Mark Zuckerberg Dicecar Anggota Kongres AS Soal Skandal Facebook

Oleh: Maya Saputri - 11 April 2018
Dibaca Normal 1 menit
Mark Zuckerberg menghadapi pertanyaan-pertanyaan sengit dalam sidang bersama Komite Perdagangan dan Peradilan Senat AS.
tirto.id - CEO dan pendiri Facebook, Mark Zuckerberg, memberi kesaksian di depan Kongres Amerika Serikat (AS) sekitar 5 jam terkait skandal kebocoran data 87 juta pengguna kaitannya dengan kasus Cambridge Analytica.

Jaringan media sosial terbesar dunia itu disebut gagal melindungi puluhan juta data penggunanya yang digunakan untuk membantu Donald Trump memenangi pemilihan presiden 2016.

"Yang paling penting saat ini menurut saya adalah memastikan bahwa tidak akan ada pihak yang ikut campur dalam pemilihan 2018 di seluruh dunia," ujarnya menjawab pertanyaan dari Senator Tom Udall dari Meksiko, dikutip dari The Guardian.

Pendiri Facebook yang berusia 33 tahun itu menghadapi pertanyaan-pertanyaan sengit dalam sidang bersama Komite Perdagangan dan Peradilan Senat AS.

Beberapa topik yang mengemuka dalam dengar pendapat ini, termasuk isu pemilihan presiden 2016. Zuckerberg mengonfirmasi bahwa karyawannya juga telah dimintai keterangan dari Robert Muller yang menyelidiki kasus intervensi Rusia dalam pilpres 2016. "Saya tahu bahwa kami bekerjasama dengan mereka," ujarnya.

Selain itu, ia ditanyakan mengenai monopoli Facebook dalam industri penyedia layanan media sosial oleh senator Lindsey Graham. "Bagi saya tidak terasa seperti itu," jawab Mark. Hal ini merujuk pada rencana perlunya aturan untuk mengatur di industri ini.

"Dalam posisi saya tentunya tidak diperlukan aturan semacam itu," kata Mark.

Saat ditanya lagi, apakah Facebook akan mematuhi bila nanti memang akan ada regulasi soal ini, Mark menjawab, "bila regulasinya benar, ya kami patuhi."

Lindsey menegaskan sekali lagi, "apakah Anda mau bekerjasama dengan kami?"

"Tentu saja," jawab Mark.

Sebelumnya, John Thune, Ketua komite Perdagangan, Ilmu Pengetahuan dan Transportasi Senat AS membuka sidang itu dengan nada keras.

Beberapa jam sebelum sidang berlangsung, orang-orang menunggu dalam antrian di dalam Gedung Kantor Senat Hart di sepanjang ruang sidang di lorong. Beberapa di antara mereka membawa kursi lipat sementara lainnya berdiri atau duduk di lantai.

Di luar gedung Kongres, kelompok pemrotes daring Avaaz menjajarkan 100 guntingan gambar Zuckerberg sebesar badannya, yang mengenakan kaos bertuliskan "Fix Facebook".

Zuckerberg, yang mendirikan Facebook dari kamar asramanya di Universitas Harvard pada 2004, sedang berjuang untuk membuktikan kepada para pengecamnya bahwa ia adalah orang yang tepat untuk terus memimpin perusahaan, yang telah berkembang menjadi salah satu yang terbesar di dunia.



Facebook menghadapi peningkatan krisis kepercayaan di antara para penggunanya, pemasang iklan, karyawan serta penanam modal setelah mengakui bahwa data pribadi 87 juta orang, yang sebagian besar tinggal di Amerika Serikat, dipanen oleh laman Cambridge Analytica.

Cambridge Analytica adalah perusahaan konsultan politik, yang salah satu kliennya adalah tim kampanye pemilihan Presiden AS Donald Trump.

Pada Jumat, Zuckerberg menyatakan dukungan terhadap usulan undang-undang untuk mewajibkan laman-laman media sosial mengungkapkan identitas para pembeli ruang iklan kampanye politik dalam jaringan mereka.


Baca juga artikel terkait FACEBOOK atau tulisan menarik lainnya Maya Saputri
(tirto.id - Teknologi)

Reporter: Maya Saputri
Penulis: Maya Saputri
Editor: Maya Saputri
* Data diambil dari 20 top media online yang dimonitor secara live