Menuju konten utama

Petualangan Alam di Tanah Parahyangan

Seperti gadis cantik dengan sejuta trik, Bandung selalu punya alasan untuk membuat orang jatuh cinta. Termasuk pada keindahan alamnya.

Petualangan Alam di Tanah Parahyangan
Wisatawan menikmati suasana dan pemandangan hutan pinus pal 16, Cikole, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Minggu (5/11/2017). ANTARA FOTO/M Agung Rajasa

tirto.id - “Dan Bandung bagiku bukan cuma masalah geografis, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan, yang bersamaku ketika sunyi."

Tertera sebagai mural pada terowongan Asia Afrika di Bandung, kalimat dari penulis Pidi Baiq itu seakan mewakili mereka yang hatinya tertambat di Kota Kembang. Dan kalimat sentimental itu jelas bukan kalimat cinta pertama yang pernah tersemat untuk Bandung.

Tepat berhadapan dengan kalimat dari Pidi Baiq, tercantum pula kalimat lain yang tak kalah manisnya. “Bumi Pasundan lahir ketika Tuhan sedang tersenyum”, demikian bunyi kalimat dari psikolog dan budayawan Belanda M.A.W Brouwer yang turut diabadikan sebagai mural di terowongan yang sama.

Dikelilingi dataran tinggi dengan tanah subur untuk perkebunan dan memiliki iklim pegunungan yang sejuk, Bandung dan wilayah sekitarnya yang sering disebut Bumi Pasundan atau Parahyangan memang memiliki sejarah panjang sebagai primadona wisata di Pulau Jawa.

Dibukanya jalur kereta api yang menghubungkan Batavia dan Bandung di tahun 1880 membuat kaum sosialita masa kolonial hanya butuh 2,5 jam perjalanan untuk melarikan diri dari teriknya Batavia dan menikmati pesona kota Bandung dengan berbagai hotel, kafe, dan pertokoan cantik yang membuat Bandung dijuluki sebagai Parijs van Java.

Kebiasaan tersebut bertahan di masa pascakemerdekaan. Bandung yang ditetapkan sebagai ibu kota Jawa Barat mengalami pembangunan pesat sebagai kota metropolitan, lengkap dengan berbagai masalah perkotaan yang membayanginya. Untungnya, hal itu ternyata tak menyurutkan daya tarik Bandung. Dengan kultur kreatif yang berdampingan dengan warisan budaya lokal yang tetap terjaga, Bandung tetap disinonimkan sebagai tujuan berlibur favorit di Indonesia sampai hari ini, khususnya weekend getaway bagi penduduk Jakarta. Uniknya, terlepas dari banyaknya pelancong dan kendaraan, tahun ini Bandung mendapat penghargaan dari ASEAN sebagai kota dengan kualitas udara terbersih di antara kota-kota besar di wilayah Asia Tenggara.

Walaupun identik sebagai surga kuliner dan belanja, wilayah Bandung Raya juga menyimpan berbagai keindahan wisata alam yang tak kalah indah dari lanskap di luar negeri sekalipun. Tangkuban Perahu, Kawah Putih, Tebing Keraton adalah beberapa tujuan wisata alam di daerah Bandung yang tentu sudah tak asing lagi. Namun, Bandung masih menyimpan banyak potensi wisata alam lain yang menunggu untuk dijelajahi. Berikut adalah beberapa destinasi yang dapat menjadi bucket list untuk liburan Anda selanjutnya.

Anda dapat memulai agenda wisata dengan mengunjungi Bukit Moko di Kecamatan Cimenyan yang berjarak 15 kilometer ke utara dari alun-alun kota Bandung. Dengan ketinggian 1.500 meter di atas laut, Bukit Moko menjadi tujuan populer untuk menikmati kota Bandung dari ketinggian. Di siang hari, kawasan ini menjadi salah satu lokasi pemotretan pre-wedding favorit. Jika datang ke puncak Bukit Moko di malam hari, niscaya Anda akan disuguhi hamparan pemandangan kota Bandung dengan sejuta kerlip lampu yang tak kalah indah dari pemandangan Los Angeles yang dilihat oleh Ryan Gosling dan Emma Stone dalam film La La Land.

