Raspi, Ronggeng Gunung yang Lahir dari Penderitaan

Oleh: Irfan Teguh - 2 Maret 2018
Dibaca Normal 4 menit
Ronggeng Gunung adalah kesenian yang kelahirannya tidak dapat dipisahkan dari kerajaan di daerah Galuh atau Ciamis
tirto.id - Usianya 13 tahun waktu itu. Baru lulus Sekolah Dasar. Raspi namanya. Ia hendak dijodohkan oleh ibunya untuk segera menikah, tapi Raspi menolak dan minggat dari rumah. Dalam pelarian ia menonton pertunjukan Ronggeng Gunung pimpinan Maja Kabun. Sambil menonton, diam-diam ia ikut menari. Maja Kabun rupanya melihat tarian Raspi, lalu mengajaknya untuk bergabung dengan rombongan yang ia pimpin.

Selain belajar pada Maja Kabun, Raspi juga belajar pada Indung Darwis, tokoh ronggeng dari Padaherang, Pangandaran. Menurutnya, Indung Darwis yang membuatnya percaya diri untuk tampil.

Raspi adalah salah satu seniman Ronggeng Gunung yang masih tersisa di daerah Ciamis. Tahun 2013, bersama perupa Tisna Sanjaya, ia pernah tampil di Singapura sebagai duta budaya Indonesia.

Kisah itu diceritakan Raspi kepada saya di pengujung 2015, suatu siang di sanggarnya yang sepi di Desa Ciulu, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis. Tak jauh dari sanggar, beberapa anak terlihat hendak mengaji di sebuah majelis taklim.

Kini usianya tak lagi muda. Gerakannya sudah tak lincah seperti dulu. Peralatan musik pengiring ronggeng tersimpan di salah satu sudut. Foto-foto tak terlalu besar menempel di dinding tembok yang agak lembap. Rumahnya berjarak sekitar tiga meter dari sanggar.

“Anak-anak sudah jarang yang berlatih, kalau ada yang buat film [dokumenter] saja mereka rajin latihan,” ujarnya.


Matahari bersinar terik, akan tetapi udara terasa sejuk. Angin berhembus dari arah perbukitan. Sementara hamparan sawah yang menguning terhalang rimbun pohon yang tumbuh di halaman.

Dari beberapa kali pernikahan, Raspi dikaruniai seorang putri, Nani Nurhayati. Dari putrinya, Raspi kini sudah memiliki cucu perempuan. Meski anak-anak didiknya sudah jarang berlatih, tetapi harapan Raspi belum sepenuhnya lindap. Putri satu-satunya menjadi penerus Raspi dalam menekuni kesenian Ronggeng Gunung.

“Sekarang saya sudah punya wadah (sanggar), tapi sekarang tidak ada yang mau meneruskan, kecuali anak saya,” kata Raspi.

Sejarah Ronggeng Gunung

Menurut Euis Thresnawaty S. dalam Raspi Sang Maestro Ronggeng Gunung (Jurnal Patanjala Vol. 8 No. 2, Juni 2016), Ronggeng Gunung adalah tarian buhun (kuno) yang penyajiannya sangat minimalis. Meski demikian, Ronggeng Gunung memiliki kelebihan dari mayoritas tarian Sunda lainnya.

“Apabila tari Sunda memberikan porsi sama antara gerakan tangan dan kaki, Ronggeng Gunung lebih menekankan pada gerakan kaki,” tulisnya.

Euis menambahkan bahwa ronggeng berasal dari kata "renggana" yang berarti perempuan pujaan dalam bahasa Sansakerta. Perempuan pujaan ini menari diiringi seperangkat alat musik tradisional. Tariannya berperan sebagai penghibur bagi tamu kerajaan.

Claire Holt dalam Melacak Jejak Perkembangan Seni di Indonesia (2000) menerangkan bahwa kesenian ronggeng telah populer sejak zaman kolonial Belanda, juga saat Inggris berkuasa di bawah kepemimpinan Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles.

Dalam catatan Claire, Raffles menyebut ronggeng sebagai pertunjukan keliling yang dilakukan oleh perempuan yang berasal dari gunung. Selain tampil di pertunjukan resmi, mereka juga kerap tampil di rumah dan halaman rumah para bangsawan pribumi dan penguasa dari kaum kolonial. (hlm. 39)

Salah satu kesenian ronggeng yang—meski peminatnya sudah sedikit, namun masih bertahan sampai hari ini adalah Ronggeng Gunung. Lahirnya kesenian ini tidak dapat dipisahkan dengan sejarah kerajaan di daerah Galuh/Ciamis. Dalam catatan dispar.ciamiskab.go.id setidaknya ada empat versi yang melatari kelahiran Ronggeng Gunung, tapi yang paling populer adalah kisah Anggalarang dan Dewi Siti Samboja, istrinya.


Ketika Anggalarang hendak mendirikan sebuah kerajaan di daerah Pananjung (kini menjadi Cagar Alam Pananjung), ayahnya—Prabu Haur Kuning dari Kerajaan Galuh, mengingatkan bahwa daerah tersebut berbahaya karena dekat dengan markas perompak. Namun, Anggalarang berkeras.

Tak lama setelah kerajaan berdiri, kekhawatiran Prabu Haur Kuning terbukti. Kawanan bajak laut yang dipimpin Kalasamudra menyerang Kerajaan Pananjung. Dalam pertempuran yang tak seimbang, Anggalarang tewas. Sementara istrinya berhasil melarikan diri.

Dalam pelarian—bersama beberapa orang pengikutnya, Dewi Siti Samboja menyamar sebagai Ronggeng Gunung dan namanya diganti menjadi Dewi Rengganis. Mereka berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Setiap kali tampil, Dewi Rengganis selalu menyenandungkan kawih tentang kehilangan dan kepedihan hati, mengenangkan suaminya yang tewas di tangan bajak laut:

“Ka mana boboko suling / Teu kadeuleu-deuleu deui / Ka mana kabogoh kuring / Teu kadeuleu datang deui.”

(Ke mana bakul seruling / tak nampak terlihat lagi / Ke mana kekasihku / Tak terlihat datang lagi)

“Dewi Rengganis berkelana dari satu tempat ke tempat lainnya. Tanpa terasa, gunung-gunung telah didaki dan lembah-lembah dituruni. Namun, di matanya masih terbayang bagaimana orang yang dijadikan tumpuan hidupnya telah dibunuh para perompak dan mayatnya diarak lalu dibuang ke Samudera Hindia,” tulis Euis Thresnawaty S. dalam Raspi Sang Maestro Ronggeng Gunung (Jurnal Patanjala Vol. 8 No. 2, Juni 2016).

Penderitaan melahirkan dendam. Dalam penyamaran, Dewi Rengganis memburu Kalasamudra. Di sebuah pementasan di hadapan Kalasamudra, para pengiring Ronggeng Gunung ikut menari sambil menutup wajahnya dengan kain sambil memancing buruannya untuk bergabung dan hanyut dalam tarian.

Saat Kalasamudra mulai tergoda dan ikut menari ke tengah lingkaran, ia lengah. Dewi Rengganis menikamnya dengan sebilah pisau. Kalasamudra tewas terkapar. Kematian suaminya terbalaskan.

Upacara, Kelengkapan, dan Perubahan

Dalam keseharian, Ronggeng Gunung sempat berfungsi sebagai pengantar upacara adat seperti panen raya, perkawinan, khitanan, dan penerimaan tamu. Dewi Siti Samboja atau Dewi Rengganis digambarkan mirip dengan Dewi Sri Pohaci dalam mitologi Sunda di kegiatan bertani.

Pada awalnya sebelum pertunjukan Ronggeng Gunung dimulai, biasanya ada ritual dan sesajen berupa kue-kue kering tujuh macam dan tujuh warna, pisang emas, sebuah cermin, sisir dan rokok.

“Dulu kalau kerbau habis membajak sawah, biasanya kerbau itu diselamatkan dan hiburannya menampilkan Ronggeng Gunung. Di acara mencukur bayi, khitanan, pernikahan, sedekah bumi, dll,” ujar Raspi.

Dalam penelitian Euis Thresnawaty S., Ronggeng Gunung biasanya dipentaskan 2 sampai 12 jam/pertunjukan. Dalam satu pertunjukan biasanya dibawakan 6 sampai 8 lagu, antara lain lagu Kudup Turi, Sisigaran Golewang, Raja Pulang, Kawungan, Parut, dan Srondol.


