Menerabas Jarak Demi Cinta

Oleh: Nuran Wibisono - 4 Agustus 2016
Dibaca Normal 3 menit
Hubungan jarak jauh adalah hal yang paling normal dalam sejarah hubungan asmara umat manusia. Adam dan Hawa pun sempat menjalaninya selama bertahun-tahun. Namun, jika dulu hubungan jarak jauh terasa berat, kini hubungan yang terpisah jarak ini terkesan lebih mudah karena banyak medium untuk menumpas kangen. Apa benar demikian?
tirto.id - "I would die for you, climb the highest mountain. Baby, there's nothing I wouldn't do."

Suara Timothy Schmit mendayu-dayu ketika menyanyikan lagu itu. Lagu ini pertama kali dinyanyikan oleh Eagles sewaktu konser reuni mereka pada 1994. Awalnya lagu ini ditolak oleh manajer Eagles, Irving Azoff. Mungkin dianggap terlalu menye-menye. Tapi ketika akhirnya direkam, lagu ini menempati peringkat 1 dalam tangga lagu Billboard. Semacam pembuktian kalau lagu dengan tema cinta itu tidak akan pernah basi, selalu laku dan dicari orang.

Eagles, dalam lagu berjudul "Love Will Keep Us Alive" itu, memadukan dua bualan paling romantis dalam sejarah umat manusia: aku bersedia mati untukmu, dan mendaki gunung tertinggi untuk menemuimu. Berhasil, tentu saja.

Mungkin orang boleh mencibir rayuan yang terkesan klise ini. Tapi sudah ada banyak kasus orang yang mau mati demi cinta. Lebih banyak lagi, orang yang rela menyeberangi gunung dan lautan demi orang terkasih. Dunia modern menamakan pengembaraan asmara itu sebagai: long distance relationship (LDR), alias hubungan jarak jauh.

Zaman dulu, LDR mungkin terasa lebih terjal. Belum ada internet, sambungan telepon pun jarang. Bahkan kalau mundur ke dekade 30-an, terutama di era Perang Dunia, hubungan jarak jauh cukup dijalani dengan surat dan doa saja. Kini bisa dibilang LDR lebih mudah dijalani. Ada banyak medium yang bisa digunakan untuk menumpas kangen. Mulai email, telepon, media sosial, hingga aplikasi chat yang dilengkapi dengan panggilan video. Tapi apa benar medium pesan itu membuat LDR lebih mudah?

Di Amerika Serikat, di mana apapun bisa dibuat lebih serius dengan data statistik, LDR nyatanya tidak bertambah mudah. Pelaku bertambah banyak, iya. Menurut situs Long Distance Relationship Statistics, ada 14 juta pasangan yang menjalani hubungan jarak jauh ini. Sekitar 3,75 juta orang di antaranya adalah pasangan yang sudah menikah. Paling banyak adalah para anak muda di bangku kuliah, dengan jumlah sekitar 32,5 persen.

Menuntut ilmu di kampus adalah salah satu alasan terbesar kenapa pasangan-pasangan itu memilih untuk berhubungan jarak jauh. Mereka, anak-anak muda yang baru saja kena panah Cupid itu, sudah berpasangan semenjak SMA dan harus berpisah ketika melanjutkan kuliah di kota yang berbeda. Alasan lain bisa karena penugasan militer, atau masalah pekerjaan.

Pekerjaan ini juga punya andil dalam memisahkan pasangan. Pandu, seorang kawan yang bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil di Kementerian Keuangan, harus berpisah dengan istri dan anaknya. Sang istri, yang merupakan PNS di Yogyakarta, tentu tak mudah bisa pindah tugas. Karenanya, Pandu memilih untuk pulang pergi setiap minggu dengan menggunakan kereta.

Salah satu mitos yang paling sering dilemparkan ke pasangan-pasangan ini adalah hubungan mereka tak akan tahan lama. Namanya juga mitos, banyak yang tak benar. Hubungan percintaan, mau jarak dekat atau jarak jauh, selalu punya kemungkinan bubar yang sama. Secara angka, sekitar 40 persen hubungan jarak jauh mengalami kegagalan. Meski lumayan menggidikkan, tapi setidaknya ada 60 persen pasangan yang bertahan.

Tim tirto.id baru-baru ini mengeluarkan survei tentang hubungan jarak jauh. Respondennya adalah mereka yang berusia 15 hingga 40 tahun, dengan mayoritas (43,2 persen) berada di rentang usia 23-26 tahun. Tak jauh berbeda dengan survei yang dilakukan oleh situs LDR Statistic. Sekitar 54 persen responden adalah perempuan.

Survei ini dibuat untuk mengetahui, siapa saja yang menjalani hubungan LDR ini. Juga berapa lama mereka menjalani masa hubungan seperti itu. Hingga prioritas yang akan dilakukan oleh pasangan interlokal ini.

