Pukulan Berat Industri Otomotif Akibat Pandemi COVID-19

Oleh: Nurul Qomariyah Pramisti - 25 Mei 2020
Dibaca Normal 2 menit
Pandemi COVID-19 membuat produksi otomotif terhenti, rantai pasokan terganggu, penjualan terpukul.
tirto.id - Pandemi COVID-19 atau Corona memaksa produsen-produsen otomotif di berbagai belahan dunia untuk menutup fasilitas produksinya. Di saat yang sama, permintaan terhadap otomotif anjlok tajam seiring melemahnya daya beli masyarakat. Butuh waktu lama bagi industri otomotif untuk bisa pulih.

Di Indonesia, sejumlah produsen otomotif sudah mengumumkan penghentian produksinya, menyusul penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk mencegah penyebaran virus COVID-19. Daihatsu misalnya, sejak 10 April lalu sudah menghentikan produksinya. Demikian pula Toyota, Honda, Suzuki sudah menghentikan sementara produksinya di Indonesia.

Dari sisi penjualan, industri otomotif termasuk yang terkena pukulan berat. Pandemi COVID-19 yang berdampak pada PHK terhadap jutaan pekerja ikut menggerus penjualan mobil. Merujuk data Gaikindo, pada Januari angka penjualan retail masih mencapai 81.063 unit, Februari turun menjadi 77.847 unit, Maret turun lagi menjadi 60.448 unit. Untuk April, angka penjualan anjlok tajam hingga 60% menjadi hanya 24.276 unit.

Dari sisi ekspor, angkanya juga turun tajam hingga 55% secara month to month. Jika pada Maret angka ekspor masih sebesar 6.547.902 unit, maka pada Maret hanya tersisa 2.956.616 unit.

Dengan kondisi pandemi yang belum mereda di Indonesia, penjualan otomotif diprediksi masih akan memburuk. Tanpa bantuan, industri ini bisa kolaps. Padahal, industri ini menyerap jutaan tenaga kerja. Sumbangan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) juga tidak kecil.

Menurut data Kemenperin, industri otomotif memiliki kontribusi signifikan terhadap PDB khususnya terhadap PDB nonmigas sebesar 3,98 persen pada tahun 2019.

Untuk mengatasinya, Kementerian Perindustrian telah mengusulkan pemberian sejumlah insentif baik fiskal, nonfiskal, ataupun moneter untuk industri otomotif dalam negeri.


Penjualan Global Terpukul

Indonesia tidak sendiri. Hampir seluruh produsen otomotif dunia menghadapi masalah yang sama.

Penyedia layanan informasi global, IHS Markit memperkirakan penjualan mobil secara global turun menjadi 22 persen pada tahun ini menjadi 70,3 juta unit. Amerika Serikat diprediksi mencatat penurunan terbesar hingga 26,6% menjadi 12,5 juta unit.

Sementara Cina, salah satu pasar otomotif terbesar dunia diprediksi mengalami penurunan penjualan hingga 15,5 persen menjadi 21 juta unit pada tahun ini.

Di Inggris, penjualan mobil baru bahkan anjlok hingga 97%, yang merupakan penurunan terburuk sejak Perang Dunia II. Seperti dilansir The Guardian, penjualan mobil tercatat hanya 4.321 unit pada April. Menurut Society of Motor and Traders (SMMT), penjualan pada April itu berasal dari pembeli yang memang sudah memesan sebelumnya.

Lockdown yang berlaku di negara itu membatasi penjualan kendaraan. Inggris sudah memulai lockdown sejak 23 Maret. Penjualan mobil pada bulan itu langsung anjlok 44%, dibandingkan tahun 2019, yang merupakan penurunan terbesar sejak krisis finansial.

Di Jepang, penjualan mobil anjlok hingga 29% pada April, menjadi hanya 270.393 unit. Dalam dua bulan terakhir, pabrikan-pabrikan besar memangkas produksinya mulai dari Toyota, Nissan, Honda, Mazda, Suzuki, Subaru, Daihatsu, hingga Mitsubishi.

