Sejarah Keluarga Barack: Pengusaha Turun-temurun dari Kalimantan

Reino Barack. Instagram/@reinobarack
Oleh: Petrik Matanasi - 22 Januari 2020
Dibaca Normal 2 menit
Sejak awal, keluarga besar Barack banyak yang menjadi pengusaha.
Bersama lima orang kawannya dari kampung halaman di Kalimantan Selatan, Samsoedin Barack merantau ke Kalimantan Timur. Mereka pergi dengan naik perahu layar. Di perantauan, yaitu di sekitar Samarinda, ia berniaga.

Sebagai kota perniagaan, Samarinda dan sekitarnya yang berada di bawah kekuasaaan Kesultanan Kutai, mulanya dikembangkan oleh orang-orang Bugis. Samsoedin Barack, menurut Agus Suprapto dalam Perang Berebut Minyak (1996:43-44) adalah pedagang antarpulau yang memasok sejumlah barang yang dibutuhkan oleh Kesultanan Kutai.

Bisnis Samsoedin Barack diteruskan oleh putranya yang bernama Muhammad Barack. Menurut Hamdani dan Untoro Raja Bulan dalam Kampoeng HBS: Kampung Pejuang dan Saudagar (2005:19), Muhammad Barack menikah dengan Maryam dan memiliki lima anak, yaitu Ali Barack, Aluh Ayu, Aluh Bintang, Sari Bulan, dan Ahmad Barack.

Ali dan Ahmad terjun juga ke dunia dagang. Mereka meneruskan jejak Samsoedin dan Muhammad. Seperti dicatat kedua buku tersebut, Ali bersama para pedagang pribumi lainnya kemudian bersekutu dalam Handel Maatschappij Borneo Samarinda (HBS). Organisasi dagang ini didirikan pada 14 November 1908 dengan akte notoris Benjamin ter Kuille nomor 76.

Dari sini kemudian muncul kampung HBS di sekitar Pasar Pagi. Usaha Ali berkembang dengan diberikannya konsesi lahan pertanian di daerah Sungai Pinang Karang Asam oleh Kesultanan Kutai. Konsesi tersebut mendapat restu dari Residen Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur.

Bisnis HBS berkembang hingga ke Singapura, Belanda, dan Jerman. HBS juga terkait dengan beberapa kehidupan sosial dan politik di Samarinda, salah satunya dalam pendirian Sarekat Islam (SI) pada 1913 di kota tersebut. Pada tahun 1940-an, pengaruh HBS mulai melemah.


Omar Barack Membenci Belanda

Menurut Hamdani dan Untoro, penyebab kemunduran itu adalah karena pemerintah kolonial Belanda melarang HBS melakukan ekspor barang. Sikap pemerintah kolonial itu tentu saja tidak disukai oleh keluarga Barack, salah satunya Omar Barack. Ia adalah anak Achmad dari pernikahannya dengan Hajjah Sa'diah binti Haji Moch. Hasan.

Pada tahun 1939, Omar belajar di Universitas Waseda, Jepang. Ketika Negeri Matahari Terbit mulai menyerang Hindia Belanda, Omar dijadikan penyiar radio Tokyo.

”Suaranya menggelagar untuk membangkitkan semangat nasionalisme anti-Belanda yang menginjak-injak martabat bangsa Indonesia dan umat Islam [...] Bertahun-tahun ia memendam kecewa terhadap perlakuan pemerintah Hindia Belanda yang sewenang-wenang terhadap pengusaha pribumi di Samarinda,” tulis Agus Suprapto (1996:43).

Seperti para pendahulunya, pemuda kelahiran Samarinda 13 April 1917 itu kemudian menggeluti dunia bisnis. Pada 1953, seperti terdapat dalam Suka Duka Pelajar Indonesia di Jepang: Sekitar Perang Pasifik 1942-1945 (1990:164), Omar merintis joint venture dengan perusahaan Jepang di bidang kayu.

”Kegiatan dalam hubungan bisnis dengan pihak Jepang dilakukan dan diteruskan juga oleh putra kami, Rosano Barack, salah satu pimpinan PT Bimantara. Rosano tamatan Waseda University,” ungkapnya.

Omar menikah dengan perempuan Jepang yang kemudian memakai nama Aisyah. Dari perkawinan itu lahir: Rosita, Rosano, dan Rossana. Semunya menyandang nama belakang Barack.

Seperti Omar dan para leluhurnya, Rosano yang lahir pada tahun 1953, juga menjadi pengusaha. Sementara Rosita dinikahi pengusaha media, Surya Paloh, pada tahun 1984.



Rosano Barack dan Bambang Trihatmodjo

Rosano menjalani masa kecilnya di Jakarta. Ia sekolah di SD Cikini dan berkawan dengan Bambang Trihatmodjo, anak daripada Soeharto. Setelah dewasa, keduanya berbisnis. Bersama dengan Mochamad Tachril Sapi`ie, mereka mendirikan PT Bimantara Citra pada 30 Juni 1981 yang kemudian menjadi PT Global Mediacom.

”Rosano Barrack alias Cano, salah seorang pemegang saham inti kelompok Bimantara milik Bambang Trihatmodjo,” tulis George Junus Aditjondro dalam Dari Soeharto ke Habibie (1998:50).

Sintong Panjaitan dalam biografinya yang bertajuk Sintong Panjaitan: Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando (2009:356), menceritakan bahwa ketika dirinya menjadi Panglima Kodam Udayana—membawahi Timor-Timur, Nusa Tenggara, dan Bali—pernah didatangi Bambang dan Rosano. Keduanya ingin berbisnis di Bali. Kepada Bambang, Sintong berpesan agar hati-hati, karena jika Soeharto jatuh, banyak orang akan meninggalkannya.

Selain PT Global Mediacom, perusahaan lain yang dimiliki oleh Rosano adalah PT Plaza Indonesia Realty, Hotel Grand Hyatt, dan berbagai bisnis lainnya.

Rosano menikah dengan Reiko dan dikaruniai dua orang anak, yaitu Reino Ramaputra Barack dan Rangga Maya Barack. Reino adalah orang di balik kesuksesan Bima Satria Garuda dan JKT48.

Kedua menantu Rosano dan Reiko merupakan orang yang berkecimpung di dunia hiburan. Rangga Maya Barack menikah dengan Garreth Evans, sutradara film laga Merantau (2009) dan The Raid. Sementara Reino menikah dengan Syahrini alias si Jambul Khatulistiwa.

Baca juga artikel terkait ORDE BARU atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Bisnis)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Irfan Teguh
DarkLight