Hari Raya Nyepi 2022

Refleksi Nyepi di Bali: "Pandemi Menambah Ketakwaanku"

Reporter: Alfian Putra Abdi, tirto.id - 3 Mar 2022 07:00 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Seperti katamu, Nyepi adalah waktu yang tepat untuk berintrospeksi. Merenungi fungsi diri bagi sesama manusia, lingkungan, dan penciptamu.
tirto.id - Nyepi dan pandemi. Pada dasarnya menciptakan kondisi yang serupa bagimu, Agus Darma Ariasa (25 tahun). Semua terasa hening.

Pandemi COVID-19 telah mengubah wajah Bali dalam dua tahun terakhir. Industri pariwisata kolaps. Perekonomian keluargamu nyaris ambruk.

Ayahmu sebagai karyawan hotel dan ibumu sebagai karyawan vila, kehilangan pekerjaan mereka. Kehidupanmu tak lagi mudah. Dan kamu berusaha tetap tabah.

“Tidak apa-apa. Semua orang juga mengalami hal yang sama,” ujarmu kepadaku, Sabtu (26/2/2022).

Begitu juga denganmu, Ni Made Listya Ayu Pratiwi (18 tahun). Lumbung finansial keluargmu remuk dihantam pandemi.

Dari hari ke hari, Bali kian sepi. Kunjungan wisatawan, terutama dari luar negeri menurun. Orang tuamu kesulitan memasok daging ke hotel dan restoran. Kamu pun mesti ikut mempromosikan bisnis mereka ke teman-temanmu.

“Sadar akan itu, saya sebisa mungkin tidak meminta ini-itu yang menyusahkan orang tua,” ujarmu kepadaku, Minggu (27/2/2022).

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat penurunan wisatawan mancanegara (wisman) di Bali minus 9,85 persen pada 2020. Pada 2019, jumlah kunjungan wisman mencapai 6,2 juta dan menjadi 1 juta pada 2020.

Saat varian Delta meningkat pada semester I 2021, jumlah kunjungan wisman ke Bali hanya 803.378. Jumlah tersebut berbanding jauh dengan kunjungan dalam periode sama tahun sebelumnya, yakni 3,13 juta kunjungan.

Jumlah kunjungan menurun drastis ketika penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Bahkan selama PPKM diberlakukan, Bali hanya kedatangan 43 wisman pada Juli 2021.

Penurunan jumlah kunjungan berkelindan dengan tingkat penghunian kamar (TPK) penginapan di Bali. Hotel berbintang mengalami penurunan 16,68 persen pada Juni 2021 menjadi 5,23 persen pada Juli 2021. Hotel bintang 5 dari 22,61 persen menjadi 5,67 persen.



Menurut Kepala Seksi Pembinaan Pelaksanaan Anggaran II-B DJPb Bali, Bachrul Ulum merosotnya perekonomian Bali karena ketergantungan terhadap sektor pariwisata dengan sektor-sektor alternatif misalnya pertanian dan perikanan, konstruksi, dan jasa pendidikan/kesehatan yang tidak dikelola dengan baik sebagai “rencana B.”

“Sebelum pandemi, ekonomi Bali berjalan cukup baik. Pertumbuhan ekonomi sebesar 5,63 persen (yoy) di tahun 2019, lebih tinggi daripada nasional yang sebesar 5,02 persen,” ujar Ulum dikutip dari laman Kemenkeu.go.id.

**

Dua tahun terakhir Darma tidak lagi menikmati pengrupukan dan perarakan ogoh-ogoh di banjarnya di Karangasem, Bali. Tidak ada lakon dengan latar kisah mitologi lokal, lenggak-lenggok penari, dan tetabuhan gamelan yang menimbulkan decak kagummu. Pandemi merenggut itu semua.

Kamu sempat kecewa. Sebab ogoh-ogoh tak semata produk kebudayaan belaka. Bagimu, ia merupakan simpul yang mempererat hubungan antar warga banjar.

“Pembuatan ogoh-ogoh melibatkan masyarakat sekitar banjar dan diarak bersama. Ada cerita suka duka. Dapat dibanggakan. Momen itu selalu dinanti,” ujarmu.

Begitu juga denganmu, Ayu. Kamu merindukan semua warga banjar di Badung berkumpul di luar rumah, menantikan perarakan ogoh-ogoh. Semarak di hari pengrupukan benar-benar hilang saat pandemi, katamu meratapi.

Kamu juga rindu melaksanakan melasti dengan leluasa; beramai-ramai melakukan bhuana alit (menyucikan diri) dan bhuana agung (penyucian alam semesta) di sumber air.

“Rasa kebersamaan itu, terutama di hari pengrupukan itu yang kayak hilang sekarang. Karena dilarang buat ramai-ramai,” ujarmu.

Namun, mulai tahun ini. Mereka sudah bisa kembali menyaksikan ogoh-ogoh. Gubernur Bali, Wayan Koster mengizinkan masyarakat mengarak ogoh-ogoh di tiap wilayah banjar saat malam Pengrupukan. Tentu dengan mengedepankan protokol kesehatan dan kapasitas maksimal 25 orang.



**

Pandemi tidak saja mengguncang bisnis daging keluargamu, tapi membatasimu berinteraksi dengan orang-orang terkasih. Kamu tidak bisa leluasa saat melasti hingga ngembak geni.

Kehidupan sosialmu di sekolah juga terganggu. Kamu menjalani masa SMA secara tatap muka dengan amat singkat, hanya satu tahun setengah. Begitu kamu lulus dan melanjutkan kuliah, tak ada yang berubah; kamu mengakrabi diri dengan sejawat melalui aktivitas virtual. Hingga kini kamu semester 2, kamu merasa kurang mengenal teman-teman kuliahmu.

“Akibat pandemi, kemampuan bersosialisasi saya yang awalnya sudah kurang menjadi tambah buruk. Saya kesulitan mendapat teman,” ujarmu, Ayu.

Nyepi menjadi momentum untuk melepaskan semua beban duniawi. Kamu berupaya merefleksikan diri kembali dan menghargai setiap detik kebersamaan dengan orang-orang terkasih. Sebab seperti katamu, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan.

Dan kamu enggan membiarkan pandemi mereduksi makna Nyepimu. Kamu berusaha khusyuk menjalani tiap-tiap rangkaian persembahyangan.

“Karena yang terpenting dari pemujaan kepada Tuhan itu Sraddha dan Bhaktinya, seberapa tulus dan ikhlas kita melakukan setiap Yadnya yang ada,” ujarmu.

Begitu juga denganmu, Darma. Kamu menolak kalah telak oleh pandemi. Dan Nyepi telah menjadi titik balikmu untuk membentuk dirimu kian lebih baik dari hari ke hari. Kini kamu menyadari banyak hal-hal kecil yang perlu disyukuri.

“Perubahan yang saya alami, jadi makin sering bersyukur: bisa bangun di pagi hari, masih bisa makan, bertemu keluarga, bekerja, melaksanakan persembahyangan dan lainnya,” ujarmu.

Seperti katamu, Nyepi adalah waktu yang tepat untuk berintrospeksi. Merenungi fungsi diri bagi sesama manusia, lingkungan, dan penciptamu.

“Pandemi menambah ketakwaan saya untuk lebih menghargai adat, tradisi dan budaya yang syarat akan makna tersebut,” ujarmu.


Baca juga artikel terkait NYEPI DI BALI atau tulisan menarik lainnya Alfian Putra Abdi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Alfian Putra Abdi
Penulis: Alfian Putra Abdi
Editor: Abdul Aziz

DarkLight