Mahalnya Jadi Tuan Rumah Ajang Olahraga Akbar

Oleh: Nuran Wibisono - 20 Agustus 2017
Dibaca Normal 4 menit
Olimpiade Athena 2004 dianggap sebagai salah satu penyebab bangkrutnya Yunani. Pemerintah Brasil dilanda kemarahan rakyatnya dan gelagapan dihajar utang besar karena jadi tuan rumah Olimpiade Rio 2016.
tirto.id - Tanggal 13 Agustus 2016 menjadi hari terakhir Michael Phelps berlaga. Skenario terbaik sudah dijalani separuhnya. Pada Olimpiade yang diselenggarakan di Rio de Janeiro itu, Phelps sudah meraih 4 emas dan 1 perak. Pamungkasnya adalah final cabang 4 x 100 meter gaya ganti estafet putra. Perenang berjuluk The Baltimore Bullet ini memimpin 3 rekannya, Ryan Murphy, Cody Miller, dan Nathan Adrian.

Phelps adalah perenang ketiga setelah Murphy dan Miller. Setelah Miller menyentuh tembok, Phelps langsung meloncat. Splasssh! Air berkecipak sedikit, tanda lompatan sempurna. Phelps harus memulai lomba 2 detik lebih lambat ketimbang lawan bebuyutan dari Inggris, James Guy. Ketika berbalik pun, Phelps masih tertinggal beberapa mili detik.

Tapi Phelps sudah matang ditempat ratusan lomba yang memicu jantung. Dari kamera bawah air, terlihat bahwa Phelps dengan tenang menoleh pada Guy yang berada di sebelah kirinya. Lalu kakinya menghentak, dan dua tangannya meraup angin. Ia melaju. Cepat. Nyaris melompat seperti lumba-lumba. Tiba-tiba saja Guy sudah tertinggal sedepa di belakang.

"Guy harus melawan perenang terbaik sepanjang masa, Michael Phelps," ujar sang komentator, tertawa kecil.

Phelps yang di awal tertinggal 2 detik, menyelesaikan gilirannya dalam waktu 50,33 detik. Unggul dari catatan waktu Guy, 31,35 detik. Empat orang perenang AS membuat rekor baru di Olimpiade dengan catatan waktu 3,27 detik. Mengalahkan rekor sebelumnya, juga oleh tim renang AS, yakni 3,29 detik.

Phelps total meraih 5 emas dan 1 perak di Olimpiade 2016. Membuatnya menjadi atlet dengan medali Olimpiade terbanyak sepanjang sejarah, 28 medali. Di arena Olympic Aquatics Stadium, Rio de Janeiro , ia menutup karier gemilangnya.

Baca juga: Kisah Para "Underdog" di Rio 2016


Hitung maju 6 bulan kemudian. Februari 2017, Phelps sudah pensiun, tapi namanya masih tetap dielukan. Catatan waktunya berusaha dipecahkan oleh banyak atlet, tetapi belum berhasil hingga sekarang. Tapi Olympic Aquatics Stadium, tempat Phelps mengakhiri kariernya, sudah nyaris tak bernyawa lagi.

Bangunan yang terletak di Barra Olympic Park itu memang didesain sebagai arena sementara untuk laga pertandingan air. Selain renang, arena yang menelan biaya pembangunan sekitar 38 juta dolar ini juga jadi tempat tanding final polo air. Tapi tak ada yang menyangka, arena ini sudah rusak dan ditinggalkan dalam waktu 6 bulan saja.

Situs pecinta renang, Swim Swam menulis dengan judul masygul, "Rio Legacy Plans In Doubt As Olympic Aquatics Stadium Left to Rot". Ya, tempat itu perlahan membusuk. Di artikel itu, banyak foto yang menunjukkan arena renang berisi air berwarna cokelat. Sudah tampak pula lumut di permukaan air itu. Jamur mulai tumbuh di ubin samping kanan dan kiri. Sedangkan kain yang tadinya bergambar bunga dan wajah-wajah penduduk Rio, mulai terlepas dari atas. Tempat itu lebih cocok sebagai setting film zombie alih-alih sebagai bekas tempat olahraga.

