Mengintip Pekerjaan Baru Maradona di Dorados

Oleh: Renalto Setiawan - 16 September 2018
Dibaca Normal 4 menit
Apakah Dorados bisa mengubah peruntungan Maradona sebagai pelatih?
tirto.id - Pada babak perempat final Piala Dunia 1986, di Stadion Azteca, Meksiko, Maradona mampu menunjukkan bahwa ia tak kalah hebat dari para maestro balet. Tanpa diiringi musik, dengan latar tekel-tekel pemain Inggris serta teriakkan perang dari para hooligan, Maradona menerobos pertahanan Inggris sendirian dari tengah lapangan. Ia berputar, mengerem, berlari kencang, melompat, sampai akhirnya membobol gawang Peter Shilton, kiper Inggris, untuk kedua kalinya. Gerakan Maradona benar-benar sangat artistik.

Saking ajibnya gol Maradona itu, reaksi orang-orang menyambut gol tersebut juga terus dikenang hingga sekarang. Karena komentarnya, Victor Hugo, komentator asal Uruguay yang memandu jalannya pertandingan, menjadi legenda. Sesaat setelah gol itu, ia berteriak-teriak seperti orang tidak waras: “I want to Cry.. Maradona... in a memorable run... in the best play ever... cosmic kite... what planet did you come from?

Selain itu, cerita Jorge Valdano, partner Maradona di lini depan Argentina, juga tak kalah ajaib. Sesaat setelah gol itu, Valdano menghampiri Maradona lalu mengatakan, “kamu pemain terbaik di dunia.” Namun, Maradona justru menanggapi komentar Valdano tersebut dengan rasa bersalah.

Maradona berkata, “Aku bisa melihat bahwa kamu berlari bersamaku, tapi aku tidak mengoper bola kepadamu karena aku pikir aku bisa melakukannya [mencetak go] sendiri.” Valdano pun tambah takjub. Saat mengingat momen itu, ia mengatakan dengan lugas, “Bajingan, di atas semua yang telah ia lakukan, dia ternyata masih bisa melihatku!”

Sayangnya cerita-cerita hebat tentang Maradona yang seperti itu ternyata hanya muncul saat ia berada di dalam lapangan. Di luar lapangan, Maradona adalah orang yang berbeda. Ia beberapa kali terjerembab ke jurang skandal, obat-obatan terlarang adalah karibnya, dan tingkah lakunya kadang sulit untuk dimengerti oleh akal sehat: pada tahun 1994 lalu, ia pernah menembak seorang jurnalis dengan menggunakan senapan angin.

Tingkah laku aneh itu kembali terjadi. Maradona baru-baru ini menerima tawaran untuk melatih Dorados. Ini bukan klub besar, melainkan hanya klub divisi dua liga Meksiko [Liga Ascenco] yang berasal dari Sinaloa, tempat asal kartel Sinaloa yang dijuluki kartel narkoba paling kuat di dunia. Maradona seperti berada di tengah-tengah, di antara keburukannya sebagai manusia dan pengalaman hebatnya sebagai pesepakbola. Namun, ia menyebut bahwa Dorados merupakan tempat yang tepat untuk memulai “kehidupan baru”.

“Saya memiliki banyak kesalahan di dalam hidup saya. Saya menganggap tanggung jawab ini [menjadi pelatih Dorados] seperti seseorang yang menggendong anak di dalam pelukan mereka,” ujar Maradona, dilansir dari BBC. “Ketika saya menggunakan [obat-obatan]... Itu membuat saya mundur, itu adalah langkah mundur, dan apa yang pesepakbola harus lakukan adalah melangkah maju.”


Maradona Tak Piawai Meracik Taktik


Maradona mulai menjadi pelatih pada 1994 lalu. Saat itu, bersama Carlos Fren, mantan rekannya di Argentinos Junior, ia melatih Textil Mandiyu. Namun, prestasi Textil Mandiyu ternyata berantakan di tangan Maradona. Mulai bekerja pada Januari, Maradona dipecat pada Juni 1994.

Kegagalan Maradona kembali terulang saat menangani Racing Club pada tahun 1995. Bekerja selama tujuh bulan, dari Mei hingga November, Racing Klub hanya menang 2 kali dalam 11 laga di bawah asuhan Maradona.

Meski Maradona mempunyai sejarah tidak mengenakkan sebagai pelatih, nama besar Maradona ternyata masih mempunyai pengaruh besar di Argentina. Pada 2008 lalu, ia dipilih untuk melatih Argentina. Yang menarik, daripada dianggap mampu membawa Argentina bangkit dari masa suram, Maradona justru dipercaya membuat timnas Argentina menjadi populer.

“Bersama Maradona, skuat timnas Argentina akan seperti anggota The Beatles,” kata Guillermo Tofoni, mantan pesepakbola Argentina yang beralih menjadi pengusaha.

Kenyataannya, timnas Argentina ternyata jauh dari kata populer. Penampilan mereka masih suram, bahkan tampak sangat mengkhawatirkan saat dibantai Bolivia 1-6, juga kalah 0-3 dari Brazil pada babak kualifikasi Piala Dunia 2010. Meski Argentina akhirnya berhasil lolos ke Piala Dunia 2010, tidak sedikit yang pesimistis: Argentina tak akan berbicara banyak di Afrika Selatan.

“Rabu (14/10/09) malam mungkin merupakan hari di mana Argentina berhasil memastikan tiket ke Afrika Selatan, tetapi jika terus [bermain] seperti ini, itu tidak akan menyenangkan. Dan meski sebagian dari kita tertawa saat menghadiri konferensi pers Maradona, jauh di dalam lubuk hati, kita juga tahu bahwa itu ternyata tidak lucu,” tulis Marcela Mora y Araujo, penulis sepakbola Argentina di The Guardian, satu hari setelah Argentina mengalahkan tuan rumah Uruguay 0-1 untuk memastikan eksistensi mereka di Piala Dunia 2010.

