Menuju konten utama

Penelitian Sebut Tekanan Darah Tinggi Tidak Selalu Buruk

Hasil penelitian menemukan bahwa, hipertensi tak selamanya buruk untuk kesehatan.

Penelitian Sebut Tekanan Darah Tinggi Tidak Selalu Buruk
Ilustrasi. Seorang pasien sedang memeriksakan tekanan darahnya. Foto/iStock

tirto.id - Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan faktor risiko untuk beberapa kondisi kesehatan, termasuk masalah kardiovaskular, diabetes, dan masalah metabolisme lainnya.

Namun, apakah tekanan darah tinggi selalu berdampak negatif?

Penelitian dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) kepada 75 juta orang dewasa di Amerika Serikat yang memiliki tekanan darah tinggi menemukan bahwa tekanan darah tinggi terkadang memiliki efek perlindungan.

Hipertensi terjadi ketika seseorang memiliki tekanan darah sistolik 130 mm Hg atau lebih. Secara umum, dokter menyarankan pasien mereka terutama orang dewasa yang lebih tua untuk terus memantau tekanan darah mereka sendiri dan tetap memeriksanya.

Hal ini untuk memastikan bahwa itu tidak mencapai ambang batas hipertensi, yang oleh banyak profesional kesehatan dianggap sebagai faktor risiko penyakit jantung dan stroke.

Sekarang, peneliti dari Charité, Universitätsmedizin Berlin di Jerman menunjukkan bahwa beberapa orang tua mungkin tidak menghadapi masalah kesehatan lain jika mereka memiliki tekanan darah tinggi.

Bahkan, para peneliti mencatat, beberapa orang berusia 80-an menuai manfaat pada hipertensinya.

Studi baru yang diterbitkan European Heart Journal ini mengamati 1.628 wanita dan pria dengan usia rata-rata 81 tahun.

Semuanya berusia 70 atau lebih ketika mereka diteliti pada tahun 2009, dan mereka semua mengikuti perawatan anti-hipertensi.

Para peneliti mengumpulkan data tentang status kesehatan para peserta melalui Berlin Initiative Study, sebuah proyek penelitian Charite.

Mereka menanyai peserta setiap 2 tahun dan menilai tekanan darah mereka, di antara pengukuran kesehatan lainnya.

Saat penelitian berjalan 6 tahun, para peneliti melakukan analisis statistik untuk mengetahui bagaimana tekanan darah dapat memengaruhi risiko kematian seseorang.

Mereka juga menyesuaikan faktor pembaur potensial, seperti jenis kelamin, pilihan gaya hidup, indeks massa tubuh, dan berapa banyak obat untuk tekanan darah tinggi yang diminum setiap orang.

Hasilnya, para peneliti melihat bahwa orang berusia 80 tahun dan lebih yang memiliki tekanan darah lebih rendah sekitar 140/90 mm Hg atau di bawah, sebenarnya memiliki risiko kematian 40 persen lebih tinggi daripada rekan dengan tekanan darah melebihi ambang batas itu.

Selain itu, peneliti juga menekankan bahwa orang dengan tekanan darah lebih rendah dari 140/90 mm Hg memiliki risiko kematian 61 persen lebih tinggi daripada mereka yang tekanan darahnya tetap tinggi yang mengonsumsi obat dan melakukan perawatan anti-hipertensi.

"Sebagai langkah selanjutnya, kami ingin mempelajari kelompok pasien mana yang benar-benar mendapat manfaat dari perawatan antihipertensi," jelas penulis penelitian, Elke Schäffner seperti dikutip Medical News Today.

Infografik SC Hipertensi

Infografik SC Hipertensi. tirto.id/Rangga

Baca juga artikel terkait HIPERTENSI atau tulisan lainnya dari Febriansyah

tirto.id - Kesehatan
Penulis: Febriansyah
Editor: Yandri Daniel Damaledo