Perkembangan Televisi dan Peningkatan Kualitas Siaran

Kontributor: Muhammad Fakhriansyah, tirto.id - 11 Nov 2022 00:00 WIB
Dibaca Normal 4 menit
Televisi digital menggantikan penggunaan sinyal analog yang rentan. Aspek-aspek seperti suara dan kejernihan gambar menjadi lebih baik.
tirto.id - Pada 2 November 2022, di area Jabodetabek siaran televisi analog beralih ke digital, dan perlahan ke seluruh Indonesia. Alasan utamanya demi kualitas siaran yang lebih baik, dan tidak ada lagi “semut” ketika gangguan sinyal melanda.

Meski terdengar baik, kebijakan ini menimbulkan reaksi dari sejumlah pihak, mulai dari yang protes karena harga STB (dekoder) terlampau mahal sampai pebisnis media Harry Tanoe yang memandang bahwa pengubahan ini salah langkah.

Pemerintah mengklaim bahwa pengubahan ini adalah upaya agar tidak ketinggalan zaman. Di Asia Tenggara, hanya Indonesia dan Timor Leste yang belum sepenuhnya beralih ke siaran digital. Alias masih menggunakan sinyal analog yang banyak kekurangan dan telah berusia puluhan tahun.

Berawal dari Mimpi

Sejak lama manusia bermimpi untuk melihat dunia luar selain lingkungannya dalam waktu bersamaan. Dari Yunani Kuno (Abad 8-6 SM), misalnya, ada kepercayaan bahwa isi perut burung dapat mengetahui situasi di tempat lain. Maka, orang-orang pun beramai-ramai membedah burung yang sudah terbang ribuan kilometer.

Sastrawan William Shakespeare juga pernah memimpikan hal itu lewat karya fiksinya, Henry IV, Part 2 (1596). Dia memunculkan karakter bernama Rumour sebagai figur yang dapat mengetahui situasi di seluruh Inggris pada waktu bersamaan.

Untuk mewujudkan mimpi tersebut pada saat itu jelas hal yang mustahil. Namun ribuan tahun kemudian kemustahilan itu runtuh ketika manusia mulai berinovasi di bidang teknologi.

Pada akhir abad ke-19, lahir tiga peristiwa penting bagi umat manusia yang setidaknya dapat mewujudkan mimpi itu secara sederhana. Pertama, pada 27 Juli 1866, proyek pemasangan kabel telegraf dari Amerika (New York) ke Eropa (London) berhasil dirampungkan dan membuat komunikasi antara dua benua itu terjalin dengan cepat.

Kedua, pada 7 Maret 1876, Alexander Graham Bell berhasil menciptakan alat komunikasi yang kini disebut telepon. Ketiga, warsa 1879, Guglielmo Marconi sukses membuat alat transmisi sinyal elektrik (kini disebut radio) dari satu rumah ke rumah lain yang berguna untuk mengetahui situasi di luar.

Ketiga temuan tersebut membuat manusia di antarwilayah berbeda saling terhubung. Khusus yang terakhir, kata James E. McLellan dan Harold Dorn dalam Science and Technology in World History (2006), mendorong manusia untuk membuat inovasi yang lebih dari ketiganya, yakni mengirimkan gambar melalui gelombang elektromagnetik.

Inovasi ini didasarkan oleh satu tujuan: memungkinkan manusia tidak hanya mendengarkan suara, tetapi juga melihat bentuk visual.


Tercipta Televisi

Mentransmisikan gambar dari manusia ke manusia bukan perkara mudah, berbeda dengan suara. Keduanya juga berbeda dari segi teknis, dan jauh lebih rumit. Masalah terbesar adalah cara mengubah gambar menjadi ukuran lebih kecil untuk dikirimkan ke tempat lain.

Mengutip riset Albert Albramsom dalam “The Invention of Television” (PDF), percobaan pertama dilakukan oleh peneliti dari St. Petersburg, Boris Rozing, pada 1907. Rozing mencoba menggunakan tabung sinar katoda untuk mentransmisikan gambar.

Caranya dengan menyiapkan cermin untuk memindai dan memecah gambar menjadi bentuk yang lebih kecil. Hasil pemindaian ini kemudian diputar oleh kumparan cermin lain untuk menciptakan arus pembelokan elektron untuk dikirim ke penerima.

Lalu, untuk mendapatkan gambar di penerima, seseorang perlu mencocokkan elektron hasil pemindaian itu. Jika berhasil, maka gambar dapat terlihat meski berkualitas rendah. Ribet dan melelahkan memang, tetapi inilah purwarupa dari alat yang kini dikenal sebagai televisi

Namun, purwarupa televisi ciptaan Rozing bukanlah leluhur dari televisi modern yang ada saat ini. Awal mula televisi modern justru diciptakan oleh pemuda asal AS bernama Philo Taylor Farnsworth pada 1927.

Mengutip Smithsonian, Farnsworth memang bukan pencipta pertama televisi, tetapi “dia adalah orang yang pertama menemukan cara untuk membuatnya bekerja lebih simpel.” Dia menghilangkan semua kerumitan purwarupa ciptaan Rozing.

Farnsworth berupaya memecah sebuah gambar menjadi garis horizontal dan menyusun kembali garis-garis itu di tempat lain. Caranya dengan melakukan pemindaian melalui katoda dan mengirimkannya lewat pemancar seperti halnya radio.

