Olimpiade Munich 1972: Kala Darah Israel Tumpah di Tangan Palestina

Dua anggota kepolisisan Jerman Barat bersenjata lengkap mengambil posisi di atap gedung tempat teroris Palestina menyandera tim olimpiade Israel; (5/9/72/). FOTO/AP
Oleh: Akhmad Muawal Hasan - 17 Agustus 2018
Dibaca Normal 4 menit
Jerman Barat ingin menghapus citra militerisme dengan menggelar Olimpiade 1972 yang serileks-rileksnya. Tapi teroris Palestina justru jadi mudah menyusup dari Libya.
Keamanan adalah syarat utama bagi penyelenggaraan sebuah kompetisi olahraga skala regional, apalagi internasional. Asian Games 2018 di DKI Jakarta, misalnya. Isu keselamatan bagi para peserta telah mengencang sejak berbulan-bulan yang lalu.

DKI Jakarta, menurut Biro Pengendalian Operasi Mabes Polri 2017, adalah sarang tindak kejahatan tertinggi. Pihak kepolisian ibukota telah mengadakan berbagai aksi terhadap para kriminal. Mulai dari pembinaan, penangkapan, sampai penembakan yang menyeret hampir satu lusin nyawa.

Mundur ke gelaran Olimpiade 1972 di Munich, Jerman, yang ada justru kebijakan yang kontradiktif: keamanan sengaja dikendurkan oleh Komite Penyelenggara Olimpiade Jerman Barat. Hasilnya adalah salah satu jejak paling berdarah dalam aksi terorisme yang diinisiasi oleh aktivis kemerdekaan Palestina.

Laporan Don Yaeger untuk Sport Illustrated menyatakan bahwa Komite Penyelenggara Olimpiade Jerman Barat ingin sekali ajang empat tahunan itu lepas dari unsur militerisme. Mereka ingin menghapus citra Jerman saat dikuasai Nazi yang mengadakan dan menggunakan Olimpiade 1936 untuk unjuk kekuatan.


Saat aksi terorisme dilancarkan, kompetisi telah memasuki minggu kedua. Seluruh atlet dari 121 negara tak hanya bertanding secara profesional, tetapi juga menjalin komunikasi yang hangat di luar arena. Situasi tersebut memang diharapkan panitia. Mereka menggelar banyak area publik untuk mewujudkannya.

Memang ada personel keamanan bernama Olys yang berseliweran tanpa senjata dan lebih mirip staf kompetisi. Tapi, kata Yaeger, mereka lebih banyak berurusan dengan orang yang mabuk-mabukan dan para calo tiket.

Film dokumenter One Day in September (1999) melukiskan tingkat keamanan di kompleks tinggal atlet dan staf sangat tidak layak untuk ajang sebesar olimpiade. Hampir semua orang bisa keluar masuk sesuka hati. Para atlet bisa menyelinap dan melewati Olys, lalu mengunjungi kamar delegasi negara lain dengan cara melewati pagar pembatas antar-kompleks penginapan atlet.

Yaeger mengutip kekhawatiran beberapa perwakilan Israel atas isu keamanan ini. Kompleks tinggal mereka juga berada di wilayah yang cukup terisolir. Meski dijanjikan akan diberi pengamanan khusus oleh panitia, delegasi Israel tidak melihat realisasinya hingga kompetisi bergulir.


Kekhawatiran mereka terbukti pada Minggu subuh tanggal 5 September. Kisahnya diceritakan secara detil salah satunya oleh Simon Reeve dalam bukunya One Day in September: The Full Story of the 1972 Munich Olympics Massacre and the Israeli Revenge Operation "Wrath of God" (2006).

Delegasi Israel saat itu telah selesai menonton film Fiddler on the Roof (1971) sekaligus makan malam bersama aktornya. Semuanya telah kembali ke kompleks atlet serta mulai memejamkan mata.

