Menuju konten utama

Putus Siklus Eggshell Parenting demi Kesehatan Mental Anak

Anak biasanya tidak menyadari bila ternyata ia sudah terkena dampak dari eggshell parenting.

Putus Siklus Eggshell Parenting demi Kesehatan Mental Anak
ayah, ibu dan anak duduk di meja di rumah dan melukis telur. FOTO/iStockphoto

tirto.id - Unggahan video Dr. Kim Sage, Psy.D., M.A., Psikolog Klinis asal California, AS, di TikTok berhasil "membangunkan" banyak orang betapa selama ini ternyata mereka adalah korban dari Eggshell Parent.

Unggahan ini berhasil menarik lebih dari 4 juta views, dan disambut lebih dari 10 ribu komen oleh pelajar, mahasiswa, pekerja, hingga orang tua.

Eggshell parent menjadi topik hangat di TikTok belakangan ini, dan menghasilkan lebih dari 400 juta views. Kim merupakan salah satu orang pertama yang menciptakan istilah tersebut di TikTok.

Menurutnya, eggshell parenting dapat membahayakan kesehatan mental anak, membuat anak mengembangkan hypervigilance atau kewaspadaan berlebihan dalam menilai potensi ancaman di sekitarnya, mengakibatkan kecemasan, kurangnya kepercayaan, dan ketidakstabilan emosional.

Dampak hypervigilance dapat terdeteksi dari cara anak merespons apa yang dilihat, didengar, bahkan diciumnya. Seperti bila anak mendengar suara langkah kaki, ia akan otomatis cemas dan ketakutan karena menganggap itu adalah langkah kaki ibu atau ayahnya yang siap memarahinya bila ia terlihat sedang duduk santai di tempat tidur. Padahal, anak sudah menyelesaikan semua tugas sekolahnya.

Kenali Gejala Eggshell Parenting

“Sebetulnya di dunia kesehatan jiwa, ada istilah “like walking on eggshells” untuk menjelaskan ada orang-orang yang sangat mudah tersinggung/terganggu/marah."

"Biasanya orang-orang ini mengalami masalah gangguan kesehatan jiwa. Istilah kesehatan mental dan kesehatan jiwa sebenarnya adalah sama. Hanya kadang orang lebih nyaman menyebutnya kesehatan mental, dirasa lebih positif dibandingkan dengan kesehatan jiwa,” terang Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Si., Psikolog Klinis Anak dan Keluarga.

Ia melanjutkan, ketika orang-orang yang sangat mudah tersinggung/terganggu/marah ini menjadi orang tua, maka mereka cenderung melakukan eggshell parenting, yaitu pola asuh yang emosinya sangat labil, sangat rentan berubah mood-nya, sehingga perilaku pengasuhannya sulit diprediksi.

Pola asuh ini rentan menimbulkan beragam masalah kejiwaan pada anak, sehingga sangat tidak disarankan.

Baik ibu atau ayah dapat melakukan eggshell parenting, apabila kondisi kejiwaan/mental atau kondisi emosinya sangat labil. Tindakan yang dilakukan misalnya, ketika anak pulang sekolah, ibu akan tersenyum manis menyambutnya. Namun ketika melihat ada bagian baju anak yang kotor, tiba-tiba ia menjadi marah besar bahkan memberikan hukuman tidak masuk akal.

Contoh lain, ketika anak sedang bermain dan semuanya berjalan baik-baik saja, namun tiba-tiba ibu menerima telepon masuk, lalu langsung menangis tersedu-sedu. Kemudian ia menyalahkan semua orang termasuk anak, dan menganggap dirinya adalah orang tua tidak berguna. Dan ini sering terjadi.

Orang tua yang melakukan eggshell parenting biasanya tidak menyadarinya. Ada pula yang menyadarinya, namun kesulitan untuk berubah.

Menurut Nina, panggilan Anna Surti Ariani, orang tua yang melakukan eggshell parenting dapat dikenali dari ciri-ciri emosinya sangat labil, bahkan kadang disebut rollercoaster mood, karena bisa jadi terlihat menyenangkan, tiba-tiba marah luar biasa.

Selain itu, sering “menyerang” anak atau orang di sekitarnya. Bentuk serangan misalnya menyalahkan, melakukan tindak kekerasan, menghukum tanpa alasan jelas, atau menuduh.

Terkadang orang tua bertindak sebagai korban sehingga anak harus “mengasuh” orang tuanya. Misal, dengan memperlakukan orang tua sesuai dengan kehendak orang tua, atau memanjakan keinginan orang tua.

Ciri eggshell parent lainnya, ia membuat anak tidak bebas bersikap, tidak bebas bergaul. Banyak batasan terhadap anak. Perlu dicatat, bahwa orang tua yang eggshell parent ini biasanya sayang kepada anaknya, namun mengalami kesulitan untuk meregulasi emosi dirinya. Oleh karena itu, bisa terlihat ia sayang sekali, namun kemudian meledak marah.