Temuannya itu dilirik oleh Radio Corporation of America (RCA), perusahaan radio terbesar di AS pada medio 1930-an. RCA meramalkan bahwa masa depan adalah era televisi yang menyajikan tayangan gambar bergerak untuk disaksikan. Ini terbukti beberapa tahun setelahnya.

Sejak penyiaran televisi komersial dimulai pada 1930 dan beberapa kali diperkenalkan pada pameran internasional, popularitas televisi langsung melejit. Mengutip M.M Eboch dalam A History of Television (2015), dalam kurun waktu lima tahun sejak pertama muncul, ribuan rumah tangga telah memiliki benda ini.

Bahkan di era setelah Perang Dunia II, penjualan televisi meningkat tajam. James E. McLellan dan Harold Dorn menyebut, di AS jutaan televisi telah dibeli dan menjadikannya sebagai barang yang wajib hadir di tiap rumah.

Sebagaimana dipaparkan David dan Marshall Fisher dalam The Invention of Television (1996, PDF), secara kualitas, televisi dalam kurun waktu tersebut amat sederhana. Warnanya hitam putih. Kualitas gambar pun tidak terlalu bagus.

Barulah pada 1953, terjadi perbaikan berkat diciptakannya televisi berwarna. Namun, itu semua tidak mengubah apa-apa karena proses penyiaran masih sama: menggunakan sinyal analog.

Siaran televisi analog memancarkan sinyal melalui gelombang radio. Maka itu, aspek-aspek seperti suara dan kejernihan gambar ditentukan oleh kelancaran arus sinyal antara dua pemancar.

Jika ada gangguan atau distorsi saat proses pengiriman sinyal, seperti hujan, salju, atau medan yang berat, dapat dipastikan siaran televisi akan memburuk. Tayangan pun tidak dapat disaksikan.

Inilah yang menjadi masalah utama televisi di dunia selama berpuluh-puluh tahun. Sampai akhirnya ini semua menghilang ketika konsep televisi digital diperkenalkan.


Menyongsong Fajar Baru

Pada 1980-an, Jepang lewat saluran NHK mengembangkan bentuk baru dari televisi analog yang mengubah kualitas televisi konvensional. Caranya dengan menambahkan bandwith pada sistem lama.

Hal ini berdampak pada peningkatan kualitas tayangan menjadi beresolusi tinggi, memiliki gambar dan suara jernih, yang disebut sebagai siaran High Definition Television (HDTV). Intinya, berbanding terbanding terbalik dengan siaran analog biasanya.

Awalnya, temuan ini hanya diketahui di Jepang. Namun, usai dipamerkan di Los Angeles pada 1987, mata dunia terbuka bahwa era baru televisi sudah tiba.

“Temuan Jepang langsung menjadi topik hangat di industri televisi. Jepang berhasil membawa kualitas serupa layar lebar yang sangat baik yang dapat dibawa ke rumah,” tulis Washington Post tanggal 24 September 1987.

Infografik Mozaik Upaya Melihat Dunia Luar
Infografik Mozaik Upaya Melihat Dunia Luar. tirto.id/Tino


Mengutip Michael Starks dalam The Digital Television Revolution (2013), saat pameran tersebut Jepang menawarkan ide kepada AS untuk memulai pengubahan televisi analog ke HDTV secara global.

Berkat besarnya ketertarikan pada industri sinema, AS pun setuju. Mulai tahun 1990-an, terjadilah migrasi ke HDTV atau kini disebut televisi digital. Langkah ini kemudian diikuti Eropa dan beberapa negara di Asia seperti Cina dan Korea Selatan.

Pengubahan ini tidak hanya didasari oleh kualitas siaran, tetapi juga mempertimbangkan distribusi siaran. Lewat sistem baru ini, siaran televisi dapat tersebar ke seluruh negeri dan tidak lagi mengalami gangguan cuaca.

Meski begitu, pada awalnya migrasi ini tidak semudah yang dibayangkan. Memasuki tahun 2000, mengutip riset Yiyan Wu, dkk dalam “Overview of Digital Television Development Worldwide” (2006), terdapat 1,4 miliar televisi yang tidak kompatibel sistem digital di seluruh dunia, yang mayoritasnya berada di negara yang sudah disebutkan di atas.

Lalu, bagaimana cara mereka melakukan migrasi miliaran televisi?

Masih mengutip Michael Stark, langkah mereka sebetulnya cukup sederhana: mengundang publik untuk berdiskusi, membagikan perangkat konverter secara gratis dan menurunkan harga perangkat lewat subsidi.

Dan yang terpenting mereka menjauhkan hal ini dengan urusan politik. Migrasi ke televisi digital pada dasarnya juga membutuhkan waktu. Jepang sebagai negara pemrakarsa saja membutuhkan waktu lebih kurang 10 tahun untuk mendigitalkan seluruh televisi penduduknya.

Kini, mendigitalkan siaran televisi sudah menjadi kewajiban karena PBB melalui International Telecommunication Union pada 2006 dan 2015 telah membuat perjanjian terkait migrasi ke sistem digital dan mendorong banyak negara untuk meratifikasinya. Berkat perjanjian itulah banyak negara yang mulai mewujudkan siaran televisi digital, termasuk Indonesia.

Baca juga artikel terkait TV DIGITAL atau tulisan menarik lainnya Muhammad Fakhriansyah
(tirto.id - Teknologi)

Kontributor: Muhammad Fakhriansyah
Penulis: Muhammad Fakhriansyah
Editor: Irfan Teguh Pribadi

DarkLight