“Mayoritas lagunya bertema kerinduan kepada kekasih dan sindiran pada perompak yang telah membunuh Anggalarang,” tambah Euis.

Dinas Pariwisata Kabupaten Ciamis di laman resminya menerangkan bahwa kelompok kesenian Ronggeng Gunung biasanya terdiri dari enam sampai sepuluh orang, dan kerap terjadi tukar-menukar atau meminjam pemain dari kelompok lain.

Peminjaman pemain biasanya karena tidak punya pesinden lulugu atau perempuan yang sudah berumur agak lanjut, tapi punya suara yang sangat mengagumkan. Pesinden lulugu tersebut biasanya bertugas membawakan lagu-lagu yang tidak dapat dibawakan oleh pesinden biasa. Sementara peralatan musik yang mengiringi tarian Ronggeng Gunung adalah tiga buah ketuk, gong, dan kendang.

Ronggeng yang kerap diidentikkan sebagai tarian erotis, juga tak bisa dihindari oleh kesenian Ronggeng Gunung yang sebetulnya tarian kesedihan. Dalam perjalanannya, periode tahun 1904-1945, beberapa nilai dalam penyajian Ronggeng Gunung mengalami perubahan.

Sebagai contoh, cara menghormat yang awalnya merapatkan tangan ke dada berubah menjadi bersalaman. Pada praktiknya, perubahan ini banyak disalahgunakan oleh penari laki-laki dan para penonton laki-laki yang ikut menari untuk mencium dan meraba ronggeng.

Hal ini kemudian mendorong para pegiat kesenian Ronggeng Gunung untuk melakukan beberapa perubahan dan peraturan dalam setiap pementasan. Salah satunya yaitu melarang penari melakukan sentuhan langsung dengan penari laki-laki dan para penonton laki-laki yang ikut menari.

infografik sejarah ronggeng gunung


Mencoba Bertahan

Raspi lahir di Dusun Karang Gowok, Kabupaten Ciamis, dari pasangan Sidot dan Kastem. Keluarganya hidup sederhana. Saat orangtuanya bercerai, ia memilih tinggal bersama ibunya. Kesenian Ronggeng Gunung sudah ditekuninya sejak tahun 1972 dengan penuh kecintaan.

Di usianya yang mulai senja, Raspi sadar tenaganya sudah kurang mendukung. Dalam sebuah film dokumenter yang diproduksi oleh Kantor Balai Pelestarian Nilai Budaya Bandung, ia menginginkan kesenian yang ditekuninya diteruskan oleh generasi muda. Namun harapannya sulit menjadi kenyataan, karena selain anaknya, tak seorang pun anak muda yang berminat melanjutkan jejaknya menjadi penari Ronggeng Gunung.


“Sebetulnya kalau lagi pentas di kampung-kampung, saya sering mengajak anak-anak muda, tapi mereka biasanya tidak mau karena kesenian Ronggeng Gunung dianggap susah untuk dipelajari,” ujarnya.

Nani Nurhayati, putrinya yang sejak kecil dibawa Raspi ke berbagai pementasan, mengamini bahwa ibunya memang mengharapkan ada generasi muda yang meneruskan kesenian Ronggeng Gunung. Namun, baru dia satu-satunya yang mengikuti jejak ibunya.

“Ya, karena saya anak satu-satunya, jadi ke siapa lagi kalau bukan ke saya, sebelum ke orang lain. Tapi keinginan ibu dan saya sih sebetulnya siapa saja bisa meneruskannya asal punya keinginan dan punya bakat,“ ungkap Nani.

Nani mulai ikut menari sebagai Ronggeng Gunung dari tahun 2004. Di tengah semakin sepinya peminat Ronggeng Gunung, ia masih berharap kesenian ini bisa langgeng.

“Mudah-mudahan masyarakat tidak lupa kepada kesenian ini, rasa cinta terhadap kesenian tradisional tetap ada tidak tergerus oleh kesenian modern yang semakin populer,” tambahnya.

Baca juga artikel terkait KESENIAN DAERAH atau tulisan menarik lainnya Irfan Teguh
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Irfan Teguh
Penulis: Irfan Teguh
Editor: Zen RS