Menuju konten utama

Pensiunan Disabilitas Kehilangan Bansos PKH karena Desil 10

Suwarno yang merupakan pensiunan pustakawan sejak 2015 lalu kehilangan bansos PKH padahal membutuhkannya demi bertahan hidup.

Pensiunan Disabilitas Kehilangan Bansos PKH karena Desil 10
Suwarno (70) warga Jogoyudan, Gowongan, Kemantren (Kecamatan) Jetis, Kota Yogyakarta. Salah satu warga yang terdampak dari ketidak akuratan data dalam penentuan desil. (FOTO/Cahyo Purnomoedi)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Permasalahan penentuan desil yang tidak akurat membawa dampak bagi masyarakat. Salah satunya kehilangan jatah bantuan sosial (bansos) padahal masuk kategori penerima bantuan.

Di Yogyakarta, salah satu warga yang terdampak dari ketidakakuratan data dalam penentuan desil ini adalah Suwarno (70), warga Jogoyudan, Gowongan, Kemantren (Kecamatan) Jetis, Kota Yogyakarta.

Suwarno, yang merupakan pensiunan pustakawan salah satu universitas di Yogyakarta, harus kehilangan akses bantuan sosial Program Keluarga Harapan (PKH) karena ditempatkan di Desil 10.

Sebagai pensiunan pustakawan sejak tahun 2015 lalu, Suwarno mengaku tiap bulan hanya mendapatkan pemasukan uang pensiun Rp900 ribu. Jumlah uang pensiun itu, kata Suwarno, harus digunakan dengan irit agar bisa dipakai bertahan hidup selama sebulan.

"Saya pensiunan. Perbulan dapat gaji Rp 900 ribu. Itu ya cuma buat makan. Alhamdulillah listrik dapat diskon. Air (PDAM) cuma bayar abonemen," ucap Suwarno, Jumat (28/8/2026).

Suwarno mengatakan pasca kehilangan akses PKH, dia sempat bertanya ke petugas kelurahan. Saat itu, Suwarno mendapat jawaban jika dirinya masuk kekategori Desil 10.

Lansia di Kota Yogyakarta Kehilangan Akses Bansos

Suwarno (70) warga Jogoyudan, Gowongan, Kemantren (Kecamatan) Jetis, Kota Yogyakarta. Salah satu warga yang terdampak dari ketidak akuratan data dalam penentuan desil. (FOTO/Cahyo Purnomoedi)

"Dua minggu lalu saya ke sana (Kantor Kelurahan). Cari tahu ke Kelurahan. Katanya masak Desil 10. Katanya begitu. Saya aja nggak tahu Desil itu apa," ungkap Suwarno.

Suwarno mengungkapkan rumah tempatnya tinggal di Jogoyudan ini merupakan rumah warisan. Saat ini, Suwarno menjadi generasi ketiga yang tingal di rumah warisan yang berada di gang sempit, tidak jauh dari Sungai Code ini.

"Ini warisan bapak. Dari Mbah (Kakek) ke Bapak terus ke saya. Saya generasi ketiga. Saya tinggal sama keluarga tapi istri meninggal tahun 2010. Ibu meninggal tahun 2019. Anak dua sudah mentas (berkeluarga) semua. Saya tinggal sendiri," urai Suwarno.

Suwarno mengaku kaget saat tahu dimasukkan ke Desil 10. Suwarno menceritakan sepeda motor saja dirinya tidak punya. Saat masih bekerja, Suwarno mengandalkan bus kampus untuk berangkat dan pulang kerja.

"Saya dimasukkan Desil 10. Setelah tahu apa itu Desil 10, berarti saya kaya dung. Harusnya saya punya mobil, punya motor, punya segalanya, tapi faktanya kan enggak," urai Suwarno.

Sebelum dimasukkan ke Desil 10, Suwarno menyebut dirinya memang mendapatkan bansos berupa PKH. Sayangnya, saat ini dia tidak lagi mendapatkan akses bansos itu. Suwarno mengakui meski besaran bansos yang diterimanya tidak besar namun cukup membantunya untuk menambal biaya kebutuhan hidup.

"Pokoknya dulu tiap tiga bulan sekali PKH-nya turun. Tiga bulan cuma Rp 600 ribu. Artinya satu bulan Rp200 ribu (menerimanya)," tutup Suwarno.

Baca juga artikel terkait DESIL atau tulisan lainnya dari Cahyo PE

tirto.id - Flash News
Kontributor: Cahyo PE
Penulis: Cahyo PE
Editor: Andrian Pratama Taher