Dari hasil survei ini, sekitar 63,4 persen responden menyatakan sedang menjalani hubungan jarak jauh. Bisa dibilang hubungan jarak jauh kini jadi tren, apalagi dengan semakin banyaknya anak muda yang mendapat kesempatan berkuliah. Hal itu semakin memperbesar kemungkinan hubungan jarak jauh karena perkara studi beda kota.

Hal ini ditunjukkan oleh jumlah pasangan yang LDR. Sekitar 71,6 persen adalah mereka yang masih berpacaran. Baru sekitar 28,4 persen adalah mereka yang sudah menikah. Biasanya mereka terpisah karena urusan pekerjaan. Baik pihak lelaki maupun perempuan sama-sama punya pekerjaan yang tak bisa ditinggalkan.



Dalam banyak puisi atau lagu, para pujangga dan penyair kerap berkata: kerinduan itu menyiksa. Para pasangan jarak jauh ini rupanya amat tabah menjalani siksaan. Paling tidak, sekitar 27 persen di antaranya sudah menjalani hubungan LDR antara 1 hingga 2 tahun. Mayoritas, sekitar 38 persen, memang baru menjalani hubungan nan menyiksa ini kurang dari satu tahun. Hebatnya, ada sekitar 18 persen yang sudah menjalani LDR lebih dari 4 tahun. Bagi mereka, rindu mungkin sudah tidak semenyiksa dulu lagi.

Rindu semakin terasa menyiksa karena frekuensi pertemuan yang jarang. Mereka yang mahasiswa tentu disibukkan dengan urusan kuliah dan tugas yang menumpuk. Yang sudah menikah tentu sibuk bekerja dan mencari uang tambahan agar bisa membeli tiket untuk bertemu keluarga. Sekitar 53 persen responden tirto.id, mengatakan mereka bertemu pasangannya hanya 1-4 bulan sekali. Yang paling tabah adalah mereka, sekitar 10 persen responden, yang bertemu hanya sekali per 8 bulan. Berat, bung. Sungguh berat.

Dalam sebuah artikel di Financial Diet, ada kisah tentang pasangan jarak jauh. Sang lelaki adalah wartawan yang bertugas di San Francisco. Pasangannya tinggal di New York kemudian pindah ke Turki untuk melanjutkan sekolah. Hubungan beda negara ini lumayan terbantu dengan adanya Skype dan media sosial lain.

"Tapi tentu kami tetap ingin ketemu. Ya itu artinya kami harus komitmen mengeluarkan dana setidaknya 2 ribu dolar per tahun," kata Meghan Koushik, sang perempuan.

Meghan juga kemudian bertutur bahwa tidak setiap liburan atau hari besar bisa dihabiskan bersama. Mereka tetap harus bekerja sambilan untuk tabungan supaya nanti mereka bisa liburan bersama. Di antara waktu yang jahat dan dompet yang kembang kempis, liburan bersama adalah pilihan yang paling baik bagi Meghan.

Hal yang sama juga dipikirkan oleh responden tirto.id. Kami memberi pertanyaan: jika kamu diberikan uang Rp2 juta, apa yang akan kamu lakukan bersama pasangan? Sekitar 41 persen menjawab mereka akan berlibur bersama pasangan. Sisanya, sekitar 21 persen, memilih untuk membeli tiket untuk ke tempat pasangan. Ada sekitar 19 persen yang ingin membeli hadiah untuk pasangannya. Ini artinya, kebersamaan bersama pasangan itu lebih penting ketimbang hadiah sekalipun. Sekaligus membuktikan bahwa teknologi bernama video call ini hanya penghilang rindu temporer saja. Pertemuan secara fisik tetap yang utama.

Karena sifat LDR yang butuh banyak ongkos, sebenarnya pola hubungan ini cukup merugikan bagi pasangan yang sudah menikah. Ada pengeluaran-pengeluaran yang jadi dobel. Semisal pengeluaran untuk urusan perut. Jika serumah, bisa sekali masak untuk beberapa orang. Namun karena terpisah jarak, ini artinya harus menyediakan uang untuk dua dapur. Belum lagi ongkos transportasi yang harus ada. Apalagi mereka yang baru punya anak, tentu ingin setiap hari dekat dengan anak.

Pandu, memilih untuk mengeluarkan uang guna pulang pergi Jakarta-Yogya setiap minggu. Demi apa lagi kalau bukan melihat sang buah hati yang baru berusia sekitar 1 tahun ini. Dia memilih naik kereta Bogowonto, yang berangkat jam 9 malam dari Jakarta. Harga tiketnya sekitar Rp150 ribu. Setiap minggu, Pandu harus menyediakan setidaknya Rp500 ribu. Ini artinya, ada dana Rp2 juta tiap bulan yang disiapkan untuk ongkos transportasi.

Berat memang, tapi demi cinta apa yang tidak akan dilakukan? Gunung saja bersedia didaki, lautan disebrangi. Iya kan, Mister Schmit?

Baca juga artikel terkait LDR atau tulisan menarik lainnya Nuran Wibisono
(tirto.id - Gaya Hidup)

Reporter: Nuran Wibisono
Penulis: Nuran Wibisono
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight