Menuju konten utama

Panen Rumput Laut Lebih dari 20 Ribu Ton, NTT Butuh Investor

Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi daerah penghasil rumput laut di Indonesia. Panen rumput laut di provinsi ini bisa mencapai lebih dari 20.000 ton per tahun, namun hingga kini belum banyak investor yang menanamkan modalnya untuk menggerakkan bisnis tersebut.

Panen Rumput Laut Lebih dari 20 Ribu Ton, NTT Butuh Investor
Petani memikul rumput laut hasil panennya. antara foto/ahmad subaidi/rei/mes/15.

tirto.id - Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi daerah penghasil rumput laut di Indonesia. Panen rumput laut di provinsi ini bisa mencapai lebih dari 20.000 ton per tahun, namun hingga kini belum banyak investor yang menanamkan modalnya untuk menggerakkan bisnis tersebut.

Sebelumnya, Menteri Perindustrian Saleh Husin beberapa waktu lalu mengatakan saat ini Indonesia menjadi negara yang menguasai suplai rumput laut kering dunia dengan produksi 237,8 ribu ton. Jumlah itu sekitar 56 persen total produksi dunia yang mencapai 424 ribu ton.

"Potensinya mesti kita manfaatkan karena ada lebih 500 jenis produk turunan rumput laut. Saat ini sebanyak 152,9 ribu ton atau 64,3 persen rumput laut kering diekspor," kata Menteri asal NTT tersebut.

Sementara itu, menurut Bupati Sabu Raijua, NTT Marthen D. Tome petani rumput laut di daerahnya bisa menghasilkan 20.000 ton rumput laut. "Sepertinya di Sabu Raijua saja yang panen rumput lautnya dalam beberapa tahun terakhir ini meningkat sangat pesat dari hanya 10.000 ton per tahun menjadi 20.000 ton per tahun," katanya di Kupang, Selasa (5/42016).

Marthen mengatakan potensi jual rumput laut sangat bagus. Oleh karena itu untuk bersaing dengan pedagang serta pengusaha, pemerintah daerah melakukan pembelian rumput laut dari petani rumput laut dengan harga yang tinggi.

"Saat ini harganya bisa mencapai Rp7.000 per kilogram yang sebelumnya hanya Rp4.000 per kilogram. Dengan cara seperti itulah makin banyak kompetisi yang semua keuntungannya bisa diperoleh oleh petani rumput laut kita," tambahnya.

Di kabupaten lain di NTT, Rote Ndao, panen rumput laut bisa mencapai 23.007 ton per tahun, namun pengolahannya masih dilakukan secara tradisional. Menurut Wakil Bupati Rote Ndao Jonas C. Lun panen rumput laut itu dibeli para pengusaha dari Surabaya.

NTT butuh investor pengelola rumput laut

Pemerintah Kabupaten Rote Ndao menyatakan sampai saat ini belum ada investor yang menanamkan modalnya di kabupaten Rote Ndao untuk mengelola rumput laut yang menjadi komoditas unggulan dari daerah itu.

"Sampai saat ini belum ada investor yang datang ke daerah ini, padahal potensi rumput laut di daerah ini cukup menjanjikan," kata wakil Bupati Rote Ndao Jonas C. Lun, di Kupang, Selasa (5/4/2016).

Wakil bupati itu berharap ke depan ada investor yang datang dan membangun pabrik pengolahan di pulau tersebut agar pengolahannya tetap dilakukan di daerah itu.

"Sekarangkan sudah ada kapal Caraka Jaya Niaga III-2 (kapal tol laut Pelni). Kalau ada pabriknya di sini tinggal dikelola baru dikirim dalam bentuk bahan yang sudah jadi," tutur Jonas.

Hal senada juga disampaikan oleh Bupati Sabu Raijua Marthen D. Tome yang ditemui Antara di Kupang. Menurutnya sampai saat ini belum ada investor yang masuk untuk membangun pabrik pengolahan rumput laut di daerah itu. "Oleh karena itu, kami membangun pabrik sendiri, kemudian hasilnya dikirim ke para pengusaha di Surabaya," kata Marthen. (ANT)

Baca juga artikel terkait HARGA RUMPUT LAUT atau tulisan lainnya

Reporter: Agung DH