Orang-Orang Katolik dan Kristen di Sekitar Soeharto

Leonardus Benny Moerdani. Foto/istimewa
Oleh: Petrik Matanasi - 25 Desember 2019
Dibaca Normal 3 menit
Selama berkuasa, Soeharto kerap menuai dukungan dan mempunyai orang-orang kepercayaan dari kalangan Katolik dan Kristen.
Selain dukungan militer, kekuatan Soeharto setelah tumbangnya Orde Lama juga didukung oleh orang-orang sipil, termasuk dari kalangan Katolik. Bahkan yang mula-mula memopulerkan istilah "Orde Baru" adalah orang Partai Katolik, yakni Drs. Lo Siang Hien alias Lo Ginting.

Para peminat teori konspirasi bahkan kerap mengaitkan Soeharto dan Orde Baru dengan Pater Beek atau Josephus Gerardus Beek dari ordo Jesuit. Tokoh ini disebut-sebut aktif dalam pemberantasan komunis di Indonesia: narasi yang menjadi tulang punggung dalam menegakkan Orde Baru.

“[Pater Beek] aktif dalam gerakan bawah tanah melawan komunis," tulis Salim Said dalam Dari Gestapu ke Reformasi: Serangkaian Kesaksian (2013:33).

JB Soedarmanta dalam Pater Beek SJ: Larut tetapi Tidak Hanyut (2008:136-149) menyebut Beek pernah membangun Biro Dokumentasi. Ia juga menyebutkan bahwa Beek pernah berhubungan dengan para pemuda seperti Harry Tjan Silalahi, Cosmas Batubara, dan Jusuf Wanandi: orang-orang yang kelak menjadi tokoh penting di era Orde Baru.


CSIS dan Para Pembantu daripada Soeharto

Harry Tjan Silalahi adalah mantan pemimpin Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) yang menjadi salah satu pendukung Soeharto di awal Orde Baru, dan pernah menjadi anggota parlemen. Menurut JB Soedarmanta dalam Tengara Orde Baru: Kisah Harry Tjan Silalahi (2004:141), Harry termasuk orang yang terpesona akan harapan yang ditawarkan Orde Baru.

Sementara Lo Ginting, menurut Leo Suryadinata dalam Prominent Indonesian Chinese: Biographical Sketches 4th edition (2015:40), sempat kuliah di Sekolah Tinggi Ekonomi Katolik di Tilburg, Belanda, dari tahun 1948 sampai 1955. Sepulangnya ke Indonesia, ia masuk Partai Katolik. Tahun 1960, Lo Ginting ikut mendirikan Universitas Atmajaya dan aktif di Yayasan Prasetya Mulia.

Selain mereka, ada juga Wanandi bersaudara. Pada masa-masa pengganyangan para simpatisan PKI setelah peristiwa G30S, mereka ikut terlibat. Seperti Harry Tjan Silalahi, Sofjan dan Jusuf sama-sama pernah aktif di PMKRI. Setelah Soeharto menjadi Presiden, Sofjan pernah menjadi sekretaris Soedjono Hoemardani, salah satu asisten pribadi Presiden Soeharto. Belakangan, Wanandi bersaudara dikenal dalam dunia bisnis.

Orang Katolik lainnya yang mendukung Soeharto adalah Jusuf Panglaykim yang seorang akademisi. Ia mengajar di almamaternya, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Panglaykim pernah belajar di Harvard pada awal 1960-an. Ia menyambut gembira kehadiaran Orde Baru. Menurutnay dalam Prinsip-Prinsip Kemajuan Ekonomi (2011:403), Orde Baru adalah masa dimulainya ekonomi terbuka.

Ketika Orde Baru mulai berjalan, Jusuf Wanandi dan Harry Tjan Silalahi berdiskusi panjang lebar soal masa depan Indonesia. Menurut mereka, pemerintahan Orde Baru yang militeristis, harus didampingi para pemikir sipil. Keduanya lalu mendekati dua orang militer yang dekat dengan Presiden daripada Soeharto, yaitu Ali Moertopo dan Soedjono Hoemardani.

“Merekalah yang menjadi pelindung wadah pemikir kami, yang kami namai Centre for Strategic and International Studies (CSIS),” kata Jusuf Wanandi dalam Shades of Grey: A Political Memoir of Modern Indonesia 1965-1998 (2012:110).