Tidak hanya Olympic Aquatics Stadium yang mengalami nasib naas itu. Stadion legendaris Maracana pun demikian. Dalam foto yang dijepret oleh fotografer CNN Joao Pina, tampak stadion itu juga diabaikan dan ditinggalkan.

Tak ada rumput di tengah lapangan. Sekitar 7.800 kursi hilang dari tempatnya. Kaca pecah. Jendela rusak, engsel pintu patah. Kursi rusak ditumpuk begitu saja di gudang kotor. Televisi yang dulu pernah menghiasi dinding, sudah tak tampak lagi. Listrik diputus karena tagihan yang mencapai 1 juta dolar tak jua dibayar.

Pina memberi judul serial fotonya: The Ghost of Maracana.

Negara-Kota yang Merogoh Kocek Dalam

Stephen D. Ross dari National Laboratory for Tourism and e-Commerce, Universitas Illionis at Urbana-Champaign, pada 2001 pernah menulis panduan singkat berjudul Developing Sports Tourism. Ia menandai bahwa pagelaran Piala Dunia 1994 yang berlangsung di Amerika Serikat adalah salah satu pintu awal berkembang pesatnya pariwisata olahraga.

Secara sederhana, pariwisata olahraga dapat diartikan sebagai kegiatan wisata atau perjalanan yang berkaitan dengan kegiatan olahraga. Kegiatannya beragam. Mulai mendatangi tempat bersejarah seperti Stadion Koshien di Jepang, tur stadion di Inggris, mendatangi museum NASCAR di Amerika Serikat, hingga melanglang untuk menonton kompetisi olahraga internasional semisal Piala Dunia atau Olimpiade.

Baca juga: Sumsel Akan Kembangkan Wisata Olahraga Berstandar Internasional


Pada Piala Dunia 1994, Ross mencatat bahwa acara itu menarik sekitar 50 juta wisatawan mancanegara ke Amerika Serikat. Para wisatawan itu diperkirakan merogoh pengeluaran hingga 100 miliar dolar.

Sejak menjadi bagian dari industri pariwisata, menghelat pagelaran akbar kemudian tak sekadar ajang pertandingan. Kompetisi olahraga menjelma jadi ajang penggenjot ekonomi, juga sebagai daya tarik bagi wisatawan. Buntutnya, pagelaran itu juga harus menjadi ajang pertunjukan spektakuler dan pesta yang gegap gempita. Misalkan, pesta pembukaan dan penutupan haruslah ultra meriah. Lengkap dengan koreografi ribuan penari, atau ledakan warna-warni kembang api seharga jutaan dolar.

Baca juga: Pembukaan Olimpiade Rio Brazil 2016

Ini artinya, tak cuma pemasukan yang besar, pengeluaran pun akan membengkak. Para penyelenggara harus membangun arena baru, atau merenovasi arena lama. Begitu pula infrastruktur lain, semacam pembangunan jalan atau penambahan hotel.

Pada 2008, pemerintah Cina merogoh kocek sekitar 43 miliar dolar untuk menyelenggarakan Olimpiade Beijing. Empat tahun kemudian, giliran pemerintah Inggris yang mengeluarkan dana sekira 11 miliar dolar. Dalam sejarah Olimpiade, ajang termahal terjadi pada Olimpiade musim dingin di Sochi, Rusia, pada 2014 silam. Sekitar 50 miliar dolar harus dikeluarkan pemerintah Rusia. Ini 4 kali lebih besar dari prediksi dana awal, yakni 12 miliar dolar.

Begitu pula untuk ajang seperti Piala Dunia. Saat Korea Selatan dan Jepang menjadi tuan rumah pada 2002, mereka harus membangun stadion baru yang sesuai standar internasional Piala Dunia, beserta tribun penonton berjumlah besar. Korea Selatan total membangun 10 stadion baru dengan biaya 2 miliar dolar. Sedangkan tetangganya, Jepang, malah lebih royal lagi. Negeri Matahari Terbit itu rela membelanjakan 4 miliar dolar untuk membangun 7 stadion baru dan merenovasi 3 stadion lama.

