Menuju konten utama

Menjual Nostalgia Lewat Nokia "Pisang" 8110

Beberapa produk baru Nokia hadir, dengan mengulang seri yang pernah jaya di masa lalu. Nokia berharap bisa mengulang kesuksesannya.

Menjual Nostalgia Lewat Nokia
Ilustrasi produk ponsel Nokia 8110 terbaru. tirto.id/fiz

tirto.id - Dua dekade lalu, Nokia seri 8110 dirilis ke pasar. Pada masanya, Nokia 8110 bisa dibilang ponsel canggih dengan dukungan 31 bahasa dan mampu eksis lima jam panggilan telepon tanpa jeda dengan dukungan baterai Lithium-Ion.

Nokia juga mengklaim seri 8110 adalah ponsel yang punya keunggulan ergonomi. Ponsel ini punya bentuk natural yang menyatu dengan lekuk wajah para pengguna. Nokia 8110 hadir dengan desain geser yang berguna untuk melakukan unlock maupun menerima panggilan.

Efek dari rancangan berbentuk "pisang" ini membuat panel mikrofon lebih dekat ke mulut pengguna sehingga dapat memaksimalkan kualitas suara. Nokia 8110 sempat populer ketika muncul di film Matrix hingga akhirnya tenggelam digantikan oleh seri ponsel penerusnya.

Setelah dua dekade lebih, Nokia mencoba membangkitkan kembali Nokia 8110 versi smartphone, tapi karakter fisik sebagai ponsel "pisang" masih melekat pada produk ini. Nokia 8110 diperkenalkan kembali dengan wajah dan teknologi baru di ajang Mobile World Congress 2018, Barcelona, Spanyol. Secara desain, Nokia 8110 terbaru ini masih mengusung desain "pisang".

Pemegang merek Nokia, HMD Global menyematkan sejumlah pembaruan pada 8110 versi 2018. Pada Nokia 8110 terdapat System-on-Chip (SoC) buatan Qualcomm yakni Snapdragon 205. SoC yang dahulu pernah melekat pada seri terendah, smartphone Lumia buatan Microsoft.

Nokia 8110 versi baru bisa dibilang kurang pas bila disebut sebagai feature phone—ponsel yang tak sepenuhnya sebagai smartphone. Alasannya, Nokia 8110 sudah mengusung sistem operasi bernama KaiOS—sistem operasi seperti Android, yang lahir dari Linux. Bedanya, Android dibuat dengan Java, KaiOS dibuat dengan HTML.

KaiOS merupakan sistem operasi yang dibuat khusus untuk mengoptimalkan gawai yang tak memiliki kemampuan layar sentuh. KaiOS juga dirancang untuk dapat mendukung 4G, WiFi, GPS, dan near field communication (NFC)—teknologi penghubung antar smartphone. Nokia 8110 sudah mampu menjalankan aplikasi versi ringkas dari Google Search, Maps, Assistant, Facebook, hingga Twitter karena adanya KaiOS. Sistem KaiOS telah tersemat pada lebih dari 30 juta gawai di Amerika Serikat, Kanada, dan India.

Selain penggunaan Snapdragon 205 dan kaiOS, Nokia 8110 hadir dengan kapasitas RAM sebesar 512MB serta media penyimpanan berbasis microSD hingga 64GB. Sayangnya, aplikasi pesan instan "sejuta umat" WhatsApp belum bisa hadir di ponsel ini. Namun, di atas kertas harusnya WhatsApp bisa dipasang karena adanya SoC buatan Qualcomm.

Kehadiran Nokia 8110 memunculkan tanda tanya besar, kenapa HMD Global merilis ponsel yang spesifikasinya pas-pasan?

Chief Executive Officer (CEO) HMD Global Florian Seiche kepada The Telegraph mengungkapkan, lahirnya kembali ponsel-ponsel klasik Nokia untuk “menciptakan identitas unik pada merek.” Nokia yang sempat sukses di pasar ponsel global tak kecuali di Indonesia seolah tak mau melepas begitu saja kesuksesan produk legendaris mereka.

Mark Trundle, Country Manager Indonesia saat acara jumpa pers di peluncuran Nokia 8 di Indonesia pada pertengahan Februari lalu, Trundle sempat mengatakan bahwa merek Nokia masih sangat kuat di Indonesia.

“Nokia brand awareness di Indonesia ialah 98,9 plus. Setiap orang tahu brand Nokia,” katanya waktu itu. Kemungkinan, dilahirkannya kembali Nokia 8110 berhubungan dengan bagaimana HMD Global merawat pengetahuan publik tentang brand tersebut. HMD Global, ingin menggenggam pasar ponsel dengan melestarikan kenangan pada brand lawas tersebut.

Selain menunggangi seri produk lawas yang masih kuat, HMD Global tentu tak gegabah masuk ke segmen feature phone. Pasar di segmen ini memang masih menjanjikan. Merujuk data yang dirilis Statista, pada 2014, jumlah pengapalan feature phone masih unggul dibandingkan smartphone.

Saat itu, ada 1,1 miliar unit feature phone dikapalkan di seluruh dunia. Smartphone hanya menyumbang 1,02 miliar unit. Namun, feature phone yang dikapalkan menurun menjadi 944 juta unit pada 2015. Pengapalan smartphone justru meningkat menjadi 1,3 miliar unit.

Pasar feature phone memang terus mengalami penurunan tapi di Afrika justru sebaliknya. Data yang dilansir IDC, yang dimuat Quartz, terdapat pertumbuhan pangsa pasar feature phone ketimbang smartphone pada tahun lalu. Pangsa pasar feature phone Afrika merangkak dari 55,4 persen menjadi 61 persen. Pangsa pasar smartphone menurun dari 44,6 persen menjadi 39 persen. Artinya kue pasar feature phone masih ada harapan di tengah persaingan smartphone yang semakin sengit. Nokia nampaknya memilih strategi fokus pada keunggulannya.

Namun, CEO HMD Global Florian Seiche, kepada Reuters, mengaku sepanjang 2017 Nokia sukses menjual sekitar 30 juta unit ponsel dari 11 model. Chief Marketing Officer HMD Global Pekka Rantal dalam laporan Forbes, mengklaim telah menjual jutaan smartphone Nokia dan menjual puluhan juta unit feature phone. Ini membuktikan bahwa feature phone Nokia lebih diterima pasar.

Counterpoint Research, firma pelacak pasar ponsel, dalam laporan yang dibuat Phone Arena, mencatat pada kuartal III-2017, HMD Global menjual 13,5 juta feature phone. Sepanjang 2017, Nokia sukses menjadi penjual nomor satu feature phone di dunia. Nokia hanya berada di posisi ke-11 di segmen smartphone.

Suksesnya Nokia menjadi raja di pasar feature phone 2017 cukup mengejutkan. Ini karena HMD Global, sebagai pemilk merek Nokia kini, baru mengelola satu tahun. Padahal, pada 2016 Samsung masih menjadi penguasa di segmen ponsel ini dengan pangsa pasar sekitar 13 persen.

Infografik Nokia

Menakar Nasib Nokia

Merek Nokia yang sempat berjaya, tapi pernah terpuruk saat di tangan Microsoft. Namun, cerita itu berbalik saat startup bernama HMD Global menjadi pemegang merek Nokia yang baru. HMD Global didirikan pada 2016 dan berasal dari Finlandia, yang sama-sama merupakan negara kelahiran dari Nokia.

Langkah HMD Global menghidupkan kembali brand Nokia dilakukan selepas Microsoft menyerah pada bisnis ponsel. Pada 2016, HMD Global membeli bisnis feature phone Nokia dari Microsoft. HMD Global menjalin kerja sama dengan Nokia Oyj (Nokia Original) untuk menggunakan nama “Nokia” di ponsel yang mereka buat.

Neil Shah, peneliti pada Counterpoint, dalam laporan Wired, mengatakan bahwa ponsel bermerek Nokia kini merupakan hasil rancangan bersama antara HMD Global dan Foxconn—perusahaan manufaktur yang juga merakit iPhone. FIH Mobile, anak perusahaan Foxconn merancang dan merakit produk ponsel Nokia.

Nokia original alias Nokia Oyj kini tak menjalankan bisnis penjualan ponsel. Nokia Oyj menjalankan bisnis melalui dua segmen berbeda, yaitu Nokia Networks dan Nokia Technologies. Nokia Oyj lebih menyasar bidang internet protocol (IP), dan infrastruktur.

Masuknya HMD Global pada pemasaran produk Nokia dan bekerja sama dengan Nokia Oyj tak muncul begitu saja. Rekam jejak orang-orang di balik HMD Global masih ada hubungan kuat dengan Nokia original di masa lalu. Florian Seiche, sang CEO HMD Global, pernah menjabat sebagai Senior Vice President, Europe Sales & Marketing Nokia. Pekka Rantala, CMO HMD Global, pernah menjabat Senior Vice President Marketing Nokia. Pia Kantola, COO HMD Global pernah menjabat Vice President, Customer Logistic Nokia.

Strategi kolaborasi, untuk upaya membangkitkan lagi semangat “connecting people” rupanya diterjemahkan dengan menghadirkan kembali ponsel-ponsel lawas yang sempat sukses di pasar. HMD Global juga menerapkan strategi "nostalgia" kala menghadirkan Nokia 3310 seri baru pada tahun lalu. Nokia 3310 sempat jadi primadona pasar pada masa kejayaannya. Sayangnya, tak ada catatan berapa unit Nokia 3310 versi baru telah terjual sejak peluncuran pada Mobile World Congress 2017.

Mampukah Nokia 3310 atau Nokia 8110 mengulang kesuksesan masa lalu di tengah pasar yang makin mengarah pada smartphone?

Baca juga artikel terkait SMARTPHONE atau tulisan lainnya dari Ahmad Zaenudin

tirto.id - Teknologi
Reporter: Ahmad Zaenudin
Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Suhendra