Produsen otomotif sendiri sudah memperkirakan dahsyatnya dampak COVID-19. Toyota memperkirakan labanya untuk tahun fiskal ini bakal anjlok hingga 79,5% menjadi 500 miliar yen. Penjualan sepanjang tahun ini diprediksi turun hingga 19,8 persen menjadi 24 triliun yen.

“Kami masih belum dapat menghitung waktu pemulihan dengan tingkat kepastian apapun,” jelas Chief Financial Officer, Kenta Kon, dalam seperti dilansir Japan Times.

Fasilitas Toyota di AS dan Eropa sendiri sudah berangsur-angsur pulih, setelah sempat berhenti beroperasi selama 1 bulan. Penjualan di Cina juga mulai meningkat pada Maret dan April, kata Kon.

Corona telah menyebabkan fasilitas produksi terhenti, rantai pasokan suku cadang terganggu, dan dealer-dealer harus ditutup. Kon mengatakan, dengan beragamnya cara negara-negara di dunia dalam menghadapi pandemi COVID-19, sangat sulit untuk melihat prospek bisnis Toyota.

Colin Couchman, Direktur Eksekutif HIS Markit mengatakan, pandemi memang telah memukul sektor otomotif dengan sangat keras. Pemulihannya pun diprediksi masih diselimuti dengan ketidakpastian. “Nasib baik pasar diperkirakan beragam, karena permintaan yang tertunda dan hancur bergabung dengan gangguan suplai dunia yang masif,” jelasnya, seperti dilansir dari CNBC.


Harapan Setelah Pandemi

Meski kini tengah terpukul, industri otomotif punya secercah harapan di tengah upaya untuk menuju normal baru saat pandemi COVID-19. Pandemi diperkirakan membuat orang untuk sementara waktu menghindari transportasi publik, dan memilih menggunakan kendaraan pribadi guna mencegah infeksi virus.

“Orang-orang menggunakan, lebih banyak kendaraan mereka karena mereka takut menggunakan transportasi publik,” ujar Patrick Pouyanne, chief executive Total SA, seperti dilansir Japan Times.

Di Beijing, Shanghai, dan Guangzhou, lalu lintas pagi kini lebih padat dibandingkan rata-rata tahun 2019. Sementara tingkat penggunaan subway justru di bawah normal, menurut data yang dikompilasi BloombergNEF. Volume sistem metro Beijing tercatat 53% persen lebih rendah dibandingkan level sebelum pandemi. Sementara di Shanghai dan Guangzhou mencatat penurunan masing-masing 29% dan 30%.

“Paling tidak, pada masa awal kita kembali ke normal, kami memperkirakan penurunan penggunaan transportasi publik,” ujar Josu Jon Imaz, pimpinan Repsol SA.

Di Berlin, kota pertama di Eropa yang mengurangi lockdown, penggunaan transportasi publik tercatat turun hingga 61 persen. Sementara penggunaan kendaraan publik tercatat hanya turun 28% di bawah kondisi normal, menurut data Apple Inc, berdasarkan pelacakan di Apple Maps.

Data Apple Maps untuk 27 kita di dunia menunjukkan pemulihan penggunaan maps untuk kendaraan lebih cepat dibandingkan transportasi massal.

Meski demikian, data itu memang dinilai masih terlalu dini untuk dibaca sebagai prospek kenaikan penjualan otomotif. Dengan tingkat daya beli yang masih rendah, diperkirakan konsumen cenderung memilih kendaraan bekas dibandingkan kendaraan baru.

Baca juga artikel terkait PENJUALAN KENDARAAN BERMOTOR atau tulisan menarik lainnya Nurul Qomariyah Pramisti
(tirto.id - Otomotif)

Penulis: Nurul Qomariyah Pramisti
Editor: Maya Saputri
DarkLight