Rasa pesimistis itu ternyata tidak berlebihan. Argentina kalah 1-4 dari Jerman di babak perempatfinal Piala Dunia 2010. Thomas Mueller, pemain Jerman yang pernah dikira Maradona sebagai anak gawang, menjadi salah satu pemain kunci kemenangan Jerman. Argentina lalu memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak Maradona. Mantan pahlawan Naples itu pun kembali menganggur.

Setelah kegagalannya itu, sebelum berlabuh ke Dorados, Maradona sempat menangani Al Wasl dan Fujairah. Dua-duanya berasal dari Uni Emirat Arab. Sayangnya, peruntungan Maradona sebagai pelatih tak kunjung membaik. Di Timur Tengah itu, pintu pemecatan menjadi satu-satunya jalan keluar untuk melakukan perpisahan.

Infografik Maradona Si Pelatih Medioker


Dorados, JuanmaLillo, dan PepGuardiola


Sejarah panjang antara kehidupan Maradona dan Sinaloa bisa ditarik dalam satu benang merah yang bernama obat-obatan terlarang. Sementara Sinaloa memiliki predikat “rumah para kartel narkoba”, obat-obatan terlarang juga menjadi awan gelap yang menodai karier cemerlang Maradona sebagai pesepakbola.

Di Sinaloa, gembong-gembong narkoba Meksiko pernah bermunculan. Pada tahun 70-an, Pedro Aviles pernah menjadi salah satu penyelundup ganja terbesar di Meksiko. Setelah itu, ada El Chapo yang berjualan kokain. Untuk memuluskan bisnisnya, pada akhir tahun 1980-an lalu, El Chapo bahkan pernah membangun terowongan di dekat Agua Prieta yang menghubungkan Meksiko dan Amerika Serikat.

Seperti Sinaloa, Maradona juga tak bisa jauh-jauh dari obat-obatan terlarang. Pada 1991 lalu, saat masih bermain untuk Napoli di Italia, Maradona pernah dihukum selama 15 bulan karena positif menggunakan kokain. Sekitar empat tahun setelahnya, dalam pertandingan Piala Dunia 1994, Maradona bahkan terpaksa dipulangkan. Alasannya: Ia terbukti menggunakan doping. Pada 2004 lalu, karena kebiasaan buruknya itu, Maradona pernah terkena serangan jantung.

Yang menarik, saat Maradona mengatakan bahwa Dorados akan menjadi awal “kehidupan barunya”, pernyataannya itu barangkali bukan hanya tentang Maradona dan masa lalunya. Dorados memang klub kecil, usianya baru 15 tahun. Namun, Dorados ternyata bukan hanya berbicara tentang mediokritas. Klub tersebut ternyata pernah menjadi tempat berpetualang pelatih hebat. Pada Januari 2006 lalu, Pep Guardiola menghabiskan karier sepakbolanya di Dorados. Saat itu, ia dilatih oleh Juanma Lillo.

Menurut Sid Lowe, penulis sepakbola asal Inggris, Juanma Lillo adalah otak di balik kesuksesan timnas Spanyol pada tahun 2008 hingga tahun 2012. Lillo adalah inventor formasi 4-2-3-1 yang digunakan Spanyol dalam Piala Eropa 2008 dan 2012, juga Piala Dunia 2012. Dalam formasi tersebut, seperti tujuan utama Lillo dalam menggunakan formasi 4-2-3-1, Spanyol memainkan high pressing dan mengandalkan penguasaan bola. Lillo sendiri mulai menerapkan formasi 4-2-3-1 pada awal tahun 1990-an, jauh-jauh hari sebelum formasi itu populer di jagad sepakbola.

Saat Lillo berada di Dorados, Guardiola ingin belajar dari Lillo. Meski keadaan Dorados saat itu berantakan, Guardiola ternyata tak keberatan. Menurut Juan Antonia Garcia, pendiri Dorados, Guardiola bahkan rela menerima bayaran yang tak seberapa, jumlah gaji paling kecil yang pernah ia terima di sepanjang karier sepakbolanya. Malahan, saat Dorados tak sanggup lagi membayar gaji para pemainnya, Guardiola justru rela mengelurkan uang pribadinya, membantu klub membayar para pegawai tingkat paling rendah.

Selama sekitar enam bulan di Dorados, Guardiola memang tak banyak bermain karena cedera. Namun saat ia absen, ia ternyata memantapkan ilmu kepelatihannya. Lillo, yang menganggap Guardiola seperti anaknya sendiri, membimbingnya. Guardiola lalu sering melakukan analisis terhadap alon-calon lawan Dorados. Bahkan, saat ia tidak bisa bermain, ia akan berada di bangku cadangan untuk membantu Lillo dalam meracik taktik yang paling mujarab bagi Dorados.

Pada akhir musim tersebut, 2005-2006, Dorados memang akhirnya terdegradasi ke divisi dua dan terjerembab ke dalam mediokritas hingga sekarang. Namun, Dorados patut bangga, bahwa dari Dorados lah Pep Guardiola bisa memantapkan langkahnya untuk menjadi pelatih kelas dunia. Dan bagi Maradona, Dorados barangkali juga bisa menjadi tempat yang tepat untuk memperbaiki karier kepelatihannya yang biasa-biasa saja.

Baca juga artikel terkait MARADONA atau tulisan menarik lainnya Renalto Setiawan
(tirto.id - Olahraga)


Penulis: Renalto Setiawan
Editor: Nuran Wibisono