OPPO F5 Dashing Blue, Strategi OPPO Menguji Pasar

Infografik OPPO F5
Oppo F5 Dashing Blue. FOTO/oppo.com
Oleh: Ahmad Zaenudin - 9 Februari 2018
Dibaca Normal 2 menit
Strategi sebuah merek untuk menjaga pasar antara lain dengan meluncurkan produk edisi terbatas sebelum penjualan massal, ini dilakukan oleh OPPO dengan OPPO F5 Dashing Blue.
tirto.id - Mari kita mulai dari fakta pada Oktober 2017 lalu, OPPO, produsen smartphone asal Cina, memperkenalkan seri produk terbaru dengan nama OPPO F5. OPPO F5 merupakan sebuah smartphone berkonsep edge-to-edge display berukuran 6 inci dengan screen-to-body ratio yang mencapai angka 78,1 persen. Dengan layar selebar itu sudah sangat mewakili sebagai ponsel pintar "zaman now".

OPPO F5 dibekali dengan prosesor Cortex-A53, dan kemampuan grafis yang menggendong Mali-G71 MP2. Sebagai smartphone yang menyasar para penggemar selfie, di tubuh OPPO F5 disematkan kamera depan beresolusi 20MP, plus tambahan kemampuan kecerdasan buatan atau artificial intelligence. Suatu konsep yang belum lazim dilakukan produsen lain.

Fakta berikutnya adalah sang “Selfie Expert” OPPO F5 akhirnya meluncur ke pasar pada 13 November 2017 di Indonesia. Setelah tiga bulan meluncur, OPPO F5 memiliki beberapa versi antara lain F5 Youth, F5 6GB, dan F5 Passion Red. Semua varian OPPO ini mampu menyumbang 35 persen dari total penjualan OPPO di Indonesia. Kenyataan ini tentu tak mengherankan bila OPPO mengeluarkan varian baru OPPO F5.



Akhirnya, pada Kamis (8/12), di Denpasar, Bali, OPPO meluncurkan varian baru dengan nama OPPO F5 Dashing Blue. Sekilas, tak ada perbedaan dibandingkan dari semua varian OPPO F5 yang pernah lahir. Varian OPPO F5 Dashing Blue hanya memperkenalkan warna baru.

Aryo Meidianto, Public Relation Manager OPPO Indonesia mengatakan bahwa varian terbaru OPPO ini berbeda terutama terletak pada material bodi yang digunakan.

“Ini meterialnya lebih glossy. Material biru metalik kita pakai coating khusus. Impresi yang berbeda,” kata Aryo saat peluncuran F5 Dashing Blue. Ia menyatakan bahwa peluncuran warna baru F5 sebagai “respons dari konsumen” berdasarkan survei yang dilakukan oleh OPPO. Jumlah varian OPPO F5 Dashing Blue yang dilepas ke pasar mencapai ribuan dengan harga Rp4,199 juta.

Sebelum OPPO F5 Dashing Blue meluncur, OPPO Indonesia telah lebih dahulu merilis edisi terbatasnya dengan nama “F5 Dashing Blue Limited Special Package” sebagai OPPO F5 Dashing Blue yang dikemas bersamaan dengan produk kosmetik berupa lipstik dari M.A.C berwarna chilli red dan hoodie pair-tee yang dibuat Rinaldy Yunardi, perancang asal Indonesia.

Edisi terbatas itu benar-benar hanya tersedia 100 unit, dibanderol Rp4,5 juta per unit. Klaim OPPO, sebanyak 100 unit edisi terbatas itu ludes hanya dalam waktu 2 menit di penghujung Januari lalu. Alinna Wenxin, Direktur Pemasaran OPPO Indonesia mengatakan edisi terbatas ditujukan bagi penggemar fesyen dan koleksi.

“Orang yang suka fesyen, suka sama OPPO, atau suka (dengan) warna baru,” kata Alinna kepada Tirto.



Membaca Strategi Edisi Terbatas Sebuah Produk


Varian smartphone edisi terbatas tak hanya dikeluarkan oleh OPPO. Samsung dan Apple pun melakukannya. Samsung Indonesia misalnya, pernah meluncurkan Samsung Galaxy S8 edisi spesial yang menggandeng lima kreator konten Indonesia: Darbotz, Talitha Maranila, Tulola, Biyan, dan Didik Ninik Thowok. Masing-masing kreator itu, mendesain berbeda unit Samsung Galaxy S8.

Apple memilih mengeluarkan edisi spesial dengan sedikit berbeda. Alih-alih bekerjasama dengan artis atau pihak kreatif lain, produsen ponsel asal California itu menciptakan iPhone 7 versi warna merah. Warna merah itu merupakan hasil kerja sama Apple dengan (RED). Kerja sama untuk membantu menanggulangi HIV/AIDS di Afrika, dari setiap unit iPhone RED yang terjual.


Subramanian Balachander, peneliti dari Purdue University, dalam papernya berjudul “Limited Edition Product: When and When Not to Offer Them” menyatakan peluncuran produk edisi terbatas telah lama dikenal. Pada 1993, Steinway & Sons, salah satu produsen alat musik, merilis piano khusus memperingati hari jadinya yang ke-140 tahun.

Piano yang dijual hanya 140 unit, ludes dalam beberapa jam di pasar. Pada 2004, perusahaan yang sama mengeluarkan piano edisi khusus untuk sebagai penghormatan pada Roger Williams. Hanya delapan unit tersedia pada edisi khusus yang dibuat Steinway & Sons.

Balachander mengatakan bahwa produk berlabel edisi khusus dibuat dengan nilai kelangkaan sebagai bagian fundamental sebuah produk. Ini kemudian menciptakan rasa eksklusivitas bagi para pemiliknya. Selain itu, dengan menciptakan produk edisi terbatas, produsen akan dianggap menciptakan komitmen kualitas pada apa yang dibuatnya. Ini membuat nilai merek perusahaan bisa meningkat. Nilai suatu merek perusahaan meningkat, mengakibatkan efek positif pada produk-produk mereka secara umum.

Balachander, mengutip DeGraba (1995) dalam papernya, menyatakan bahwa produk edisi terbatas dibuat untuk menciptakan kegilaan. Pelanggan dipaksa membeli dengan adu cepat tanpa lama-lama menilai kualitas si produk yang dijual dalam embel-embel edisi terbatas.



Namun, dalam konteks OPPO, Alinna punya penjelasan berbeda. “Meluncurkan edisi terbatas karena sebenarnya kalau kita mau keluarkan warna ke suatu smartphone harus waktu lama. Maksudnya tes lama. Jadi produksi enggak langsung bisa banyak. Produksi enggak gampang langsung banyak,” katanya.

Ini secara tak langsung dapat diartikan bahwa peluncuran F5 Dashing Blue Limited Special Package, berhubungan dengan produksi yang masih terbatas. Sebanyak 100 unit di edisi tersebut, merupakan produk-produk awal sekaligus sebagai uji pasar sebelum mereka merilis OPPO F5 Dashing Blue.

Selain soal produksi, Alinna menyatakan bahwa peluncuran edisi terbatas berhubungan dengan gengsi pemilik. “Memang kita mau yang limited aja, ngasih rasa bangga buat pemilik,” ucapnya.

OPPO sebagai "pencuri" pasar tentu tak hanya bertujuan menjual gengsi produknya kepada konsumen. Namun, juga ia terus mengkreasi pasar agar tetap hidup di persaingan ponsel pintar yang sangat ketat dan dinamis.

Baca juga artikel terkait SMARTPHONE atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Reporter: Ahmad Zaenudin
Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Suhendra
DarkLight