Mengenal Sepakbola Tiga Sisi yang Aneh dan Membingungkan

Oleh: Eddward S Kennedy - 11 Juni 2019
Dibaca Normal 2 menit
Sepakbola tiga sisi diciptakan untuk menandingi sepakbola konvensional. Seperti apa bermainnya?
tirto.id - Bayangkan: sepakbola yang selama ini dikenal, dimainkan dengan tiga tim dan tiga gawang sekaligus?

Sekilas tampak aneh, tapi ia nyata. Perkenalkan: 3 Sided Football (3SF).

Konsep 3SF pertama kali diciptakan oleh Asger Jorn pada 1962. Jorn merupakan anggota gerakan Situanist International (SI): suatu gerakan yang berisikan seniman avant-garde serta kaum Marxis dan Anarkis yang kecewa dengan rasionalisasi teknologi kehidupan di bawah kapitalisme.

Sebagaimana namanya, 3SF dimainkan tiga tim sekaligus di atas lapangan berbentuk heksagon (segi enam). Setiap tim juga diperbolehkan untuk berembuk terlebih dahulu mengenai peraturan sebelum laga dimulai dan elemen lain dapat direvisi secara spontan. Selain itu, tim yang berhak memenangkan pertandingan bukan yang mencetak gol terbanyak, tapi yang kebobolan paling sedikit.



Jorn menggunakan 3SF sebagai metode untuk menjelaskan teori pembaharuannya akan dialektika Marx yang ia sebut sebagai “triolectics”. Dengan berangkat dari pendekatan fisika kuantum, “triolectics” adalah upaya melampaui transfer energi linear demi membangun bidang kemungkinan dan negosiasi yang bersifat spatio-temporal. Dalam kata lain, 3SF adalah praktik eksplorasi pedagogis Jorn dari sistem “triolectics”.

Itulah mengapa kelak 3SF acap dimainkan di lokasi-lokasi yang memiliki signifikansi psikogeografis di seluruh dunia: dari hutan di titik pusat Eropa, hingga Taksim Square, di dalam silo (sebuah bangunan yang biasa digunakan untuk menyimpan muatan curah) bahan bakar di Soviet, sampai di medan bergelombang yang terletak di sekitar Omphalos--pusat spiritual--Kerajaan Inggris yang dibangun pada abad ke-16 oleh John Dee.

Teori “triolectics”, sebagaimana penjelasannya, memang terdengar amat rumit dan aneh. Mark Dyson, salah seorang pelopor turnamen 3SF (Deptford Three Sided Football Club, D3FC) di London pada tahun 2010, juga mengamini hal tersebut. “Jorn sama sekali tidak mampu menjelaskan (‘triolectics’). Dia muncul dengan teori yang sangat aneh, dan tidak ada yang mampu menjelaskan teorinya. Jadi dia menggunakan metafora sepakbola tiga tim untuk menjelaskannya.”

Apa Sebenarnya 3SF dan Bagaimana Cara Bermainnya?

Kendati idenya sudah muncul sejak periode 1960-an, laga 3SF baru pertama kali diselenggarakan pada 28 Mei 1993 oleh London Psychogeographical Association di Glasgow Green sebagai bagian dari Glasgow Anarchist Summer School bersama kolektif Luther Blissett dari Italia. Nama Luther Blissett sendiri ditakik dari seorang pesepakbola kulit hitam generasi awal yang bermain di Liga Italia dan kerap menjadi sasaran rasialisme.



Tahun 2010 lalu, ketika Britania Raya tengah melaksanakan pemilihan umum, salah seorang penulis Inggris bernama Sally O’Reilly menyelenggarakan kembali pertandingan 3SF. Adapun tiga tim yang bermain menamai klubnya masing-masing dengan nama partai yang juga tengah bertanding di pemilihan umum.

Sebuah kelompok intelektual di Inggris yang menamakan diri mereka Philosophy Football, secara perlahan juga mulai rutin menggelar pertandingan 3SF. Pada tahun 2011, misalnya, mereka menggelar pertandingan 3SF di tiga kota di Eropa: Mei di Madrid, lalu November di Roma, dan berikutnya Desember di Bilbao antara tim yang merepresentasikan Athletic Bilbao dengan para imigran di sana. Pandit sepak bola terkemuka, Sid Lowe, juga turut bermain dalam pertandingan yang diselenggarakan di Bilbao.

Pada Mei 2013, bertempat di London, Philosophy Football kembali membuat turnamen, kali ini dengan skala yang lebih besar dan melibatkan lebih banyak tim dari seluruh dunia. Tahun 2014 lalu juga menjadi tahun pembentukan International 3 Sided Football Federation untuk kali pertama.

Jika Anda tertarik untuk memainkannya, berikut tata cara permainan 3SF yang sejauh ini sering dipergunakan, sebagaimana dilansir dari laman Philosophy Football. Sebagai catatan, tata cara ini bersifat tidak wajib, melainkan hanya menjadi panduan standar yang dapat dinegosiasikan kembali berdasarkan kesepakatan antartim.

Infografik Sepakbola 3 Sisi
Infografik Sepakbola 3 Sisi. tirto.id/Quita


Gol: Dalam 3SF, tim yang kebobolan paling sedikit adalah pemenangnya.

Lemparan ke dalam dan tendangan pojok: di lapangan heksagon yang memiliki enam sisi, setiap tim menempati dua sisi: sisi belakang yang merupakan letak dari gawang sendiri dan sisi depan. Jika bola yang ditendang lawan keluar di antara sisi tim Anda, maka itu lemparan atau tendangan penjuru buat tim Anda. Jika sebaliknya, maka lemparan atau tendangan penjuru buat tim lawan, tergantung pada sisi mana tim mana Anda menendang bola keluar.

Wasit: Pada mulanya, 3SF memiliki prinsip permainan tanpa wasit. Alasan filosofisnya adalah karena “permainan ini dibentuk untuk mendekonstruksi aturan sepak bola konvensional”. Meski demikian, jikapun pertandingan “diwajibkan” untuk memakai wasit, maka akan dipakai dua wasit agar mampu membuat keputusan-keputusan yang filosofis, cerdas, dan tepat.

Durasi pertandingan: Tak ada batasan waktu. Semua tim bebas bermain hingga bosan dan tak tentu arah. Idealnya, melihat pertandingan yang sudah-sudah, waktu 30 menit sudah cukup untuk memainkan 3SF.

Aturan lain: Tak ada offside dan akan ada pergantian pemain secara bergiliran. Selain itu, anggota dari tim yang kalah diperbolehkan bergabung dengan tim lain demi mengejar ketertinggalan dari tim yang menang. Dengan kata lain, dua tim bisa bergabung untuk melawan satu tim. Namun, setelah itu mereka dapat kembali ke tim masing-masing.

Pada satu sisi, aturan tersebut bisa jadi akan membingungkan, sebagaimana yang dikatakan oleh salah seorang pewarta La Gazzetta dello Sport, Filippo Ricci, yang juga sempat bermain bersama Lowe di Madrid.

“Sangat membingungkan. Anda dapat mengkhianati seseorang tapi mereka tidak akan kecewa karena mereka tahu itu bagian dari permainan, dan orang yang mengkhianati mereka dapat kembali menjadi teman. Ini membuat sepakbola menjadi sangat menghibur dan strategis.”

Bagaimana, tertarik mencoba sepakbola tiga sisi?

Baca juga artikel terkait SEPAKBOLA atau tulisan menarik lainnya Eddward S Kennedy
(tirto.id - Olahraga)


Penulis: Eddward S Kennedy
Editor: Nuran Wibisono