6 Juli 1885

Louis Pasteur: Penemu Vaksin Rabies, Penyelamat Gigitan Anjing Gila

Oleh: Uswatul Chabibah - 6 Juli 2021
Dibaca Normal 3 menit
Seorang bocah yang terluka 14 gigitan anjing gila selamat setelah menerima vaksin rabies. Kelak ia mengabdi di Institut Pasteur hingga akhir hayatnya.
tirto.id - Hari masih pagi, tetapi matahari terasa terik. Nyonya Meister dan anaknya, Joseph Meister, menyusuri jalanan Paris mencari rumah sakit tempat kerja seorang ilmuwan yang konon dapat mengobati penyakit rabies atau hidrofobia.

Dalam Time edisi 13 Maret 1939 dikisahkan, Nyonya Meister telah menempuh jarak 380 km dari rumahnya di Alsace, dekat perbatasan Jerman, menuju Paris demi mencari kesembuhan untuk anak laki-lakinya yang dua hari sebelumnya digigit anjing. Di tubuh Joseph yang baru berusia 9 tahun, terdapat 14 gigitan dari seekor anjing gila besar, yang hampir dapat dipastikan akan merenggut nyawanya. Baru pada sore hari, Nyonya Meister berhasil bertemu ilmuwan yang menjadi harapannya.

Louis Pasteur namanya. Ia memelihara beberapa ekor anjing gila di dalam kandang di laboratoriumnya. Pasteur menyimpan serum dari mikroorganisme penyebab rabies yang telah dilemahkan, diambil dari sumsum tulang belakang seekor kelinci yang mati akibat rabies.

Pasteur belum pernah menyuntikkan serum tersebut kepada manusia, meski serumnya telah berhasil menyelamatkan 50 ekor anjing dari rabies yang mematikan. Tapi hari itu, 6 Juli 1885, tepat hari ini 136 tahun lalu, air mata Nyonya Meister yang memohon supaya ia menyelamatkan anaknya, membuat Pasteur nekat menyuntikkan serumnya kepada manusia, untuk pertama kali.

“... pada tanggal 6 Juli, pukul 8 malam, enam puluh jam setelah gigitan tanggal 4 Juli, dan di hadapan Drs. Vulpian dan Granter, satu suntikan diberikan di bawah lipatan kulit di hipokondrium kanan, yaitu setengah isi jarum suntik Pravaz berisi [zat dari] sumsum tulang belakang kelinci yang mati karena rabies pada 21 Juni, dan sejak tanggal itu disimpan di dalam botol kering, yaitu selama 15 hari,” tulis Carole Bos dalam "Louis Pasteur and the Rabies Virus".

Hingga 10 hari kemudian, Joseph tiap hari mendapatkan suntikan. Setelah tiga pekan observasi, keajaiban pun muncul. Joseph kecil menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Setelah tiga bulan dan tiga hari, Pasteur menyatakan bahwa Joseph benar-benar sembuh.

Pada 20 Oktober 1885, Pasteur juga berhasil merawat pasien lain yang digigit anjing gila seminggu sebelumnya. Pada 1886, Pasteur telah merawat 350 pasien rabies dari Eropa dan Amerika. (JMS Pearce, “Louis Pasteur and Rabies: a brief note”, J Neurol Neurosurg Psychiatry 2002;73, hlm. 82).


Bermula dari Kolera Ayam

Vaksin rabies merupakan hal yang menantang bagi Pasteur. Sebelumnya, yakni pada 1879, ia mengamati bahwa biakan bakteri yang sudah lama akan kehilangan kemampuan menimbulkan penyakit. Temuan ini tidak disengaja. Sebelum musim liburan, Pasteur meminta asistennya untuk menyuntikkan biakan baru kolera ayam kepada ayam sehat. Tetapi asistennya lupa dan berlibur selama satu bulan. Ketika kembali bekerja, si asisten lab tetap menyuntikkan biakan bakteri kolera kepada ayam, tetapi tentu saja biakan tersebut sudah berumur satu bulan karena ditinggal liburan. Anehnya, ayam-ayam percobaannya tidak menunjukkan gejala kolera atau hanya menunjukkan gejala ringan.