Mumpung sudah berada di puncak Bukit Moko, rasanya sayang untuk melewatkan kesempatan melihat matahari terbit. Sambil menunggu fajar, Anda dapat menikmati segelas bandrek hangat di Warung Daweung yang ada di puncak Bukit Moko. Dalam Bahasa Sunda, “Daweung” artinya “melamun”. Dengan semilir angin sejuk yang menyelisip di antara hutan pinus, tempat ini memang menjadi lokasi melamun yang sempurna untuk menikmati alam. Berada di bawah lindungan Perum Perhutani, tiket masuk Bukit Boko dihargai Rp8.000 per orang.

Tujuan berikutnya yang sedang naik daun di media sosial adalah Sanghyang Heuleut, danau berwarna pirus di daerah Rajamanda Kulon, Cipatat, Kabupaten Bandung Barat yang berbatasan dengan Kabupaten Cianjur dan Purwakarta. Berjarak 1, 5 jam berkendara dari kota Bandung, danau yang berada di area Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Saguling ini termasuk danau purba yang telah berusia jutaan tahun.

Letaknya yang agak tersembunyi di antara tebing batu dan pepohonan rimbun melahirkan kisah tersendiri. Konon, danau ini merupakan tempat pemandian para dewi. Ditilik dari namanya, “Sanghyang” berarti sesuatu yang dianggap suci dan “heuleut” dapat diartikan sebagai “jeda atau batas antara sesuatu atau waktu”.

Selain Sanghyang Heuleut, area ini juga memiliki dua gua yang sama legendarisnya, yaitu Sanghyang Tikoro dan Sanghyang Poek. Sanghyang Tikoro adalah gua dan sungai bawah tanah yang menyimpan banyak mitos dan misteri geologis. Air sungai yang masuk ke mulut Sanghyang Tikoro kabarnya belum diketahui berakhir di mana dan ada mitos setempat yang mengatakan jika kita menjatuhkan lidi ke aliran Sanghyang Tikoro akan terdengar jeritan seperti orang yang tenggorokannya tertusuk duri.

Berbeda dengan Sanghyang Tikoro yang tidak bisa dimasuki manusia, Sanghyang Poek adalah gua yang bisa dijelajahi. Area sekitar dua gua ini sering disambangi oleh peneliti dan mahasiswa Geologi yang tertarik menyibak misteri di baliknya. Untuk mengunjungi ketiga Sanghyang ini, Anda akan dikenai tarif masuk sebesar 10 ribu dan dan objek wisata ini hanya buka dari jam 8 pagi sampai jam 4 sore. Karena kondisi jalan yang cukup licin dan berbatu, sebaiknya Anda memakai sepatu dengan sol anti licin menjadi alas kaki.

Destinasi geowisata lain yang juga menyimpan penemuan bersejarah adalah Goa Pawon dan Taman Batu Padalarang yang terletak di Desa Gunung Masigit, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. Dapat ditempuh 1 atau 2 jam berkendara dari Bandung, Goa Pawon adalah situs purbakala yang menjadi lokasi ditemukannya fosil manusia purba yang dipercaya sebagai nenek moyang orang Sunda yang kini masih diteliti oleh para arkeolog.

Untuk mencapai gua sepanjang 36 meter ini, Anda akan melewati jalur dengan kawanan kera yang berkeliaran bebas, Di dalam gua, Anda akan menemukan beberapa replika fosil manusia purba dan artefak kuno. Jika datang di siang hari, kondisi gua sendiri cukup terang karena cahaya matahari yang masuk dari langit gua, yang harus diwaspadai adalah kotoran kelelawar yang baunya cukup menyengat di beberapa titik.

