Menuju konten utama

Penelitian Sebut Sejumlah Merk Makanan Bayi Mengandung Logam Berat

Penelitian menguji 50 produk termasuk merk organik, dan menemukan setidaknya ada satu zat berbahaya di dalam setiap produk.

Penelitian Sebut Sejumlah Merk Makanan Bayi Mengandung Logam Berat
ilustrasi makanan bayi.istockphoto/Getty Images

tirto.id - Penelitian dari Consumer Reports, sebuah Lembaga independent di Amerika Serikat mengungkapkan sejumlah merk dari jenis makanan atau sereal bayi mengandung banyak arsenik anorganik yang memiliki sifat beracun.

Penelitian tersebut menguji 50 produk termasuk merk organik, dan menemukan setidaknya ada satu zat berbahaya di dalam setiap produk.

Laporan berjudul Heavy Metals in Baby Food: What You Need to Know menemukan bahwa ada logam berat di dalam sejumlah produk. Lima belas dari 50 produk terkandung cukup kontaminan yang berpotensi untuk menimbulkan risiko kesehatan bagi seorang anak yang makan satu porsi atau kurang dalam sehari.

Sementara itu, logam berat itu sendiri dapat mengganggu perkembangan kognitif pada anak-anak. Logam berisiko karena punya kecenderungan untuk menyerap lebih banyak zat-zat pada anak kecil daripada orang dewasa.

Arsenik anorganik dalam air minum telah ditemukan dapat menurunkan skor IQ anak-anak lima hingga enam poin.

Ketika logam berat menumpuk di dalam tubuh dari waktu ke waktu, mereka dapat meningkatkan risiko kanker, masalah reproduksi, diabetes tipe 2, penyakit kardiovaskular dan masalah kognitif.

Logam berat sebenarnya adalah unsur yang secara alami ada di tanah dan air. Pestisida, pertambangan, dan polusi akan meningkatkan konsentrasi logam berat ini. Selain itu, pertanian serta proses pembuatan makanan juga berkontribusi lebih banyak lagi dalam peningkatan logam berat ini.

Dampaknya, beberapa tanaman mau tidak mau menyerap lebih banyak logam berat. Beras, misalnya mengambil arsenik baik karena fisiologi khususnya dan karena sering tumbuh di ladang yang dibanjiri air, yang merupakan sumber utama dari kehadiran logam.

“Harusnya produse/perusahaan pembuat sereal mampu menjaga makanan bayi bebas racun. Ini menunjukkan perusahaan tidak menerapkan langkah-langkah keamanan dengan baik. Jika industri dapat melakukan pekerjaan yang lebih baik dalam mencari makanan mentah, itu akan jauh lebih baik untuk mengurangi bahaya. Dan kemudian jika produsen mempertimbangkan kontaminasi melalui jalur internal seperti peralatan, proses, dan wadah yang mereka gunakan untuk membuat makanan, saya pikir kita akan baik-baik saja,” kata James Dickerson, kepala petugas ilmiah di Consumer Reports seperti dilansir dari Sciencetific Amercan.

Penemuan logam dan arsenik ini juga pernah dilaporkan oleh The Clean Label Project, sebuah kelompok yang meneliti tentang makanan bayi. Laporan berjudul Infant Formula and Baby Food Project Summary itu menemukan banyak produk makanan bayi yang positif mengandung arsenik, termasuk 80% susu formula bayi dan, itu bukan satu-satunya kontaminan berbahaya yang ditemukan.

The Clean Label Project advokasi nirlaba untuk pelabelan transparan, menguji makanan bayi, susu formula, minuman balita dan makanan ringan yang dibeli dalam 5 bulan terakhir. Setelah sekitar 530 produk makanan bayi diuji, para peneliti menemukan 65% dari produk yang diuji positif arsenik, 36% untuk timbal, 58% untuk kadmium dan 10% untuk akrilamida.

Pada tahun 2018 kemarin, sekelompok ilmuwan dan pakar kebijakan menyarankan agar melakukan pemeriksaan mulai dari bawah seperti dari pertanian. Langkah-langkah ini akan membantu melawan masalah di seluruh dunia. Terutama di negara-negara berkembang di mana zat beracun dalam makanan bayi bisa memperparah anak-anak yang sudah menderita gizi buruk.

Sehingga diharapkan perusahaan makanan dapat melakukan pengujian yang lebih baik dan lebih sering pada tanaman sumber mereka serta metode pabrik mereka. Ilmuwan, dokter, dan pemerintah juga dapat mengkomunikasikan risiko kesehatan ini dengan lebih baik dan cara terbaik.

Baca juga artikel terkait BAYI atau tulisan lainnya dari Febriansyah

tirto.id - Gaya hidup
Penulis: Febriansyah
Editor: Yulaika Ramadhani