Relasi PT RUM & Sritex: Menyembunyikan Bau dari Hidung Sendiri

Oleh: Dea Chadiza Syafina - 29 Oktober 2018
Dibaca Normal 4 menit
Sritex mengelak dikaitkan PT RUM, pabrik serat rayon yang membuang limbah bau busuk di Sukoharjo. Tapi, relasi keduanya sulit dibantah.
tirto.id - Menyebut nama PT Rayon Utama Makmur (PT RUM) adalah juga menyinggung nama besar HM Lukminto sebagai pendiri PT Sri Rejeki Isman Tbk alias Sritex. PT RUM adalah anak usaha Sritex yang memproduksi serat rayon atau kapas sintetis untuk memasok kebutuhan garmen Sritex. Sejak awal didirikan, PT RUM ditargetkan mampu memproduksi 80 ribu ton serat rayon per tahun.

Presiden Direktur Sritex Iwan Setiawan Lukminto bahkan hadir dalam peletakan batu pertama pembangunan PT RUM di Desa Plesan, Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo, pada 26 November 2012. Narasi profil perusahaan via YouTube menyebut PT RUM adalah "wujud impian" Lukminto, yang ingin mengintegrasikan industri tekstil dari hulu sampai hilir.

Meski jejak pemberitaan dan narasi internal menunjukkan relasi PT RUM dan Sritex, tetapi sesudah ada kasus pencemaran limbah cair dan udara PT RUM, yang beroperasi sejak November 2017, Sritex mengelak dikaitkan dengan PT RUM. Sritex tidak mengakui PT RUM adalah anak usahanya.

Kepada Tirto, Iwan Setiawan Lukminto melalui juru bicara perusahaan menyatakan PT RUM dimiliki oleh keluarga Lukminto, tanpa memiliki keterkaitan dengan Sritex. “SRIL (kode saham Sritex di BEI) dengan RUM tidak ada hubungan secara struktural. SRIL tidak memiliki saham sama sekali di PT RUM,” jelas Iwan melalui pesan singkat.

Menurut Iwan, baik modal, operasional, dan operator PT RUM tidak terkait dengan SRIL. Bantahan ini juga disampaikan oleh Sekretaris Perusahaan Sritex Welly Salam, medio Februari 2018. Saat itu skandal pencemaran limbah PT RUM berujung protes warga sekitar pabrik yang berujung ricuh dan memicu penangkapan sejumlah warga. Ketujuh warga divonis 3 sampai 4 tahun penjara pada Agustus 2018 dan dikuatkan oleh putusan Mahkamah Agung pada medio Oktober kemarin.


“Bukan SRIL yang terlibat, tapi RUM. Dan RUM adalah perusahaan yang dimiliki oleh pemegang saham SRIL, keluarga Lukminto. Jadi RUM tidak masuk dalam struktur SRIL,” ujar Welly seperti dilansir Bisnis Indonesia.

Welly mengklaim "ada persepsi keliru" di kalangan masyarakat tentang pendirian PT RUM, yang tidak menggunakan belanja modal dari Sritex. “Yang investasi keluarga Lukminto,” tambah Welly.

Keterangan dari manajemen teras Sritex bagaimanapun bertentangan dengan video profil perusahaan Sritex pada 2016 dan 2018, yang bisa diakses melalui saluran YouTube. Di situ menyebutkan PT RUM adalah salah satu dari lusinan anak usaha yang dimiliki Sritex.

Tayangan video itu merinci masing-masing nama anak usaha Sritex, di antaranya PT Adi Kencana Mahkota Buana, PT Senang Kharisma dan PT Sari Warna Asli I (semuanya di Karanganyar), PT Rayon Utama Makmur dan PT Citra Busana Semesta (Sukoharjo), PT Sari Warna Asli III dan PT Primayudha Mandiri Jaya (Boyolali), PT Sinar Pantja Djaja dan PT Bitratex Industries (Semarang), PT Sari Warna Asli V (Kudus), PT Sari Warna Asli Garment (Solo), PT Dasar Rukun (Bogor), dan PT Sinar Central Sandang (Tangerang).


Beragam bentuk ekspansi bisnis PT RUM pun selalu diumumkan oleh jajaran direksi Sritex. Contohnya saat PT RUM berencana membangun pabrik pengolahan rayon dan membuat perkebunan eukaliptus di lahan seluas 80 hektare di Sukoharjo, Jawa Tengah, pada Juni 2015. Dalam kesempatan itu Wakil Direktur Utama Sritex Iwan Kurniawan Lukminto mengatakan ekspansi bisnis akan menelan biaya hingga 300 juta dolar AS.

Dengan ekspansi ini, Sritex berharap dapat memenuhi kebutuhan serat rayon domestik dan global. Sebabnya, baru ada dua produsen kapas sintetis di Indonesia, itu pun dari penanaman modal asing, masing-masing dari India dan Austria. Pengembangan bisnis ritel berupa pabrik serat rayon diharapkan menambah laba Sritex sekaligus menjadikan Sritex sebagai perusahaan tekstil dan garmen terintegrasi dari hulu hingga hilir.

“Keluarga Lukminto ingin menjadi produsen rayon ketiga terbesar di Asia Tenggara,” ucap Iwan Kurniawan Lukminto saat itu.


