Notomihardjo.

Sebagai anak kepala desa, Notomihardjo bisa hidup lebih nyaman ketimbang warga desa lainnya. Ketika masih SMA, Notomihardjo kerap membonceng pacarnya yang masih SMP dengan sepeda motor pabrikan Birmingham Small Arms (BSA). Gadis yang diboncenginya pada 1950-an itu adalah Sudjiatmi. Seingat Sudjiatmi dalam Saya Sujiatmi, Ibunda Jokowi (2014: 21) yang ditulis Kristin Samah dan Fransisca Ria Susanti, meski pendiam, Widjiatno Notomihardjo cukup percaya diri jika sedang mengalunkan lagu-lagu keroncong dan suaranya tidak jelek.

Jika Widjiatno berasal dari keluarga lurah, maka Sudjiatmi berasal dari keluarga pedagang. Ayah Sudjiatmi yang bernama Wiroredjo, yang tinggal di dukuh Gumukrejo, Giritirto, adalah pedagang kayu dan bambu. Ibu Sudjiatmi bernama Sani.

Sudjiatmi dan Widjiatno kemudian menikah di usia muda pada 23 Agustus 1959. Kala itu Sudjiatmi berusia 16 tahun (kelahiran 15 Februari 1943) dan Widjiatno berusia 19 tahun (kelahiran 30 Desember 1940). Widjiatno kemudian mengambil jalan yang ditempuh mertuanya: menjadi pedagang. Pasangan suami-istri itu kemudian hijrah ke Solo.

Pasangan ini pernah tinggal di Cinderejo Lor, sebuah kampung yang dicap "merah" di era Sukarno. Di Kampung Tirtoyoso, Manahan, Solo, Sudjiatmi dan Widjiatno pernah punya usaha penggergajian kayu. Jika usaha kayu sedang lesu, Sudjiatmi tak segan berdagang bambu. Selain bergadang, kursus merias pengantin pun dilakoninya.

Keluarga ini juga pernah tinggal di sekitar Kali Pepe dan Kalianyar. Sebagai keluarga biasa, seperti dicatat Wawan Mas'udi dan Akhmad Ramdhoni (hlm. 51), mereka pernah menjadi keluarga tergusur. Mereka pindah dari satu kontrakan ke kontrakan lain. Di Solo, satu persatu anak Widjiatno dan Sudjiatmi lahir. Mulai dari Joko Widodo, Iit Sriyantini, Ida Yati, dan Titik Relawati. Satu anak laki-laki, Joko Lukito, meninggal dalam persalinan.

Anak tertuanya, Joko Widodo, melampaui tingkat pendidikan bapak-ibunya dan berhasil masuk Jurusan Teknologi Kayu Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada. Joko Widodo kemudian dikenal sebagai Jokowi. Jokowi menikah dengan Iriana pada 1986. Saat mereka menikah, Iriana sedang berkuliah di Universitas Muhammadiyah Surakarta. Nama Iriana diberikan kakeknya, seorang guru di Papua, dan diambil dari nama lama Papua, Irian Jaya.

Solo sejak lama dicap sebagai "kota merah". Banyak orang diciduk pada 1966 karena dituduh sebagai bagian dari Partai Komunis Indonesia (PKI). Bahkan sungai Bengawan Solo sempat banjir darah di masa itu. Widjiatno tidak kena ciduk aparat Orde Baru, yang dikenal tanpa ampun menyikat siapa saja punya hubungan dengan PKI.

Meski tak kena ciduk dan tidak menjadi tahanan politik (tapol) karena ada kaitan dengan PKI, menjelang kampanye Pipres 2014 dan Pilpres 2019, kala anaknya maju sebagai capres, Notomihardjo, yang sudah tutup usia pada 23 Juli 2000, diisukan terkait gerakan terlarang G30S. Ada yang menyebut Widjiatno pernah menjadi komandan Organisasi Perlawanan Rakyat (OPR) Boyolali sekitar 1965—masa ketika Widjiatno berbisnis penggergajian kayu.



Widjiatno tak bebas dari politik. Dia pernah menjadi aktivis Partai Demokrasi Indonesia (PDI). “Ayahnya pernah jadi ketua Satgas PDIP, di mana saya ketua DPC PDIP,” kata F.X. Hadi Rudyatmo, Wali Kota Surakarta, seperti dicatat dalam Jokowi - Spirit Bantaran Kali Anyar (2013: 93).

Partai ini merupakan fusi dari Partai Nasional Indonesia (PNI), Partai Kristen Indonesia (Parkindo), Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI), Partai Murba, dan Partai Katolik di masa Orde Baru. Seperti PNI dan PKI, meski ideologinya berbeda, PDI juga punya warna dasar merah. Jadi wajar jika Solo "merah" lagi di zaman Orde Baru. Solo yang dikenal merah itu kerap menjadi bahan untuk menjatuhkan Jokowi dengan cap PKI yang tidak jelas kebenarannya.

Seperti dicatat Alberthiene Endah dalam Jokowi Menuju Cahaya (2019: 48), setelah lulus dari UGM dan sempat bekerja di Kertas Kraft Aceh, Jokowi terjun ke dunia industri perkayuan. Nama perusahaannya CV Rakabu. Dia lalu dikenal sebagai pengusaha mebel dan pernah menjadi ketua Asosiasi Mebel.

Seperti ayahnya, Jokowi juga ikut partai yang berwarna merah, yaitu PDI Perjuangan (PDIP), penerus PDI yang dulu diikuti ayahnya. Bersama partai ini, Jokowi berhasil menjadi Wali Kota Solo pada 2005. Kesuksesan Jokowi memindahkan pedagang PKL di Solo tanpa berujung bentrokan dipuji banyak orang dan kemudian menjadi modalnya untuk maju ke jenjang politik yang lebih bergengsi. Pada 2010 dia terpilih lagi menjadi Wali Kota Solo, tapi tidak menyelesaikan masa jabatannya karena berhasil menang dalam pemilihan Gubernur DKI Jakarta. Posisi gubernur juga tak dirampungkannya, karena dia maju dan sukses menjadi Presiden Republik Indonesia pada 2014.

Dengan menjadi pimpinan sebuah wilayah, Jokowi sebetulnya meneruskan apa yang dilakukan kakek dan buyutnya yang menjadi lurah. Sebelumnya dia menjalani apa yang dilakukan ayahnya dengan menjadi pengusaha perkayuan.

Jalan hidup yang telah ditempuh Jokowi pun coba dilakoni anak sulungnya, Gibran Rakabuming Raka. Gibran, yang sudah melakoni pekerjaannya sebagai pengusaha katering, kini hendak mencoba maju dalam pemilihan Wali Kota Solo. Dia mendaftar sebagai bakal calon lewat partai yang dulu mengusung ayahnya, PDIP.

Baca juga artikel terkait SEJARAH KELUARGA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight