Netizen Pasang Tagar #BlueForSudan, Keprihatinan pada Konflik Sudan

Oleh: Anggit Setiani Dayana - 14 Juni 2019
Dibaca Normal 1 menit
Warganet memasang tagar #BlueForSudan dan mengganti foto profil dengan warna biru sebagai bentuk keprihatinan untuk konflik Sudan.
tirto.id - Tanda pagar #BlueForSudan menghiasi platform media sosial sebagai bentuk simpati atas konflik yang terjadi di Sudan. Warganet juga mengganti foto profil dengan warna biru sebagai bentuk keprihatinan.

Aljazeera melaporkan, pengguna media sosial mengenang peristiwa kematian puluhan orang di Khartoum, ibu kota Sudan. Salah seorang korban adalah Mohamed Mattar yang disebut-sebut menyukai warna biru.

Mattar meninggal pada 3 Juni karena luka tembak oleh Rapid Support Forces (RSF), sebuah pasukan paramiliter yang berada di bawah kendali salah seorang anggota Dewan Militer Transisi. Mattar meninggal karena ditembak saat sedang melindungi dua wanita saat demonstrasi berlangsung di luar markas militer.

Salah satu akun twitter @Saad_Alasad mencuit: "Warna biru adalah favorit salah seorang martir kita (Mattar). Bermula sebagai penghormatan bagi beliau, sekarang menjadi simbol semua martir kita, dan mimpi mereka untuk Sudan yang lebih baik. #BlueForSudan #IAmSudaneseRevolution"

"Ketika ia terbunuh, teman dan keluarganya sama-sama mengubah foto profil warna biru untuk mengenangnya, dan kemudian orang-orang lain melakukan hal yang sama," kata Shahd Kadir, salah seorang teman Mattar dan beauty influencer yang meminta pengikutnya di Instagram untuk mengubah profil mereka menjadi warna biru.

"Sekarang warna biru menjadi simbol seluruh pejuang yang gugur melawan ketidakadilan," tambahnya, seperti dikutip Aljazeera.

CTV News melaporkan, ketika gerakan sosial media ini mulai viral, jaringan internet terputus dan para aktivis melaporkan hal tersebut. Pada 10 Juni, pemerintah memutus seluruh jaringan internet sehingga Sudan mengalami gangguan jaringan mendekati total.

Pemerintah dengan sengaja melakukan langkah ini untuk mencegah penduduk dan aktivis Sudan menyebarkan informasi krusial yang dapat membahayakan keamanan.

Di sisi lain, petugas medis menyebut pasukan RSF terus menerus berada di rumah sakit dan menggangu kinerja tenaga medis. Putusnya jaringan internet membuat keadaan makin sulit, mereka tidak bisa berkoordinasi dengan baik.

Amnesty Internasional mengimbau agar RSF meninggalkan Khartoum secepatnya, menyebut aksi mereka brutal dan mengerikan. Kembali Amnesty Internasional menerbitkan laporan mengenai fakta mengerikan tentang pasukan bentukan pemerintah tersebut.

RSF dan beberapa badan pemerintahan lainnya terbukti melakukan kejahatan termasuk melakukkan kejahatan perang dan kekerasan hak asasi. Amnesty meminta agar mereka secepatnya diadili.

Beberapa negara juga turut menunjukkan simpatinya terhadap Sudan, salah satunya Kanada. Melalui sebuah pernyataan yang dirilis oleh Badan Hubungan Internasional Kanada, mereka memantau dengan seksama situasi di Sudan.

Selain itu, mereka juga mengecam RSF dan tengah mempersiapkan hal-hal yang diperlukan untuk membantu masyarakat Sudan mencapai tujuan, yaitu pemilihan umum yang demokratis.

Sudan terbagi dalam dua kubu yaitu rezim pemerintahan dan pihak yang pro-rakyat. Rakyat menginginkan demokrasi. Usai lengsernya pemimpin Sudan Omar al-Bashir pada April lalu, militer ingin menguasai pemerintahan, tetapi pihak oposisi menginginkan pemerintahan yang berlandaskan kepentingan sipil.

Unjuk rasa demi unjuk rasa dilakukan, meningkatnya harga bahan pokok akhir tahun lalu memicu protes yang terus berkelanjutan. Ketika massa makin ditekan, militer makin garang, dan seterusnya. Banyak korban meninggal dalam aksi protes ini.

Sudan, berdasarkan lansiran DW merupakan salah satu negara termiskin di dunia karena bagian selatan yang kaya akan kandungan minyak berpisah pada 2011, juga karena manajemen keuangan negara yang buruk dan korupsi memiliki andil dalam menjerumuskan Sudan kepada kemiskinan dan konflik.


Baca juga artikel terkait SUDAN atau tulisan menarik lainnya Anggit Setiani Dayana
(tirto.id - Politik)


Penulis: Anggit Setiani Dayana
Editor: Dipna Videlia Putsanra