Infografik HL Indepth Rayon Utama Makmur

Bisnis Sritex: Pemasok Seragam Militer & Merek Fesyen Terkenal

Sri Rejeki Isman Tbk alias Sritex memang telah menjelma dari toko kain kelontong di Pasar Klewer, Solo, menjadi pabrik tekstil dan garmen terbesar di Asia Tenggara. Pada 1992, pabrik Sritex berekspansi dan memiliki empat lini produksi: pemintalan benang, penenunan, finishing dan pakaian siap pakai. Pada tahun yang sama, Sritex memproduksi perlengkapan seragam militer untuk Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Pada 1995, di masa akhir rezim Orde Baru, pemogokan buruh PT Sritex di Sukharjo dilawan kekerasan oleh aparat keamanan. Salah satu tokoh pro demokrasi terkenal saat itu adalah Wiji Thukul, penyair rakyat yang dihilangkan oleh rezim Soeharto pada 1998. Saat memimpin aksi pemogokan buruh, sebelah mata Thukul nyaris buta karena poporan senjata. Kelopak mata kanannya robek, retinanya terganggu. Ia beberapa kali menjalani perawatan di Rumah Sakit Mata Dr. Yap di Yogyakarta.


Selain seragam militer, Sritex membantu mengembangkan Hovercraft milik TNI Angkatan Darat (AD), serta tenda dan ransel militer. Produksi seragam militer TNI mencapai 1,2 juga potong setiap tahun. Dua tahun berselang, di pabrik yang kini berkembang dengan luas mencapai 100 hektare, Sritex memproduksi seragam militer untuk 30 negara lain di dunia, termasuk untuk pasukan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).

Sritex menjadi satu-satunya pemegang lisensi di Asia yang berhak memproduksi seragam militer Jerman. Seragam militer produksi Sritex disebut-sebut memiliki kelebihan antara lain anti air, anti infra merah, anti api, anti serangga, dan anti radiasi nuklir. Semakin tinggi spesifikasi teknologi seragam militer yang dipesan suatu negata, semakin tinggi pula harga yang dibanderol Sritex. Satu pasang seragam militer termurah sehraga Rp600 ribu dan termahal bisa jutaan rupiah.


Pada 2015, Sritex mematangkan perjanjian dengan perusahaan lokal Kamboja maupun dengan pemerintahannya. Perjanjian ini mendirikan sebuah perusahaan baru di Kamboja serta memasok seragam militer negara tersebut. Nilai transaksi untuk kontrak ini mencapai 50 juta dolar AS per tahun. Kamboja termasuk salah satu negara di Asia Tenggara yang buruk demokrasinya dan gemar menyensor dan memberedel media kritis.

Perusahaan yang kini dipimpin oleh Iwan Setiawan Lukminto sebagai presiden direktur ini juga membidik seragam militer negara-nagara kawasan Afrika. Dari total penjualan produk seragam militer, 30 persennya untuk porsi ekspor. Harga jual seragam militer ini dibanderoli 50 dolar AS per potong dengan kuantitas ekspor 1-1,5 juta potong per tahun.

Secara keseluruhan, produksi seragam militer di pabrik Sritex mencapai 50 persen dari total produksi. Setengahnya lagi untuk produksi fesyen merek-merek ternama. Sebut saja Uniqlo, jenama terkenal dari Jepang; Takko, brand asal Jerman; serta merek lain macam Costco, Zara, Lee, Hugo Boss, H&M, dan produk Disney. Hingga saat ini, sebagian besar jenama fesyen itu masih menjadi pelanggan Sritex.

“Yang sudah pernah publish nama-nama brand besar yang bekerjasama mayoritas masih menjadi existing client,” ujar Iwan Setiawan Lukminto kepada Tirto.


Merek-merek fesyen itu menjadi pelanggan bahan tekstil produksi Sritex. Pabrik Hugo Boss di Turki menjadi salah satu sasaran ekspor Sritex. Merk Uniqlo telah menjadi pelanggan Sritex sejak 2012 dengan nilai kontrak mencapai 25 juta dolar AS dan potensi kerjasamanya sampai 2015 diperkirakan mencapai 100-150 juta dolar AS.

Untuk Disney dan Star Wars, Sritex memproduksi pakaian seri kartun. Produk ini hanya bisa dibeli di toko resmi di luar negeri. Harganya mencapai puluhan hingga ratusan dolar.

Produk fesyen Sritex diekspor ke lebih 100 negara. Per Juni 2018, penjualan Sritex mencapai 543,76 juta dolar AS. Angka itu naik 35,67 persen dibandingkan penjualan Juni 2017. Laba periode berjalan perseroan yang mencatatkan diri di papan bursa saham BEI dengan kode emiten SRIL ini sebesar 56,33 juta dolar AS per Juni 2018; lebih tinggi dibandingkan capaian periode yang sama tahun lalu sebesar 33,59 juta dolar AS.

Sebesar 60 persen saham Sritex saat ini dimiliki oleh induk usaha PT Huddleston Indonesia. Besaran itu setara 12,28 miliar unit saham. Direktur utama dan wakil direktur utama memiliki masing-masing 0,036 persen saham. Sedangkan keluarga Lukminto lainnya, yaitu Susyana Lukminto (istri HM Lukminto), yang jadi Komisaris Utama Sritex, memiliki 0,025 persen saham.

Pada perhelatan olahraga Asia, Agustus lalu, yang bikin Presiden Joko Widodo sumringah dan dipuji pemberitaan internasional, Sritex juga menjadi produsen resmi untuk merchandise Asian Games 2018.

Baca juga artikel terkait LIMBAH PT RUM atau tulisan menarik lainnya Dea Chadiza Syafina
(tirto.id - Bisnis)

Reporter: Dea Chadiza Syafina
Penulis: Dea Chadiza Syafina
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan