Mengapa Ada Orang Takut Jatuh Cinta dan Dicintai?

Infografik Mengapa Ada Orang Takut Dicintai
Ilustrasi Wanita menolak Jatuh Cinta. FOTO/iStockphoto
Oleh: Widia Primastika - 2 Juli 2019
Dibaca Normal 3 menit
Sebagian besar orang takut jatuh cinta karena khawatir akan mengalami kekecewaan kembali dalam hubungannya yang baru.
tirto.id - Jenny Arinka, seorang pegawai di sebuah perusahaan asuransi berusia empat puluhan ini sudah akrab dengan pertanyaan “Kok sendiri aja? Mana gandengannya?” dari rekan-rekannya.

Jenny memang kerap bepergian sendiri. “Apalagi kalau datang ke acara reuni, duh, enggak ada habisnya itu pertanyaan. Ya kan rata-rata teman-temanku kalau kumpul sudah bawa anak, bahkan ada yang sudah punya 3 anak,” tutur Jenny.

Itu baru dari teman-temannya. Di lingkup keluarganya, kedua orangtua Jenny sering mencari-cari tahu tentang siapa pria yang sedang dekat dengan dirinya.

“Papa-mama aku sering banget nanyain, ‘Kamu tu apa enggak punya pacar?’, karena aku enggak pernah ngajak cowok ke rumah. Pusing jawabnya, kalau bilang punya, kenyataannya enggak punya, tapi kalau bilang enggak punya, mereka sudah kayak punya rencana jodohin aku,” ungkap Jenny.

Jenny tak mau dijodohkan, sebab kesendiriannya hingga saat ini bukan karena tak ada pria yang mendekatinya. Sebenarnya Jenny ingin punya kekasih, tapi ia punya ketakutan-ketakutan yang hadir saat ada pria yang mendekatinya.

“Kalau punya pacar, kita harus bagi waktu antara diri sendiri dan pacar kita. Ngurus diri sendiri aja kadang masih belum benar, apalagi mikir orang lain. Kayaknya kok masih belum sanggup,” tutur Jenny.


Jenny juga menuturkan malas dengan keribetan dan keributan dalam perkara percintaan.

Khawatir, Takut, bahkan Fobia Jatuh Cinta

Pikiran yang merayap di pikiran Jenny barangkali juga menggerayangi diri Anda. Takut jatuh cinta dan menerima cinta. Bahkan, pada kondisi yang parah, kekhawatiran ini bisa menjelma menjadi fobia yang disebut filofobia.

Menurut Healthline, orang-orang dengan filofobia ini memiliki ketakutan yang ekstrem dan tidak masuk akal untuk jatuh cinta atau memiliki ikatan emosional dengan orang lain.

Jika sebagian besar orang menganggap cinta sebagai bagian kehidupan yang indah dan menakjubkan, bagi orang-orang dengan filofobia, tubuh dan otak mereka akan memberontak ketika berpikir untuk jatuh cinta, seperti: panik, rasa penolakan, berkeringat, detak jantung yang cepat, sulit bernafas, mual.

Mereka mungkin sadar bahwa ini adalah perasaan yang tak wajar, tapi mereka tak mampu melawan.

Scott Dehorty, seorang direktur eksekutif Maryland House Detox, Delphi Behavioral Health Group, mengatakan bahwa trauma masa lalu menjadi salah satu penyebab utama dari filofobia. Mereka dihantui kekhawatiran akan rasa sakit yang pernah mereka alami.

“Jika seseorang sangat terluka atau ditinggalkan ketika masih anak-anak, mereka mungkin enggan menjadi dekat dengan seseorang yang mungkin akan melakukan hal yang sama. Reaksi ketakutan adalah menghindari hubungan, sehingga menghindari rasa sakit. Semakin seseorang menghindari sumber ketakutan mereka, rasa takut itu semakin meningkat,” ungkap Dehorty kepada Healthline.

Fobia ini tidak tercatat dalam Diagnostic and Statistic Manual (DSM) yang dikeluarkan oleh American Psychiatric Associaton. Namun, Anda bisa membantu teman Anda yang mungkin mengeluhkan hal ini.

