Prediksi Pilpres 2019 Indo Barometer dan Skenario Peran Mega-JK-SBY

Prediksi Pilpres 2019 Indo Barometer dan Skenario Peran Mega-JK-SBY
Ilustrasi pemungutan suara di pemilu. ANTARA News/Ridwan Triatmodjo
15 Februari, 2018 dibaca normal 1:30 menit
Indo Barometer memprediksi ada tiga skenario yang mungkin terjadi di Pilpres 2019. Salah satu skenario adalah tentang kemunculan capres selain Jokowi dan Prabowo yang didukung oleh tokoh King Maker.
tirto.id - Indo Barometer merilis prediksi lembaga survei ini mengenai Pilpres 2019. Direktur Indo Barometer, Muhammad Qodari mengatakan setidaknya ada tiga skenario yang mungkin terjadi pada Pilpres 2019.

Skenario pertama yang berpeluang terjadi di Pilpres 2019, menurut Qodari, adalah Joko Widodo akan kembali bertarung dengan Prabowo Subianto untuk memperebutkan kursi presiden.

Sementara skenario kedua, Qodari melanjutkan, adalah kemungkinan Jokowi dan Prabowo justru berpasangan di Pilpres 2019. "Skenario kuda catur alias zigzag. Lawan jadi kawan," kata Qodari di Jakarta pada Kamis (15/2/2018).

Qodari menambahkan, untuk skenario ketiga di Pilpres 2019, ada kemungkinan akan muncul tiga pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (Cawapres).

Pada skenario ketiga ini, dia menjelaskan ada peluang muncul capres ketiga yang menantang Jokowi dan Prabowo di Pilpres 2019. Tapi, kemunculan capres ketiga tersebut akan bergantung pada langkah tiga tokoh yang bisa berperan sebagai King Maker di Pilpres 2019.

"Skenario para king maker muncul, jika aspirasi mereka tidak terpenuhi,” kata Qodari.

Lalu, siapa tiga tokoh yang mungkin menjadi King Maker di Pilpres 2019? Qodari mengatakan ketiga tokoh itu adalah Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Jusuf Kalla.

Dia menjelaskan Megawati dan SBY berpeluang menjadi King Maker karena keduanya adalah ketua umum dua partai politik besar, yakni PDIP dan Demokrat.

Megawati merupakan Ketua Umum PDIP dengan modal besar di Pilpres 2019 karena menguasai 109 kursi di DPR atau 19,46 persen. Sementara SBY kini masih mengontrol Partai Demokrat sekaligus memiliki "putra mahkota", yakni Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

"Bukan tidak mungkin SBY melakukan regenerasi dengan memajukan AHY sebagai calon presiden," kata Qodari.

Sedangkan Jusuf Kalla (JK), meski bukan ketua umum partai, Qodari menilai dia adalah politikus senior yang menjadi tokoh kunci di kelompok Islam. Qodari mencontohkan JK berperan mengusulkan Anies Baswedan sebagai calon Gunernur DKI Jakarta yang akhirnya memenangi Pilkada 2017.

Skenario Jokowi dan Prabowo Kembali Bertarung Paling Mungkin Terjadi

Meskipun ada tiga skenario, Qodari menilai peluang Joko Widodo sebagai capres petahana kembali bertarung dengan Prabowo Subianto paling mungkin terjadi di Pilpres 2019.

"Saya tetap meyakini skenario A. Pertarungan akan terulang antara pak Jokowi dengan pak Prabowo. Selera figur masyarakat sampai saat ini masih mereka berdua," kata Qodari.

Dia mencatat, berdasar hasil survei Indo Barometer terhadap tingkat kesukaan, evaluasi bersifat psikologis serta ideologis dan teknis kemampuan menyelesaikan masalah di masyarakat pada setiap kandidat Capres di Pilpres 2019, Jokowi masih paling unggul. Untuk ketiga indikator itu, Jokowi memperoleh poin 58 persen, 34,5 persen, dan 37 persen.

Sedangkan Prabowo dengan dimensi penilaian yang sama, mendapatkan poin terbesar kedua, yaitu 8,4 persen untuk tingkat kesukaan, 15 persen untuk evaluasi psikologis-ideologis, 10,5 persen untuk tingkat kemampuan menyelesaikan masalah.

"Indikasinya itu, jadi kalau ada yang bilang Pilpres 2019 akan tetap dua pasang yaitu pak Jokowi dan Prabowo, itu masuk akal," kata dia.

Baca juga artikel terkait PILPRES 2019 atau tulisan menarik lainnya Shintaloka Pradita Sicca
(tirto.id - shn/add)

Keyword