Menuju konten utama

Partai Berkarya: Pemerintah Harusnya Tiru Kepemimpinan Soeharto

Sekjen Partai Berkarya menilai ada beberapa hal di era kepemimpinan Soeharto yang patut ditiru, misalnya, soal kebijakan di bidang ekonomi dan keamanan.

Partai Berkarya: Pemerintah Harusnya Tiru Kepemimpinan Soeharto
Sekjen Partai Berkarya Priyo Budi Santoso melakukan salam komando dengan Wakil Ketua Umum Yayat Sudrajat dan Ketua DPW Partai Berkarya Banten Heldy Agustian saat Konsolidasi Partai Berkarya di Cilegon, Selasa (17/4/2018). ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman

tirto.id - Partai Berkarya mengadakan hari ulang tahunnya yang kedua pada Minggu (15/7/2018). Pada kesempatan tersebut, Sekretaris Jenderal Partai Berkarya Priyo Budi Santoso mengatakan bahwa keberadaan Partai Berkarya adalah untuk memasukkan buah kepemimpinan Soeharto ke pemerintahan sekarang.

Hal ini disampaikan oleh Priyo di Gedung DPP Partai Berkarya kawasan Jakarta Selatan. Ia mengatakan, ada beberapa hal di era kepemimpinan Soeharto atau biasa disebut Orde Baru yang patut ditiru. Misalnya, soal kebijakan di bidang ekonomi dan keamanan.

“Kami meyakini beberapa ajaran Pak Harto mengenai trilogi pembangunan: jalur pemerataan, pertumbuhan ekonomi, dan menjaga stabilitas keamanan yang mantap. Itu bisa dijaga jika pemerintah mau sedikit saja mengikuti beberapa ajaran kebaikan pada zaman Pak Harto,” tegas Priyo.

Ia menilai solusi ini bisa menjawab permasalahan yang terjadi. Utang Indonesia dianggap sudah kelewatan karena menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah ekonomi Indonesia. Pada Februari 2018, utang Indonesia mencapai Rp4.034 triliun. Utang ini membekak daripada zaman Orde Baru sebesar Rp939,5 triliun.

“Kami juga mengidolakan Bapak Pembangunan Pak Harto sebagai ikon,” kata Priyo. “Pak Harto selama ini dikenang sebagai pemimpin yang besar jasa-jasanya, sama juga Bung Karno kita akui besar sekali jasa-jasanya.”

Partai Berkarya yang dikelola yang diketuai oleh Hutomo Mandala Putra alias Tommy Suharto ini meyakini pihaknya bisa menjual Soeharto sebagai daya tarik. Dalam Pileg 2019 mendatang, partai ini juga meyakini bisa meraih 80 kursi di parlemen.

“Ini memang upaya kami kembali berusaha, tapi kalau masyarakat tidak mau mempercayai kami dan membutuhkan waktu, ya sudah, yang penting kami sudah berusaha,” kata Tommy di acara Mata Najwa awal Juli 2018 lalu.

2019, Trah Suharto Kembali ke Politik

Pemilihan legislatif dan pemilihan presiden 2019 nanti menjadi ajang bagi Partai Berkarya untuk mengajukan calon-calon legislatif. Partai Berkaya membuka kesempatan bagi keturunan Soeharto untuk kembali menguasai dunia politik.

Meski selama ini, anak Soeharto yakni Titiek Suharto menjadi kader Partai Golkar, Priyo merasa hak politik trah presiden ke-dua Indonesia itu menjadi dikebiri. Alasannya adalah karena tidak ada lagi pimpinan partai dari trah Soeharto.

“Setelah sekian waktu keluarga cendana dipinggirkan dan tersingkirkan dan selalu dicerca. Inilah saatnya ketika rakyat bangun kembali dan kami diberi kesempatan untuk membangun partai,” tegas Priyo.

Namun sebagai partai yang tengah berkembang, Priyo menegaskan Partai Berkarya tidak akan menjatuhkan dukungan kepada Prabowo Subianto atau Joko Widodo untuk Pilpres 2019. Sampai saat ini, Partai Berkarya masih fokus pada kadernya untuk pemilu legislatif.

Partai Berkarya menargetkan 80 kursi di parlemen secara nasional. Itu berarti dari seluruh dapil, ada caleg dari Partai Berkarya yang dipilih. Sampai sekarang, Priyo mengaku sudah ada 400-an orang yang bergabung bersama Partai Berkarya untuk menjadi caleg. Targetnya adalah 575 orang. Soal nama-nama caleg ini, Priyo belum bisa mengumumkan pada publik.

“Sebenarnya kami rencanakan hari ini saat ulang tahun, tapi karena kita masih menunggu tokoh-tokoh yang cukup populer gabung dengan kami, jadi kami menunggu sampai besok atau lusa,” ujarnya.

Baca juga artikel terkait PEMILU 2019 atau tulisan lainnya dari Felix Nathaniel

tirto.id - Politik
Reporter: Felix Nathaniel
Penulis: Felix Nathaniel
Editor: Yuliana Ratnasari