Dari Goa Pawon, Anda bisa melanjutkan perjalanan ke Stone Garden Padalarang yang ada di puncaknya. Berada di ketinggian 709 meter di atas laut, area wisata seluas 2 hektar ini dipenuhi oleh bebatuan gamping dengan berbagai ukuran yang konon berasal dari laut. Dari beberapa penelitian, ahli Geologi meyakini jika area ini dulunya adalah dasar laut dangkal yang membentang antara Padalarang dan Nagreg. Sekarang pun, Anda dapat menemukan fosil kerang dan koral di antara bebatuan yang ada.

Ada dua opsi untuk mencapai Stone Garden. Opsi pertama adalah pintu masuk langsung ke Stone Garden dengan harga tiket Rp3.000 per orang dan tarif parkir mobil Rp10.000. Opsi kedua melalui Goa Pawon dengan tiket Rp6.000 per orang dan tarif parkir mobil Rp5.000.

Bandung pun memiliki air terjun yang dijuluki sebagai Niagara mini dengan nama Curug Malela di Desa Cicadas, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Utara. Dengan jarak yang butuh 3 jam perjalanan mobil dari kota Bandung plus 10 kilometer berjalan kaki menyusuri bukit rimbun, Curug Malela termasuk tujuan wisata yang belum terlalu dieksplor.

Dengan tinggi 60 meter dan lebar 70 meter, Curug Malela memiliki 5 jalur air dengan arus cukup deras yang berasal dari hulu sungai bagian utara Gunung Kendeng dan merupakan air terjun paling atas dari rangkaian 7 air terjun yang urutannya adalah Curug Malela, Curug Katumiri, Curug Manglid, Curug Ngebul, Curug Sumpel, Curug Palisir, dan Curug Pameungpeuk. Bila beruntung, Anda dapat melihat pemandangan ratusan ekor monyet ekor panjang (macaca pasciscularis) sedang minum air di bawah Curug Malela. Harga tiket masuk Curug Malela adalah 10 ribu Rupiah per orang.

Jika Curug Malela dirasa terlalu jauh dan melelahkan, alternatifnya adalah Situ Patenggang di kawasan Ciwidey yang hanya berjarak 10 menit dari Kawah Putih yang sudah terkenal. Berada di tengah hamparan perkebunan teh Rancabali di atas ketinggian 1.600 meter di atas laut, Situ Patenggang adalah danau cantik seluas 48 hektar dengan pulau berbentuk hati di tengahnya.

Disebut sebagai Pulau Asmara, hikayat setempat menceritakan jika pulau ini adalah titik pertemuan seorang putra prabu bernama Ki Santang dengan kekasihnya, Dewi Rengganis yang merupakan putri titisan dewi. Dari legenda tersebut, konon pasangan yang singgah dan mengelilingi pulau asmara dapat menjadi pasangan yang langgeng.

Untuk yang belum berpasangan atau yang sudah berkeluarga, Situ Patenggang juga menawarkan berbagai fasilitas seperti perahu berkapasitas 15 orang dengan tarif 30 ribu Rupiah per orang dan sepeda air. Di area yang sama juga terdapat Pinisi Resto, restoran unik dengan bentuk kapal pinisi yang menjadi lokasi berfoto favorit pengunjung yang datang. Tiket masuk ke Situ Patenggang dibandrol sebesar Rp18.000 per orang di hari biasa dan Rp20.500 per orang saat akhir pekan.

Setelah seharian beraktivitas menjelajah alam, yang Anda butuhkan tentu akomodasi yang nyaman untuk melepas penat. Bekerjasama dengan hotel-hotel budget terpilih di Bandung, Airy menawarkan harga kamar per malam yang ramah di dompet dengan pelayanan dan fasilitas mumpuni di berbagai lokasi strategis di Bandung. Kenyamanan menginap Anda di Bandung pun dipenuhi Airy dengan kamar ber-AC, kamar mandi bersih, TV layar datar, sarapan, Wi-Fi, serta kasur dan linen berkualitas.

Untuk mengecek ketersediaan kamar dan reservasi, Anda tinggal kunjungi www.airyrooms.com; atau lewat aplikasi Airy yang tersedia di Google Play Store dan App Store.

(JEDA)

Penulis: Tim Media Servis