Menuju konten utama

Perbedaan Teori Nativisme, Empirisme & Konvergensi dalam Pendidikan

Berikut perbedaan teori nativisme, empirisme serta konvergensi dalam pendidikan dan pembelajaran.

Perbedaan Teori Nativisme, Empirisme & Konvergensi dalam Pendidikan
Guru menerangkan pelajaran kepada siswa saat mengikuti Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di SD N Simbangdesa 1, Tulis, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Selasa (9/3/2021). ANTARA FOTO/Harviyan Perdana Putra/hp.

tirto.id - Seorang pendidik memiliki peranan yang sangat penting dalam setiap kegiatan belajar-mengajar di sekolah. Sebab, setiap anak merupakan pribadi unik, memiliki potensi, serta sedang dalam proses perkembangan.

Proses perkembangan setiap anak bisa memiliki tempo yang berbeda-beda, dapat berjalan dengan cepat, sedang, ataupun lambat. Proses ini tidak berjalan sendiri, tetapi dipengaruhi oleh berbagai macam faktor.

Salah satu faktornya, yakni peran pendidik. Sosok guru dibutuhkan untuk dapat mendampingi para murid agar mereka bisa mengenal sifat dan karakternya selama proses pendewasaan berlangsung.

Pendidik perlu untuk memahami kapasitas dan kondisi masing-masing anak didiknya supaya dapat menyusun rencana pembelajaran yang sesuai untuk diterapkan dalam proses belajar-mengajar.

Oleh karena itu, dalam studi tentang pendidikan, muncul sejumlah teori pembelajaran yang dapat diimplementasikan oleh pendidik. Teori-teori itu selama ini dipakai sebagai paradigma penyusunan strategi pembelajaran.

Di antara sejumlah teori tentang pembelajaran yang sudah lama dikenal dalam kajian pendidikan adalah teori nativisme, teori empirisme, dan teori konvergensi.

Apa perbedaan teori nativisme, empirisme, dan konvergensi?

Perbedaan mendasar 3 teori di atas terletak pada asumsi dasar mengenai faktor utama yang bisa memengaruhi perkembangan individu. Faktor-faktor itu ialah pembawaan (nativisme), pendidikan dan lingkungan (empirisme), atau keduanya yang saling berkaitan (konvergensi).

Untuk memahami secara lebih jelas perbedaan teori nativisme, empirisme, dan konvergensi dalam pembelajaran di dunia pendidikan, berikut penjelasan lengkapnya.

Teori Nativisme dalam Pendidikan

Nativisme sendiri berasal dari bahasa latin, “nativus” yang berarti terlahir. Mengutip buku Psikologi Pendidikan: Implikasi dalam Pembelajaran (2021:15) karangan Fadhilah Suralaga, teori nativisme pertama kali dipelopori oleh ahli filsafat asal Jerman, Arthur Schopenhauer (1788-1860).

Teori nativisme meyakini bahwa proses perkembangan manusia ditentukan oleh adanya faktor-faktor bawaan sejak lahir. Faktor bawaan tersebut meliputi sifat-sifat fisik dan psikologis serta juga kemampuan yang berupa bakat, intelegensi, dan lain-lain yang diwariskan secara genetis.

Faktor bawaan inilah yang dipercaya akan menentukan hasil perkembangan anak di kemudian hari. Apabila anak itu memiliki pembawaan yang cerdas, pintar pula anak itu kelak. Sebaliknya, apabila anak itu pembawaannya kurang cerdas, rendah pula prestasi akademiknya.

Menurut teori nativisme, proses pendidikan dan lingkungan sekitar tidak bisa mengubah sifat-sifat pembawaan tersebut. Sebab, baik dan buruknya pembawaan itu sudah ditentukan sejak lahir.

Peran pendidikan dalam pandangan teori nativisme hanyalah sebatas untuk pengembangan bakat saja. Oleh sebab itu, teori ini dalam ilmu pendidikan disebut dengan pesimistis pedagogis.

Teori Empirisme dalam Pendidikan

Dikutip dari buku Pengantar Ilmu Pendidikan (2019:69) karya Amanudin, teori empirisme pertama kali dikenal dengan sebutan “The School of British Empiricism” atau aliran empirisme Inggris.

Tokoh utama yang mencetuskan pemikiran untuk basis teori empirisme, yakni John Locke (1632-1704), filsuf asal Inggris yang masuk dalam jajaran pemikir penting era pencerahan (aufklarung).

Teori empirisme bertolak belakang dengan teori nativisme, karena mengabaikan adanya pengaruh dari faktor bakat atau potensi bawaan dalam proses pendidikan. Maka itu, teori ini menekankan ke pentingnya pengalaman, lingkungan, dan pendidikan dalam proses perkembangan anak.

Doktrin teori empirisme paling terkenal ialah “tabula rasa” yang berarti bahwa manusia dilahirkan seperti kertas putih bersih, masih kosong. Peran pendidik sangat penting dalam membentuk anak.

Dalam ilmu pendidikan, teori empirisme disebut optimisme pedagogis. Optimisme tersebut terlihat dari asumsi dasar teori ini yang menganggap faktor lingkungan dan pendidikan dapat menjadikan anak berkembang sesuai dengan yang diinginkan.

Teori Konvergensi dalam Pendidikan

Teori konvergensi bisa dibilang merupakan gabungan dari teori nativisme dan empirisme. Teori ini menggabungkan unsur bakat dan lingkungan atau pendidikan. Kedua unsur tersebut dinilai saling memiliki pengaruh dalam proses perkembangan anak.

Teori konvergensi dipelopori oleh seorang ahli pendidikan asal Jerman, William Stern (1871-1938). Menurut dia, anak yang dilahirkan ke dunia sudah disertai dengan pembawaan baik maupun buruk.

Mengutip buku Psikologi Pendidikan: Implikasi dalam Pembelajaran (2021:17) karangan Fadhilah Suralaga, teori konvergensi meyakini bahwa bakat bawaan anak tidak dapat berkembang secara optimal, apabila tidak ada dukungan dari faktor lingkungannya. Begitu pula sebaliknya, lingkungan yang baik tidak akan menghasilkan perkembangan anak yang ideal, apabila tidak terdapat faktor bakat bawaan.

William Stern, melalui teori ini menyimpulkan bahwa semua yang berkembang dalam diri individu dan melalui hasil pendidikan ditentukan oleh faktor pembawaan sekaligus juga oleh lingkungannya.

Teori konvergensi dipandang lebih realistis dan paling cocok dengan keadaan masyarakat di sekitar kita. Maka itu, teori konvergensi diikuti oleh banyak pakar pendidikan.

Baca juga artikel terkait TEORI PENDIDIKAN atau tulisan lainnya dari Reynata Sanjaya

tirto.id - Pendidikan
Kontributor: Reynata Sanjaya
Penulis: Reynata Sanjaya
Editor: Addi M Idhom