Pukul 04.30 waktu setempat, delapan orang berpakaian olahraga menyelinap masuk ke kompleks penginapan atlet Israel. Mereka membawa tas ransel yang penuh dengan senapan serbu, pistol, dan granat. Pagar rantai mereka bisa panjat dengan bantuan atlet asli yang tak mengira bahwa ia sedang membantu teroris.

Delapan orang itu adalah anggota Organisasi Black September Organization (BSO), faksi Organisasi Pembebasan Palestina (PLO). Pimpinannya bernama Luttif Afif. Anggota lain bernama Yusuf Nazzal, Afif Ahmed Hamid, Khalid Jawad, Khalid Jawab, Ahmed Chic Thaa, Mohammed Safady, Adnan Al-Gashey.


Aksi dinamai Operasi Iqrit dan Biram. Iqrit dan Biram adalah adalah nama dua desa di Palestina. Mayoritas penduduknya beragama Kristen. Selama Perang Arab-Israel tahun 1948 mereka diusir paksa oleh Pasukan Pertahanan Israel (IDF).

Sebagian besar pelaku sempat mengalami masa kecil yang normal di Palestina sebelum diusir oleh rezim zionis Israel. Tapi hari itu, aksi mereka digerakkan lebih dari sekedar dendam. Dalam latar belakang agama yang beragam, mereka disatukan oleh nasionalisme demi perjuangan merebut tanah kelahiran.

Afif, misalnya, adalah lelaki yang lahir dari orangtua Yahudi dan Kristen. Ia lahir di Nazareth, sempat ke Jerman Barat untuk belajar jadi insinyur lalu pindah ke Perancis untuk bekerja. Ia memutuskan ikut perjuangan Fattah pada 1966. Hingga awal 1970-an ia masih berjuang demi Palestina dalam platform nasionalis-sekuler.

Saat mengumpulkan para sandera, mereka sempat disibukkan oleh dua pegulat dan pelatih yang mencoba membela diri. Hasilnya sia-sia, dan keduanya ditembak mati. Setelah berkurang dua, total sandera ada sembilan orang. BSO mengamankan para sandera di salah satu kamar apartemen.


Kesembilan orang tersebut adalah pelatih gulat Yossef Gutfreund, pelatih penembak jitu Kehat Shorr, pelatih lintasan dan lapangan Amitzur Shapira, atlet anggar Andre Spitzer, atlet staf angkat besi Yakov Springer, pegulat Eliezer Halfin dan Mark Slavin, dan atlet angkat besi Ze'ev Friedman.

BSO melalui Afif menuntut pembebasan 234 warga Palestina dan warga non-Arab di Israel, juga dua orang Jerman Barat yang mendirikan grup militan kiri-jauh: Andreas Baader dan Ulrike Meinhof, dua pendiri Faksi Tentara Merah (Rote Armee Fraktion). Jika tidak dikabulkan, mereka akan membunuhi sandera pada tengah hari.

Betapa Amatirnya Polisi Jerman Barat

Kembali mengutip laporan Yaeger untuk Sport Illustrated, otoritas Jerman dikabarkan menolak tawaran Israel yang ingin mengirim pasukan khususnya. Situasinya amat pelik sebab korban sandera keturunan Yahudi. BSO pun keras kepala dengan menolak uang dengan jumlah tak terbatas dari Jerman.

Ada pemandangan aneh di hari penyanderaan. Komite Penyelenggara Olimpiade Jerman Barat mengeluarkan kebijakan agar perlombaan tetap berjalan. Kru televisi dari seluruh dunia menyiarkan bagaimana di area publik seberang kompleks tinggal Israel tetap dipenuhi oleh para atlet yang bersantai atau bercengkerama.


Ditekan tenggat waktu oleh teroris, pihak keamanan Jerman akhirnya menerjunkan polisi berpakaian olahraga dan bersenjata laras panjang untuk operasi pembebasan. Kritik bermunculan sebab mereka tidak punya pengalaman operasi pembebaskan sandera maupun kontra-terorisme.