Orang-orang CSIS yang terkenal di antaranya adalah Sofyan Wanandi, Jusuf Wanandi, dan Panglaykim. CSIS dianggap sebagai lembaga yang banyak memengaruhi kebijakan-kebijakan yang diterapkan rezim Orde Baru.

Di luar orang-orang CSIS, sejumlah tokoh Katolik dan Kristen Protestan yang dekat dengan Soeharto antara lain Cosmas Batubara (Menteri Negara Perumahan Rakyat, dan Menteri Tenaga Kerja), Radius Prawiro (Menteri Keuangan, Menteri Perdagangan, dan Gubernur Bank Indonesia) Johannes Baptista Sumarlin (Ketua BPK, Menteri Keuangan, Ketua Bappenas, dan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara), dan Joseph Soedradjad Djiwandono—ipar Prabowo Subianto—yang pernah menjadi Gubernur Bank Indonesia.



Benny dan Loyalitas Kalangan Minoritas

Salah satu orang kepercayaan Soeharto dari kalangan militer adalah Leonardus Benjamin Moerdani alias Benny Moerdani. Ia mula-mula bertugas di kesatuan baret merah. Saat berdinas di Kostrad, pangkatnya telah mayor dan berada di bawah komando Ali Moertopo, tangan kanan Soeharto. Benny kemudian lebih dikenal sebagai jenderal intel.

Sebelum terjadi peristiwa Malari tahun 1974, Benny sempat ditugaskan ke luar negeri. Setelah kejadian tersebut, ia disuruh pulang untuk menjadi Asisten Intelijen Menteri Pertahanan dan Keamanan, dan Asisten Intelijen Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib). tahun 1983, Benny menggantikan posisi M. Jusuf sebagai Panglima ABRI.

Sebelum M. Jusuf (Bugis-Islam), Panglima ABRI adalah seorang Kristen Protestan bernama Maraden Panggabean. Benny adalah orang Katolik pertama yang menjadi Panglima ABRI. Dalam pemilihan tiga pemimpin tentara ini--yang tentu saja diharapkan akan setia kepada kekuasaan--gaya Soeharto tampak seperti prinsip Benny Moerdani.

"Kalau mau mendapatkan orang yang loyal, carilah dari kalangan minoritas," begitu prinsip Benny Moerdani seperti dicatat Salim Said (2013:343).

Kepada Harry Tjan Silalahi, seperti dicatat Salim Said (2013:348), Benny pernah bilang, “Kita sebagai minoritas harus kerja dua kali lebih keras daripada mereka yang mayoritas.”

Saat Benny menjadi panglima ABRI, beberapa perwira non-muslim seperti Sintong Pandjaitan—yang memang cemerlang karena operasi pembebasan Woyla 1981--diangkat menjadi Komandan Jenderal (Danjen) pasukan elite Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha) yang sekarang bernama Komando Pasukan Khusus (Kopassus). Selain Sintong, perwira terkenal yang dianggap sebagai anak emas Benny Moerdani adalah Luhut Binsar Panjaitan.

Masih menurut catatan Salim Said, berdasarkan penuturan Mayor Jenderal Syamsudin--perwira Kopassus--posisi asisten intelijen di berbagai Kodam saat Moerdani menjabat sebagai Panglima ABRI, kerap diisi orang-orang non-muslim. Seorang atase pertahanan Amerika Serikat di Jakarta merasa heran, soalnya 30 persen perwira intelijen Indonesia pada tahun 1987 diisi oleh orang-orang Katolik.

Setelah Benny lengser dari jabatan Menteri Pertahanan, para perwira yang dianggap anak emasnya tidak mendapat mendapat jabatan strategis lagi di ABRI. Luhut Binsar Panjaitan memang bisa menjadi jenderal, namun ia tidak pernah menjadi panglima apapun di ABRI.

Ketika Soeharto mulai mesra dengan kelompok Islam, seorang perwira Kristen diangkat menjadi Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara, yaitu Mayor Jenderal Tiopan Bernhard Silalahi.

Baca juga artikel terkait TOKOH KATOLIK atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Irfan Teguh
DarkLight