Menuju konten utama

Respons Serius WHO Soal Corona Sudah Masuk Prancis pada Akhir 2019

WHO mendorong investigasi untuk mengusut kasus-kasus awal penularan virus corona dilakukan di banyak negara. Seruan WHO itu merespons temuan baru dari Prancis.

Respons Serius WHO Soal Corona Sudah Masuk Prancis pada Akhir 2019
Ilustrasi Virus Corona. FOTO/iStockphoto

tirto.id - Badan Kesehatan Dunia (WHO) merespons serius laporan baru yang menunjukkan kasus penularan virus corona (Covid-19) di Prancis sudah terjadi pada Desember 2019. WHO menduga hal serupa mungkin ditemukan di negara lain.

Juru Bicara WHO Christian Lindmeier mendorong negara-negara lainnya melacak kasus awal infeksi corona di wilayah masing-masing, dengan memeriksa dokumen pasien pneumonia yang dilaporkan pada akhir 2019.

Menurut Lindmeier, temuan di Prancis sangat penting untuk memberikan gambaran lebih terang mengenai awal pandemi corona dan perkembangannya. Oleh karena itu, kata dia, investigasi yang sama di negara-negara lain sangat penting dilakukan.

"[Temuan] ini memberikan gambaran yang sama sekali baru tentang segala hal," kata Lindmeier dalam briefing PBB di Jenewa, merespons temuan di Prancis.

"Temuan ini membantu pemahaman lebih baik soal sirkulasi virus Covid-19," tambah dia, seperti dilansir The Guardian pada 5 Mei 2020.

Kasus Covid-19 pertama tercatat dilaporkan pemerintah China ke WHO pada 31 Desember 2019. Sementara tes ulang yang dilakukan sebuah rumah sakit di Prancis terhadap sejumlah sampel dari pasien pneumonia yang dirawat akhir tahun lalu menunjukkan sudah ada pasien positif Covid-19 di negara itu yang menjalani perawatan pada 27 Desember 2019.

Temuan yang diungkapkan Profesor Yves Cohen, dokter Rumah Sakit Avicenne di Bobigny, Paris itu memunculkan dugaan bahwa virus corona sudah menyebar di Eropa lebih awal sebulan dari waktu pengumuman resmi kasus pertama di Prancis dan negara-negara di benua biru lainnya.

Apalagi, Yves Cohen memperkirakan pasien berusia 43 tahun itu sudah terpapar virus corona pada waktu antara tanggal 14-22 Desember 2019. Perkiraan itu didasari asumsi bahwa gejala Covid-19 muncul pada 5-14 hari setelah infeksi.

Pasien bernama Amirouche Hammar itu dirujuk ke Rumah Sakit Avicenne pada 27 Desember 2019 dengan gejala batuk kering, demam dan sesak napas. Tiga gejala ini merupakan indikasi paling umum dari infeksi virus corona.

Menariknya, pasien yang saat ini telah sembuh itu tidak mengetahui dari mana ia tertular. Dia juga mengaku tidak pernah melakukan perjalanan ke luar negeri sebelum sakit, demikian dikutip dari BBC. Sementara 2 anak Hammar juga jatuh sakit, meski istrinya tidak mengalami gejala infeksi.

Sekalipun begitu, berdasarkan keterangan dokter Yves Cohen, istri pasien bekerja di supermarket dekat Bandara Charles de Gaulle, Paris.

Hal ini membuat Cohen menduga istri pasien terpapar virus corona dari mereka yang baru tiba dari China. Sebab, istri pasien mengaku kerap melayani orang yang baru mendarat di bandara. Namun, ia heran istri pasien justru tidak mengalami gejala sakit Covid-19.

Kementerian Kesehatan Prancis menyatakan sedang berupaya mengonfirmasi validitas temuan itu dan mempertimbangkan penyelidikan lebih lanjut apabila diperlukan.

Sedangkan Ahli Epidemiologi Pemerintah Swedia, Anders Tegnell menilai temuan di Prancis tidak mengherankan. Dia menduga ada sejumlah orang dari Wuhan yang sudah terinfeksi melakukan perjalanan ke Eropa pada sekitar November atau Desember 2019. Dia menganggap pola transmisi seperti itu merupakan sesuatu yang sangat mungkin terjadi.

Menurut Tegnell, yang lebih menarik untuk diinvestigasi adalah bagaimana awal mula virus corona menyebar di China. Alasan dia adalah saat ini perlu diketahui bagaimana "perilaku" virus corona pada tahap awal penyebarannya.

"Apakah ia menular dari hewan ke manusia, atau ia menyebar ke sekelompok orang dalam periode yang lebih panjang," kata Tegnel seperti dikutip dari media yang berbasis di Swedia, The Local.

Tegnell berpendapat pengetahuan lebih dalam mengenai awal penyebaran virus corona bermanfaat untuk mengetahui peluang manusia bertahan melawan perkembangan penyakit ini di masa depan.

"Tak banyak contoh di mana kita dapat melacak penularan virus yang benar-benar baru dari hewan ke manusia. Kita belum mempunyai banyak pengetahuan tentang bagaimana hal ini terjadi dalam kenyataannya," jelas Tegnell.

Baca juga artikel terkait CORONA atau tulisan lainnya dari Addi M Idhom

tirto.id - Kesehatan
Penulis: Addi M Idhom
Editor: Agung DH