Kegagalan yang dibayangkan akhirnya jadi kenyataan. Kru televisi menyiarkan secara langsung aksi pasukan amatir itu saat merayap di balkon-balkon dan atas gedung, hingga akhirnya mendekati apartemen atlet Israel. BSO menggagalkannya dengan mudah, sebab di kamar sandera mereka juga ada televisi untuk menonton aksi pasukan amatir.

Pada pukul 18.00 waktu Munich, BSO yang merasa sudah terlalu lama di lokasi penyanderaan meminta tuntutan baru. Mereka ingin disediakan transportasi menuju Kairo. Otoritas Jerman setuju. BSO dan sandera disediakan dua helikopter dari kampung atlet ke Bandara Fürstenfeldbruck, tempat pesawat Jet 727 akan diterbangkan menuju Mesir.

Sebanyak 16 kru dan pramugari Jet 727 yang ditugaskan otoritas Jerman adalah polisi yang menyamar. Di bandara juga sudah disiapkan lima penembak jitu, sesuai asumsi otoritas Jerman bahwa anggota BSO terdiri dari empat hingga lima orang. Masalahnya, hingga saat itu pun mereka belum tahu berapa jumlah total anggota BSO.


Penembak jitu yang kalah jumlah adalah satu masalah. Persoalan utama lain: 16 polisi yang menyamar di pesawat Jet 727 tak lain adalah kru amatir yang tak terlatih untuk menghadapi situasi penyanderaan, apalagi melumpuhkan teroris.



Peningkatan eskalasi di lapangan hingga kegagalan operasi penyelamatan juga diceritakan secara cukup lengkap oleh Simon Reeve. Permulaan kegagalan itu, tulis Reeve, terjadi saat keenam belas polisi samaran di Jet 727 ragu-ragu atas misinya.

Mereka kemudian mengadakan pemungutan suara dan hasilnya menyatakan mereka sepakat untuk membatalkan misi. Mereka tak mengacuhkan perintah atasan, lalu kabur dari pesawat, beberapa detik sebelum kedua helikopter mendarat.

Seorang anggota BSO ditugaskan memeriksa pesawat. Saat tahu di dalamnya kosong, ia menyimpulkan BSO telah dijebak, lalu berlari kembali ke helikopter. Di momentum itulah penembak jitu mulai menembaki target, terutama Afif selaku pemimpin BSO. Namun bandara terlalu gelap, sehingga tembakannya meleset, dan anggota BSO menembak balik dengan membabi buta ke arah serangan.


Film dokumenter One Day in September (1999) menggambarkan betapa buruknya respons otoritas Jerman. Mereka telah merencanakan masuknya mobil lapis baja dan pasukan bersenjata lengkap. Namun gerbang menuju bandara penuh oleh warga dan awak media. Ditambah persoalan teknis lain, mobil baru datang saat tembak-menembak selesai.

Tembak-menembak berlangsung hingga lewat tengah malam, sampai hari berganti ke Senin dini hari tanggal 6 September 1972. Korban mulai berguguran. Ada yang salah tembak, sekali lagi, karena kondisi di lapangan cukup gelap.

Merasa misinya sudah gagal, seorang anggota BSO membunuhi para sandera yang masih terikat di kursi salah satu helikopter. Ia kemudian keluar, melempar granat ke dalam helikopter lain yang segera meledak dengan hebat. Para sandera di dalamnya meninggal karena ledakan atau sesak napas akibat kebakaran.

Pertempuran di Bandara Fürstenfeldbruck menyayat hati keluarga para sandera karena tak satu pun atlet maupun staf dari Israel selamat. Seorang polisi Jerman Barat tewas. Lima anggota BSO terbunuh, tiga lainnya ditangkap polisi.

Tahun 1970-an adalah dekade yang menakutkan bagi warga Israel. Kolaborasi pejuang Palestina dan aktivis kiri dari berbagai belahan dunia menghasilkan aksi terorisme yang tak main-main. Pembantaian Munich hanya salah satunya, dan seperti biasa, menghasilkan balas dendam yang tak kalah keras dari Israel.

Baca juga artikel terkait OLIMPIADE 1972 atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan
(tirto.id - Hukum)

Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Windu Jusuf
DarkLight