Nina menjelaskan, seringkali latar belakang orang tua melakukan eggshell parenting karena isu masa lalu yang belum betul-betul terselesaikan, sehingga orang tua ini secara emosional tidak dewasa, atau disebut “immature parent”.

Sebagian di antara mereka, akibat pengaruh masa lalunya, jadi mengalami masalah kejiwaan yang perlu ditangani serius. Dengan demikian, ketika menghadapi tekanan hidup, misalnya banyak urusan rumah tangga atau anak, menjadi sangat mudah stres.

Orang tua yang baik dan sehat mental juga tentunya pernah meledak emosinya, misalnya karena sangat lelah atau mengalami tekanan hidup yang sangat besar. Namun ledakan ini jarang terjadi. Dalam kebanyakan peristiwa pengasuhan, orang tua yang sehat mental cenderung stabil emosinya, sehingga anak juga bisa berkembang optimal.

Sementara itu orang tua yang punya masalah kejiwaan atau kesehatan mental sehingga melakukan eggshell parenting, mengalami ketidakstabilan emosi cukup sering. Misal, lebih dari 1 minggu sekali. Banyak di antaranya bahkan setiap hari kondisi emosinya meledak-ledak.

Infografik Eggshell Parenting

Infografik Eggshell Parenting. tirto.id/Quita

Dampak Buruk Eggshell Parent

Anak sebetulnya sangat butuh lingkungan yang stabil. Namun jika yang ia dapatkan adalah lingkungan yang tidak stabil, maka ia kesulitan untuk percaya pada lingkungannya, dan ujungnya adalah kesulitan untuk percaya pada dirinya sendiri.

Bagaimana pun, dasar untuk bisa percaya pada dirinya adalah rasa percaya pada lingkungannya, yang perlu muncul dalam 3 tahun pertama hidupnya. Jika ini tidak didapatkan, anak akan kesulitan mendapat fondasi penting untuk kesehatan mentalnya.

Pada anak yang kesulitan mendapatkan lingkungan yang stabil, seringkali ditemukan tingkat kecemasan yang tinggi. Anak rentan sekali mengalami gangguan kecemasan (anxiety disorder) dalam berbagai ragamnya (OCD, panic attack, generalized anxiety disorder, phobia, dan lainnya).

Anak juga rentan mengalami beragam risiko depresi. Perlu diingat bahwa jika anak mengalami depresi, maka efeknya dapat jauh lebih buruk dibandingkan dengan orang dewasa yang mengalami depresi. Mood anak juga cenderung tidak stabil, dan pada akhirnya dapat menjadi eggshell parent juga di masa depan.

Sejak dini, anak sudah bisa terkena dampak dari eggshell parenting. Bahkan sejak kehamilan, sebetulnya janin sudah dapat menangkap ketidakstabilan emosi ibunya. Baik karena ibu sendiri yang mengalami ketidakstabilan emosi, atau ibu yang menghadapi ketidakstabilan emosi ayah.

Dampak pada anak, bisa berdampak di masa kini atau pun masa depan. Selain dampak psikologis, bisa memengaruhi kesehatan fisik juga, karena kesehatan fisik sangat terkait dengan kesehatan mental. Selain itu, saat orang tua sedang sangat tidak stabil, bisa jadi pengasuhan dasar tidak berjalan baik. Misal, anak jadi tidak diberi makan, tidak dimandikan, dan lainnya. Ini dapat secara langsung memengaruhi kesehatannya.

Dampak jangka panjang pada anak juga bisa terkait dengan relasi bersama pasangan. Misal, karena biasa hidup tidak stabil, maka kesulitan juga saat menjalani perkawinan yang stabil walaupun pasangannya baik.

“Di sekolah dan tempat kerja juga sering kali mengalami kesulitan, baik karena kondisi anak yang sudah besar atau sudah dewasa, atau pun karena relasi anak dengan orang tuanya. Contoh nih, saya punya klien dewasa yang orang tuanya eggshell parent, anak dewasa ini sering tiba-tiba harus meninggalkan kantor karena ibunya mengancam bunuh diri atau bertengkar dengan tetangga.” cerita Nina.

Ketika ditanya, apakah dampak ini bisa keterusan dialami anak hingga ia dewasa dan mengasuh anak kelak, Nina menjelaskan, “Pada dasarnya kita percaya bahwa otak seseorang itu plastis. Artinya, walaupun seseorang sudah dewasa, masih ada harapan adanya perubahan. Jika kondisi tidak ditangani, dampak dapat permanen, Dan bisa berdampak ke berbagai aspek kehidupan anak bahkan sampai tua. Tapi ketika ditangani dengan benar, maka dampak negatif tersebut dapat diperkecil bahkan dihilangkan.”