Baca juga: Hitung Mundur Asian Games 2018 Bukti RI Siap Jadi Tuan Rumah


Tapi jika harus melongok negara yang jadi korban gengsi Olimpiade dan berakhir mengenaskan, tak ada lagi contoh yang pas selain Yunani dan Brasil.

Pada 2004, Athena jadi tuan rumah Olimpiade. Diperkirakan kegiatan itu menelan ongkos 9 miliar dolar --jumlahnya bervariasi, dari 7 miliar dolar hingga 15 miliar dolar. Angka 9 miliar dolar itu, menurut Business Insider, setara dengan 5 persen Produk Domestik Bruto Yunani. Negara yang sedang kesusahan keuangan itu bertambah limbung, berakibat krisis keuangan yang bermula pada 2007. Jadi tuan rumah Olimpiade dianggap sebagai salah satu kegiatan yang semakin mendorong Yunani ke jurang kebangkrutan.

Saat Rio de Janeiro jadi tuan rumah Olimpiade 2016, ongkos yang harus dikeluarkan sekitar 13 miliar dolar. Tidak hanya soal uang, penyelenggaraan ini juga menuntut ongkos sosial yang besar. Banyak warga digusur dari tempat tinggalnya, terjadi beberapa kerusuhan, dan sekitar 57 persen warga Rio tidak percaya lagi pada Wali Kota mereka.

infografik ongkos mahal menjadi tuan rumah


Dengan ongkos yang sedemikian mahal itu, kenapa masih banyak negara dan kota yang mau menjadi tuan rumah ajang olahraga besar? Ada beberapa jawaban yang kerap dilontarkan.

Pertama, selalu ada anggapan bahwa ajang olahraga besar bisa mendatangkan wisatawan dalam jumlah besar. Otomatis uang akan mengalir, dan kegiatan pariwisata akan bergulir. Apakah betul? Tidak selalu. Saat Korea Selatan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2002, jumlah wisatawan nyaris sama dengan tahun 2001. Jika menengok catatan Misuk Byeon dkk di "South Korean Perspective on the Impacts of 2002 Football World Cup" (2008), setelah acara itu selesai, pelaku industri hotel mengatakan tidak merasakan dampak Piala Dunia.

Alasan kedua berkaitan dengan politik. Menjadi tuan rumah ajang olahraga besar, apalagi yang populer seperti Piala Dunia atau Olimpiade, bisa menjadi pernyataan politik: negara kami kuat dan kaya. Itu kenapa negara seperti Qatar --yang notabene tak punya ikatan kuat dengan sepak bola-- mau menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022.

Tapi seiring banyaknya negara dan kota yang terjerembab ke lembah utang karena menyelenggarakan acara olahraga akbar, bermunculan pula warga yang menentang terang-terangan. Mereka tak rela jika pajak yang mereka bayar dipakai untuk menomboki helatan yang cuma berlangsung selama 1 bulan. Protes itu bahkan membuat Roma, Boston, dan Hamburg menarik diri dari pencalonan tuan rumah Olimpiade 2024. Muncul pula ide untuk menggelar ajang olahraga besar secara gotong royong antar beberapa negara.

Berbagai studi tentang biaya penyelenggaraan ajang olahraga akbar juga membuat banyak orang semakin paham: menjadi tuan rumah itu pekerjaan berat dan berisiko amat besar. Dalam The Oxford Olympics Study 2016: Cost and Cost Overrun at the Games (2016), dijelaskan, "Kota dan negara yang memutuskan jadi penyelenggara Olimpiade, berarti sedang menjalankan salah satu proyek agung yang paling boros dan paling berisiko secara finansial."

Maka, saat Indonesia menggaungkan keinginan untuk jadi tuan rumah Piala Dunia 2034, respons yang paling tepat adalah: coba dipikir ulang.

Baca juga artikel terkait ASIAN GAMES 2018 atau tulisan menarik lainnya Nuran Wibisono
(tirto.id - Olahraga)

Reporter: Nuran Wibisono
Penulis: Nuran Wibisono
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight