Menuju konten utama

Musibah KM Zahro, Bukti Buruknya Transportasi Laut

Peristiwa tenggelamnya KM Zahro Express di wilayah perairan Teluk Jakarta yang melayani transportasi ke Pulau Tidung, Kepulauan Seribu menjadi momentum pembenahan sektor transportasi laut mengingat Indonesia adalah negara kepulauan.

Musibah KM Zahro, Bukti Buruknya Transportasi Laut
Sejumlah kapal bergabung mencari korban Kapal Zahro Express yang terbakar di Perairan Teluk Jakarta, Senin (2/1). Basarnas mengerahkan 15 penyelam serta sejumlah kapal dari tim gabungan untuk mencari 17 korban yang diduga masih hilang. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A.

tirto.id - Peristiwa tenggelamnya KM Zahro Express di wilayah perairan Teluk Jakarta yang melayani transportasi ke Pulau Tidung, Kepulauan Seribu menjadi momentum pembenahan sektor transportasi laut mengingat Indonesia adalah negara kepulauan.

Hal ini disampaikan Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Triwisaksana seperti dikutip dari Antara, Rabu (4/1/2017).

"Sedikitnya 23 orang meninggal dan 17 lainnya masih dalam pencarian dari total sekitar 230 orang penumpang. Ini tentu patut disayangkan pada saat kita ingin meningkatkan pariwisata ke Kepulauan Seribu," kata Triwisaksana.

Menurut Triwisaksana, kejadian kecelakaan kapal ini terjadi sebelumnya pada 2015 yang menimpa kapal dinas yang menyebabkan 80 orang terluka. Beragam peristiwa kecelakaan kapal ini, lanjutnya, menjadi bukti buruknya pengelolaan transportasi laut dan perlu menjadi bahan evaluasi manajemen transportasi ke Pulau Seribu yang perlu dibenahi.

Tata kelola transportasi yang perlu dibenahi antara lain pemeriksaan kelaikan kapal untuk berlayar, yang dinilai penting apalagi ketika terjadi gelombang tinggi.

"Selama ini pemeriksaan kelaikan untuk kapal berlayar di pelabuhan ini diduga lemah dan banyak permainan sehingga kapal yang tidak laik atau yang kelebihan muatan tetap diizinkan jalan," ujarnya.

Dia juga mengemukakan bahwa seharusnya tersedia jumlah petugas yang cukup dan cakap untuk melakukan pemeriksaan kelaikan kapal secara detail.

Sebelumnya, pengamat transportasi dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno menilai pengelolaan terminal penumpang pelabuhan harus dibenahi karena adanya manifes penumpang kapal yang tidak diketahui.

"Yang masih sering lalai selalu soal manifes dan ketersediaan instrumen keselamatan. Setiap kecelakaan kapal, sering terjadi manifes yang tidak sesuai," ujarnya.

Pengelolaan terminal penumpang di setiap pelabuhan harus dibenahi dengan menjadikannya lebih steril dan tidak semua orang boleh masuk.

Penyediaan instrumen keselamatan kapal, menurut dia, juga masih diabaikan, padahal minimal di kapal apa pun harus tersedia pelampung. Bahkan untuk kapal besar, harus ada petunjuk penyelamatan seperti saat naik pesawat.

Untuk menghindari insiden nahas itu terulang, ia berpendapat SOP harus diperbaiki, awak kapal harus menerima pelatihan, kapal harus mendapat sertifikat dan semua kapal apa pun ukurannya diwajibkan dilengkapi dengan pelampung.

Selain itu, pengawasan regulasi dan penguatan SDM juga harus ditingkatkan karena regulasi transportasi laut dan udara sudah menggunakan mahzab internasional dan hampir semua aturan sudah dibuat oleh Kemenhub.

Aturan-aturan tersebut antara lain PM No. 25 Tahun 2015 tentang Standar Keselamatan dan PM No. 37 Tahun 2015 tentang Standar Pelayanan Penumpang Angkutan Laut.

Keluarga Korban KM Zahro Express Masih Menunggu Kabar

Sementara itu, keluarga dari Ai Kusminar (52), salah seorang korban kapal KM Zahro Express yang belum ditemukan, masih menunggu kepastian perihal kabar kondisi Ai di Rumah Sakit Bhayangkara Tk.I R. Said Sukanto (RS Polri) Kramat Jati, Jakarta.

Raut wajah tenang nampak dari wajah sepupu Ai, Edi Nuraidi, beserta dua anak korban, Iwan Ridwansyah dan Alfi Syahri. Mereka berharap segera mendapat kepastian kabar keluarga mereka.

"Sepupu saya, Ai Kusminar (52), berangkat enam orang dengan suami, anaknya dua, adiknya dua, jumlah enam. Yang hilang hanya Bu Ai," ujar Edi kepada ANTARA News di Posko Ante Mortem RS Polri, Jakarta, Rabu (4/1/2017).

Tiga hari pasca peristiwa terbakarnya KM Zahro Express pada Minggu (1/1/2017), polisi telah mengidentifikasi 11 dari 23 jenazah korban. Dari 23 jenazah, sebanyak 22 jenazah berada di Rumah Sakit Bhayangkara Tk.I R. Said Sukanto (RS Polri) dan 10 di antaranya telah teridentifikasi lalu diserahkan pada pihak keluarganya.

KM Zahro Express terbakar setelah berlayar satu mil dari Pelabuhan Muara Angke, Jakarta Utara, menuju Pulau Tidung di Kepulauan Seribu pada Minggu (1/1/2017) pukul 08.30 WIB.

Kapal itu mengangkut sekitar 240 penumpang. Sebanyak 194 penumpang selamat dalam kecelakaan itu, 23 lainnya meninggal dunia, dan masih ada yang belum ditemukan.

Baca juga artikel terkait KAPAL TERBAKAR atau tulisan lainnya dari Maya Saputri

tirto.id - Hard news
Reporter: Maya Saputri
Penulis: Maya Saputri
Editor: Maya Saputri