Menuju konten utama

Putin Diyakini Terlibat dalam Peretasan Email AS

Presiden Rusia Vladimir Putin dipercaya secara pribadi telah terlibat dalam peretasan email orang-orang terdekat Hillary Clinton. Diduga hal itu merupakan bentuk pembalasan dendam Putin kepada Hillary.

Putin Diyakini Terlibat dalam Peretasan Email AS
Dengan memakai selendang Peruvian, Presiden Rusia Vladimir Putin mengambil posisi untuk berfoto bersama di KTT APEC di Lima, Peru, Minggu (20/11). ANTARA FOTO/REUTERS/Kevin Lamarque.

tirto.id - Para pejabat intelijen AS meyakini bahwa Vladimir Putin secara pribadi terlibat dalam peretasan surat elektronik (email) sejumlah pejabat tinggi selama kampanye pemilu Amerika Serikat. NBC News mengklaim, hal itu sebagai bagian dari dendamnya terhadap Hillary Clinton.

Mengutip pernyataan dua pejabat senior yang memiliki akses terhadap informasi ini, stasiun televisi AS itu mengatakan bahwa Presiden Rusia secara pribadi telah menginstruksikan bagaimana email yang diretas bisa bocor dan digunakan.

Para pejabat mengatakan mereka memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi terkait kesimpulan baru ini, demikian NBC News melaporkan seperti dilansir dari The Guardian, Kamis (15/12/2016).

Akhir pekan lalu Washington Post memberitakan soal temuan CIA bahwa Rusia telah meretas email dari orang-orang dan institusi Amerika sebagai cara untuk mempengaruhi pemilu mendukung Republik Donald Trump, yang mengalahkan Hillary pada 8 November.

Putin sebelumnya pernah diberitakan tidak akan pernah memaafkan Hillary yang saat itu menjabat sekretaris negara, karena telah secara terbuka mempertanyakan integritas pemilihan parlemen pada tahun 2011 di Rusia, dan menyalahkan Hillary atas terjadinya protes jalanan.

Para pejabat intelijen mengatakan kepada NBC News bahwa tujuan Putin dalam dugaan peretasan itu sebagai bentuk balas dendam terhadap Hillary.

Namun, peretasan itu rupanya berubah menjadi upaya yang lebih luas untuk menunjukkan bahwa dunia politik AS korup. Atau, menurut ucapan seorang pejabat, untuk "memisahkan sekutu AS dengan menciptakan gambaran bahwa negara lain tidak bisa bergantung pada AS untuk menjadi pemimpin global yang kredibel lagi ".

Dalam mempersiapkan upaya balasan yang memungkinkan, badan-badan intelijen AS pun telah mengintensifkan penyelidikan mereka terhadap kekayaan pribadi Putin, demikian yang dilaporkan NBC dengan menyitir perkataan para pejabat AS.

Trump, yang sebelumnya melakukan pembicaraan hangat dengan Putin, menyebut tuduhan bahwa Rusia berada di balik peretasan Komite Nasional Demokrat dan orang-orang dekat Clinton sebagai hal yang konyol.

Sementara itu, anggota parlemen AS terkemuka telah menyerukan adanya penyelidikan dari kongres terkait aksi peretasan itu.

Baca juga artikel terkait PERETASAN SITUS atau tulisan lainnya dari Yuliana Ratnasari

tirto.id - Politik
Reporter: Yuliana Ratnasari
Penulis: Yuliana Ratnasari
Editor: Yuliana Ratnasari