Banyak orang tua yang sekarang melakukan eggshell parenting kepada anaknya, adalah efek pengasuhan saat ia kecil diasuh oleh eggshell parent. Mereka yang tidak mendapat penanganan yang tepat, dapat mengulang lagi walaupun tidak menyadari bahwa ia akan mengulang.

Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk memutus siklus ini (break the cycle) agar tidak terulang lagi adalah dengan menyadari penuh bagaimana orang tua bersikap dan berperilaku saat menjadi orang tua (harus mindful). Sehingga orang tua tidak sampai melakukan hal-hal yang membahayakan diri atau orang lain secara fisik maupun psikis.

Orang tua juga dapat mencoba lebih menyadari emosi yang dialami, dan menyadari apa pemicu ketidakstabilan emosinya. Mendengarkan masukan dari orang lain termasuk anak tentang dirinya, juga penting dilakukan. Orang tua juga wajib memerhatikan perubahan perilaku anak.

Termasuk jika banyak keluhan terhadap anak dari guru atau temannya. Mungkin ada sesuatu yang orang tua lakukan dan membuat anak melakukan hal-hal yang dikeluhkan orang lain kepadanya.

Melakukan beragam self-care juga dapat membantu. Jika kesulitan mengendalikan emosi dan perilaku, saatnya minta bantuan profesional kesehatan jiwa seperti psikolog klinis atau psikiater.

Sadar Dan Putuskan Siklus Pola Asuh Ini

Anak biasanya tidak menyadari bila ternyata ia sudah terkena dampak dari eggshell parenting. Namun anak yang sudah remaja mungkin bertanya-tanya dan lebih sadar. Untuk membantu mereka, Nina memberikan beberapa tip yang bisa dilakukan, salah satunya dengan mencari dukungan.

Bisa berupa mencari teman, sahabat, atau mencari anggota keluarga lain yang bisa dipercaya. Terbuka terhadap para pendukung dan bercerita kepada mereka. Juga bisa minta bantuan profesional kesehatan jiwa seperti psikolog klinis atau psikiater.

Anak juga bisa memperkuat diri dengan melakukan gaya hidup sehat (makan dan minum sehat, tidur cukup, dan olahraga) agar lebih tangguh dalam menghadapi masalah.

Shari R. Jonas, Psikolog dan Family Life Educator asal Canada, berbagi cerita, "Saya adalah anak dari eggshell parent. Dari pengalaman saya ini, saya menemukan cara mengatasi dan menyembuhkan "luka saya". Mungkin cara saya ini bisa membantu orang yang mengalami seperti saya.”

Inilah yang ia lakukan. Pertama, ia menjadi sangat sadar diri. Ia tidak meremehkan kekuatan refleksi diri, yaitu melihat diri sendiri dari luar ke dalam. Karena ketika ia melakukan ini, ia melihat bahwa ia menghabiskan terlalu banyak waktu untuk mengatur suasana hati ibunya. Karena ia pikir jika ia bisa melakukan apa yang membuat ibunya tidak marah, ia akan lebih bahagia dan lebih aman.

Tapi kemudian ia menyadari bahwa ia tidak dapat mengubah ibunya. Baik itu dengan cara berusaha menyenangkan ibunya atau menjaga kedamaian di sekitarnya. Tidak berhasil. Satu-satunya hal yang bisa ia lakukan adalah menjaga dirinya sendiri dan mengendalikan dirinya sendiri.

Agar kebahagiaannya tidak lagi bergantung pada ibunya, ia pun berhenti mencoba, berhenti peduli, dan berhenti merasa takut. Akhirnya, ia mengalami apa yang mereka sebut sebagai pergeseran paradigma. Ini adalah saat seseorang melihat orang yang sama atau situasi yang sama tapi dalam perspektif yang benar-benar baru.

Ketika ia menyadari bahwa bukan ia yang bermasalah, tapi ibunya. Ia bertanya-tanya, "Apa yang terjadi pada ibunya sehingga membuatnya seperti itu?" Dan kemudian semuanya terlihat jelas. Ia melihat ibunya seperti burung terluka yang marah dan frustrasi karena telah disiksa oleh ayahnya yang adalah seorang eggshell parent.

Namun karena ibunya tidak memiliki kesadaran akan dampak yang telah terjadi, ia tidak dapat memutuskan siklus ini.

Pengarang buku My Roots and My Wings: The 24 Most Empowering Life Lessons ini menegaskan, "Jika Anda ingin mengubah seseorang, Anda harus mengubah diri Anda terlebih dulu, karena itu yang terpenting."

Baca juga artikel terkait LIFESTYLE atau tulisan lainnya dari Glenny Levina

tirto.id - Gaya hidup
Kontributor: Glenny Levina
Penulis: Glenny Levina
Editor: Lilin Rosa Santi