Mengapa Ganjar Pranowo Gagal Menang Telak di Kandang Banteng?

Oleh: Lalu Rahadian - 27 Juni 2018
Dibaca Normal 2 menit
Isu korupsi yang dilontarkan kubu Sudirman-Ida berhasil mengikis elektabilitas Ganjar.
tirto.id - Hasil hitung cepat Pemilihan Gubernur Jawa Tengah (Pilgub Jateng) dari lembaga survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) dan Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA menempatkan pasangan Ganjar Pranowo-Taj Yasin unggul dari pesaingnya, Sudirman Said-Ida Fauziyah.

Hitung cepat SMRC menyatakan Ganjar-Yasin meraih suara 58,57% dan Sudirman-Ida 41,43%. Sedangkan hitung cepat LSI Denny JA menyebutkan Ganjar-Yasin meraih 58,4% suara dan Sudirman-Ida 41,6% suara.

Meski unggul dalam hasil hitung cepat namun selisih persentase raihan suara Ganjar-Yasin atas Sudirman-Ida tidak setelak ramalan sejumlah lembaga survei sebelum Pilkada serentak.

Survei Litbang Kompas pada 10 sampai 15 Mei 2018, misalnya, menyebut Ganjar-Yasin akan menang atas Sudirman-Ida dengan persentase suara 76,6% berbanding 15% persen.

Survei SMRC pada 21 sampai 29 Mei 2018 memprediksi Ganjar-Yasin akan meraih elektabilitas hingga 70,1%, unggul dari Sudirman Ida yang elektabilitasnya hanya 22,60%.

Sedangkan survei Indo Barometer pada 7 sampai 13 Juni 2018 memperkirakan Ganjar-Yasin akan mendapat 67,3% suara, unggul dari Sudirman-Ida yang hanya meraih 21,1% suara.

Keberhasilan pasangan Sudirman-Ida mempersempit selisih kemenangan atas Ganjar-Yasin di “kandang banteng” cukup mengejutkan. Sebab, selain sebagai petahana, Ganjar merupakan kader PDIP yang menjadi pemilik 31 kursi di DPRD Provinsi Jawa Tengah. Ia juga didukung Golkar yang memiliki 10 kursi, Demokrat 9 kursi, dan PPP 8 kursi. Selain itu, PDIP juga memiliki 19 kepala daerah tingkat kabupaten/kota di Jawa Tengah.


Kekuatan partai politik pengusung Ganjar di Jawa Tengah berselisih jauh dengan Sudirman-Ida. Perolehan kursi partai pengusung Sudirman-Ida di DPRD Jawa Tengah terdiri dari Gerindra yang memperoleh 11 kursi, PKB 13 kursi, PAN 8 kursi, dan PKS 11 kursi. Jika dibandingkan, maka kekuatan politik Ganjar-Yasin berjumlah 58 kursi sedangkan Sudirman-Ida hanya 43 kursi.

Dikikis Isu Korupsi

Pengamat politik dari Universitas Jenderal Soedirman Indaru Setyo Nurprojo mengatakan kegagalan Ganjar menang mutlak tak lepas dari isu korupsi yang diwacanakan kubu Sudirman-Ida. Menurut Indaru, isu itu membuat kepercayaan publik terhadap Ganjar menurun dan membentuk citra Sudirman-Ida sebagai politikus bersih. “Sejak dia [Ganjar] terlibat dalam pemberitaan di e-KTP, sebetulnya itu popularitas Ganjar menurun,” kata Indaru kepada Tirto, Rabu (27/6).

Alumnus Universitas Gadjah Mada (UGM) ini menilai keberhasilan Sudirman mengoptimalkan perolehan suara juga karena mesin politik Gerindra-PKB yang bergerak solid. Kedua partai utama pengusung Sudirman itu berhasil memengaruhi suara nasionalis dan nahdliyin yang sebenarnya merupakan segmentasi pemilih Ganjar-Yasin. “Itu kemudian menghantam jejaring-jejaring PDI di berbagai tempat,” ujarnya.

Kemenangan Ganjar dalam hitung cepat, menurut Indaru, lebih ditopang oleh kekuatan figur Taj Yasin. Ia adalah putra kiai sepuh dari Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang Kiai Haji Maimoen Zubair alias Mbah Moen. “Ini saya pikir juga [menggambarkan] turunnya popularitas PDIP di Jawa Tengah sebagai partai yang menjadi basis Ganjar,” ujar Indaru.

Isu korupsi yang dimainkan kubu Sudirman-Ida untuk menyerang Ganjar sebenarnya bukan hanya terkait kasus KTP elektronik, tapi juga kasus korupsi yang menjerat kepala daerah di Jawa Tengah yang berasal dari PDIP. Berdasarkan penelusuran Tirto, sejak 2006 lalu sudah ada 12 kepala daerah dari PDIP di Jawa Tengah yang ditangkap KPK karena kasus korupsi.

Para kepala daerah asal PDIP di Jawa Tengah yang telah ditangkap KPK adalah Hendy Boedoro (Kendal), Fahriyanto (Magelang), Indra Kusuma (Brebes), Bambang Bintoro (Batang), Soemarni (Semarang), Endang Setyaningdyah (Demak), Rina Iriani Sri Ratnaningsih (Karanganyar), Ikmal Jaya (Kota Tegal), Jhon Manuel Manopo (Salatiga), Sri Hartini (Klaten), Probo Yulastoro (Cilacap), dan Tasdi (Purbalingga).

Selama masa kampanye, kubu Sudirman-Ida kerap memanfaatkan isu ini sebagai peluru melawan Ganjar-Yasin. Sejak Ganjar menjabat Gubernur Jawa Tengah pada 2013 silam, ada 10 kepala daerah dari provinsi itu yang ditangkap KPK. Upaya memainkan isu tersebut dipertontonkan Sudirman dalam debat publik Pilgub Jateng yang diselenggarakan KPUD.


Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera juga sempat menyampaikan sindiran serupa Sudirman. Ia berkata, Jawa Tengah menjadi berantakan saat ini karena tidak berani melawan maraknya kasus korupsi yang terjadi. "Jawa Tengah ini matang di masa peradaban [Jawa kuno] dengan munculnya banyak kerajaan. Tapi semuanya berantakan karena permisif dan tidak berani terhadap korupsi," ujar Mardani kepada Tirto, Kamis (21/6/2018).

Analis politik dari Universitas Diponegoro (Undip) Teguh Yuwono menilai kemenangan Ganjar banyak dipengaruhi oleh kekuatan PDIP di Jawa Tengah. Menurut Teguh, masyarakat Jawa Tengah masih menganggap penting keberadaan dukungan PDIP yang dianggap sebagai partai berhaluan nasionalis. Ia menyebut, siapapun sosok yang diusung PDIP berpeluang lebih besar memenangkan Pilkada dibanding calon lain. "Yang bikin menang bukan figur Ganjarnya, tapi [partai] pengusungnya," ujar Teguh.

Saat ditemui di kawasan Gajah Mungkur, Semarang, Ganjar berharap elektabilitasnya di hasil hitung resmi Komisi Pemilihan Umum (KPU) bisa memperlebar selisih suara dengan Sudirman-Ida. "Tanggapannya ya kita dorong saja toh. Ya mudah-mudahan sampai akhir naik, naik, naik [elektabilitasnya] begitu," ujar Ganjar.

Baca juga artikel terkait PILGUB JATENG 2018 atau tulisan menarik lainnya Lalu Rahadian
(tirto.id - Politik)


Penulis: Lalu Rahadian
Editor: Muhammad Akbar Wijaya