tirto.id - Direktur Utama (Dirut) Perumda (PD) Pasar Jaya, Agus Himawan, mengatakan, Pasar Jaya telah merevitalisasi sebanyak 67 pasar yang berada di Jakarta hingga September 2025.
Revitalisasi yang dilakukan di antaranya dengan melakukan pengecatan ulang, sera perbaikan toilet, area parkir, taman, dan juga eskalator.
“Perubahan signifikan terlihat pada perbaikan fisik, peningkatan fasilitas, hingga penguatan tata kelola,” kata Agus dalam acara diskusi Balkoters Talk yang digelar di Balai Kota Jakarta, Rabu (24/9/2025).
Untuk merevitalisasi pasar, Perumda Pasar Jaya melakukannya dengan tiga skema pendanaan, yakni dengan menggunakan dana internal, Penyertaan Modal Daerah (PMD), serta kemitraan dengan swasta seperti di Pasar Pramuka, Jembatan Besi, Senen Blok 6, dan Pasar Minggu.
Selain merevitalisasi pasar, saat ini Pasar Jaya disebutnya juga telah membangun pusat pengolahan sampah mandiri di Pasar Induk Kramat Jati. Pasar Jaya juga menggencarkan transformasi digital di sejumlah pasar.
Menurut Agus, saat ini transformasi digital berupa penerapan sistem pembayaran nontunai sudah berlaku di 57 pasar, dan pengelolaan digital sudah berlaku di 30 pasar.
“Tahun ini tambahan 30 pasar lagi masuk program digitalisasi,” kata Agus.
Agus menambahkan, saat ini Pasar Jaya juga tengah mengembangkan konsep hunian di atas pasar melalui Sertifikat Kepemilikan Bangunan Gedung (SKBG) selama 60 tahun. Proyek hunian di atas pasar itu saat ini sudah dimulai di Rusun Pasar Rumput.
"Lima lokasi strategis lain, seperti Pasar Minggu dan Pasar Senen, disiapkan untuk pengembangan serupa," tuturnya.
Sementara itu, Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PDI Perjuangan, Pandapotan Sinaga, turut mendorong wacana pembangunan hunian di atas pasar-pasar di Jakarta itu.
Menurutnya, saat ini Jakarta masih kekurangan 250 sampai 300 ribu hunian layak. Oleh karenanya, kehadiran hunian di atas pasar diharapkan mampu menjawab kebutuhan tersebut.
“Jakarta kekurangan 250 ribu sampai 300 ribu unit hunian layak. Pasar Jaya punya aset strategis, jangan berhenti di atas kertas,” ujar Pandapotan dalam acara yang sama.
Pandapotan menekankan pola pembiayaan tidak bisa lagi hanya mengandalkan pemerintah pusat.
Selain itu, skema jangka panjang dengan pihak ketiga dan dana corporate social responsibility (CSR) dari swasta harus dioptimalkan. Dengan begitu, akses masyarakat terhadap hunian yang layak di tengah kota dapat tercapai.
“Hunian di atas pasar akan memberi akses lebih mudah bagi masyarakat untuk tinggal di tengah kota,” sebutnya.
Penulis: Naufal Majid
Editor: Andrian Pratama Taher
Masuk tirto.id

