Penasaran, Pasteur lalu menyuntikkan bakteri kolera yang masih baru kepada ayam-ayam tersebut, dan ayam-ayam itu tetap sehat. Ia berargumen bahwa paparan oksigen beberapa waktu lamanya menyebabkan bakteri biakannya menjadi lemah. Penemuan vaksin kolera ayam ini merupakan revolusi dalam penanganan penyakit menular dan penanda lahirnya imunologi.

Kendati teknik melemahkan mikroorganisme penyebab penyakit dan menyuntikkannya pada individu yang sehat guna membentuk kekebalan sudah dikenal pada saat itu, tetapi Pasteur adalah orang pertama yang melakukan prosesnya di laboratorium. Metode ini kemudian diikuti oleh para ahli virus di seluruh dunia.

Bakteri yang dilemahkan di laboratorium dan disuntikkan ke ayam sehat membuat sistem kekebalan ayam belajar mengenali bakteri bila terjadi infeksi, tanpa membuat ayam menjadi sakit. Pasteur beranggapan metodenya ini dapat digunakan untuk mencari vaksin-vaksin baru demi membasmi berbagai penyakit menular. Tahun 1881, ia membantu pengembangan vaksin antraks yang sukses menyelamatkan hewan ternak dari wabah antraks di Eropa.


Infografik Mozaik Louis Pasteur dan Vaksin Rabies
Infografik Mozaik Louis Pasteur dan Vaksin Rabies. tirto.id/Sabit


Namun, penyebab rabies bukanlah bakteri. Saat itu Pasteur belum tahu bahwa penyebab penyakit rabies adalah virus (Rabies lyssavirus), yang ukurannya jauh lebih kecil ketimbang bakteri, menggandakan diri sangat cepat, dan lebih gampang bermutasi. Tetapi ketika Pasteur memindahkan virus dari anjing gila ke kelinci, virus tersebut menjadi tidak terlalu berbahaya ketika berpindah ke tubuh manusia karena sudah melewati beberapa spesies. Cara ini ternyata melemahkan virus. Dari sinilah definisi vaksinasi lahir, yakni melemahkan mikroorganisme hidup untuk membentuk suatu kekebalan.

Pada bulan Oktober 1885, Akademi Ilmu Pengetahuan Prancis mengakui serum antirabies Pasteur. Penelitian yang semula mendapat kritik banyak pihak ini--termasuk keraguan akademisi karena Pasteur bukan seorang dokter--akhirnya diakui komunitas ilmiah dan mendapatkan penghargaan serta pujian internasional. Pada 4 Juni 1887, Pasteur Institute didirikan, tujuannya untuk penelitian rabies dan penyakit ganas yang menular. Tanggal 14 November 1888, Presiden Prancis, Sadi Carnot, meresmikan lembaga penelitian tersebut.

Setelah 125 tahun berlalu sejak Joseph Meister diobati, banyak negara telah bebas rabies. Namun setiap tahun masih ada sekitar 55.000 orang meninggal karena rabies, kebanyakan anak-anak di Afrika atau Asia. Meskipun vaksin rabies sangat efektif, tetapi harganya masih mahal untuk digunakan secara luas di beberapa negara.

Meister kecil yang dulu hampir mati digigit anjing gila, ketika sudah dewasa kembali ke Paris menemui juru selamatnya. Ia mengabdi sebagai penjaga di Pasteur Institute hingga akhir hayatnya ketika Jerman memasuki Prancis. Tentara Nazi memaksa Meister membuka makam Pasteur yang terletak di sayap kanan bangunan Institute. Konon Meister memilih bunuh diri ketimbang mematuhi perintah Nazi yang akan merusak tempat peristirahatan orang yang telah menyelamatkan nyawanya. (B. Lee Ligon “Biography: Louis Pasteur: A controversial figure in a debate on scientific ethics. Seminars in Pediatric Infectious Diseases Volume 13, Issue 2, April 2002, hlm. 134-141).

Pasteur Institute didirikan di berbagai negara untuk penelitian penyakit menular dan pengembangan vaksin. Di Hindia Belanda, Institut Pasteur berdiri pada abad ke-19 dan menjadi pemasok berbagai vaksin penting di kawasan Asia. Louis Pasteur meninggal pada 28 September 1895. Hingga kiwari peninggalannya senantiasa menyelamatkan umat manusia.

Baca juga artikel terkait VAKSIN RABIES atau tulisan menarik lainnya Uswatul Chabibah
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Uswatul Chabibah
Editor: Irfan Teguh
DarkLight