Ribetnya Jatuh Cinta

Dalam sebuah artikel di Psychology Today, Krystine I. Batcho, seorang profesor psikologi dari Le Moyne College membeberkan bahwa dewasa ini, manusia punya kecemasan yang besar saat bicara tentang komitmen.


Lisa Firestone, seorang psikolog klinis dan Direktur Penelitian dan Pendidikan untuk Glendon Association menyampaikan beberapa alasan orang enggan jatuh cinta.

Alasan pertama adalah cinta sejati membuat orang merasa rentan. Kita tak bisa memungkiri bahwa ketika kita jatuh cinta, kita akan menaruh kepercayaan pada orang yang dicintai. Tentu sangat mungkin hubungan yang terjalin memengaruhi kita. Beberapa orang percaya, semakin mereka peduli dengan pasangan, kemungkinan untuk terluka akan semakin besar.

Dalam kondisi ini, orang menjadi bimbang, sebab jika bersikap sebaliknya, mereka khawatir akan mengecewakan sang kekasih hingga merasa gagal. Ada ketakutan tak bisa adil terhadap kekasih mereka.

Banyak orang yang takut menerima cinta beranggapan bahwa cinta sering tak setara. Muncul pemikiran bahwa satu orang mendapatkan lebih atau kurang seiring berjalannya waktu. Maka tak jarang ada orang yang sering mengalami perubahan emosional ketika mereka berada dalam sebuah komitmen.

Alasan lain, kisah-kasih masa lalu kita akan muncul dan berpengaruh terhadap hubungan kita yang baru, misalnya pengaruh yang kuat tentang cara pandang kita terhadap orang-orang dekat, sampai cara kita bertindak dalam sebuah hubungan romantis.

Apalagi kalau hubungan yang terdahulu mereka pernah mengalami ketidaksetiaan, pengkhianatan, atau permusuhan. Dinamika negatif hubungan yang telah selesai itu sangat mungkin membangkitkan rasa sakit, kehilangan, kemarahan, atau penolakan. Maka tak heran jika ada orang yang takut untuk jatuh cinta.

Menoleransi Perbedaan dengan Orang Lain

Pendapat Batcho dan Firestone itu berdasar, sebab dalam sebuah survei online yang melibatkan 20.096 orang dewasa berusia di atas 18 tahun di kawasan Amerika Serikat, Alaska, dan Hawaii melaporkan bahwa mereka selalu atau terkadang merasa kesepian (46 persen) dan merasa ditinggalkan (47 persen).


Dalam penelitian itu, 27 persen responden menganggap bahwa tak ada orang yang benar-benar memahami mereka dan 43 persen responden merasa bahwa hubungan yang mereka jalani itu tidak berarti.



Alain de Botton, seorang filsuf dan penulis dari Inggris kelahiran Swiss dalam opini yang dimuat di The New York Times memaparkan tentang salah satu ketakutan orang adalah menikahi orang yang salah.

Ada beberapa alasan orang menikah, seperti berasal dari daerah yang sama, kemapanan dan popularitas keluarga, hingga persamaan agama. Meski alasan itu masuk akal, sangat mungkin dari pernikahan itu muncul kesepian, perselingkuhan, kekerasan fisik dan emosional, serta kekerasan terhadap anak.

De Botton mengakui bahwa mencari kebahagiaan pernikahan tidaklah mudah, sebab cinta yang kita rasakan sejak dini itu sering dikacaukan dengan dinamika yang destruktif, seperti kehilangan kehangatan orangtua, ketakutan akan amarah mereka, hingga tidak merasa aman dalam mengomunikasikan apa yang kita inginkan.

Untuk itu, manusia perlu menyadari bahwa setiap orang akan membuat frustrasi, marah, dan mengecewakan. Kita pun akan melakukan hal yang sama kepada mereka.

Sehingga menurut de Botton, kita harus memiliki kapasitas untuk menoleransi perbedaan dengan kemurahahhatian.

“Orang yang paling cocok untuk kita bukanlah orang yang berbagi setiap selera kita, tetapi orang yang dapat menegosiasikan perbedaan rasa secara cerdas—orang yang pandai berselisih pendapat,” ujarnya.

Baca juga artikel terkait PERCINTAAN atau tulisan menarik lainnya Widia Primastika
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Widia Primastika
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight