Menuju konten utama

Korban Gempa di Mataram NTB Memilih Tidur di Tenda Darurat

Masyarakat di Mataram memilih bermalam di tenda daripada di dalam rumah.

Korban Gempa di Mataram NTB Memilih Tidur di Tenda Darurat
Pengungsi membangun tenda darurat di pematang sawah di Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, Senin (6/8/2018). ANTARA FOTO/Zabur Karuru

tirto.id - Korban gempa di Kota Mataram, Lombok, membangun tenda di gang-gang jalan untuk bermalam bersama di luar rumah setelah gempa bumi 7,0 Skala Richter yang mengguncang daerah itu pada Minggu (5/8) petang.

"Tenda ini untuk pengungsian bersama, karena masih pada takut untuk tidur di dalam rumah," kata Farouk Mukhsin, salah satu warga di Kelurahan Cakranegara, Lombok, Senin malam.

Beberapa tenda dibangun di tengah jalanan guna menghindari dekat bangunan tembok yang dikhawatirkan runtuh ketika terjadi gempa susulan.

Beberapa jalan kecil terpaksa dipasangi barikade untuk menutup akses jalanan agar dapat didirikan tenda dengan atap terpal yang luas.

Berdasarkan pengamatan Antara, satu tenda terpal diisi lima sampai enam keluarga, dengan mayoritas perempuan dan anak-anak, sedangkan warga laki-laki berkumpul di ujung gang untuk siaga.

Wati, salah satu pengungsi di tenda darurat, mengatakan masih trauma dan takut untuk bermalam di dalam rumah sebab gempa besar beberapa hari terakhir terjadi ketika petang.

"Semalam, guncangan besar sekali, jadi saya takut roboh, mending di luar bareng-bareng nunggu aman," kata dia.

Kepada Antara, Wati mengatakan harapan agar bencana gempa bumi segera berlalu dan tidak ada lagi gempa susulan.

Pusat Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menyebut gempa bumi 7,0 SR pada Minggu (5/8) terjadi akibat pergerakan Sesar Naik Flores (Flores Back Arc Thrust).

"Adanya aktivitas Sesar Naik FLores yang memanjang dari Nusa Tenggara Timur sampai ke Bali di bagian utaranya, dan itu menyusup di bagian sepanjang pulau di Nusa Tenggara itu, menyusup ke bawahnya dan termasuk menyusup di Pulau Lombok dan itulah yang menyebabkan terjadinya gempa 7 SR itu," kata Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono di Kantor BMKG, Jakarta, Senin.

Terkait dengan bidang patahan atau Sesar Naik Belakang Busur Flores, ia menjelaskan, menunjam bagian daratan Lombok sehingga menimbulkan tumbukan yang menghasilkan gempa.

Oleh karena gempa Lombok bersifat dangkal dan ada robekan akibat pergerakan sesar terhadap daratan Lombok sampai ke arah laut maka hasil pemodelan menunjukkan adanya potensi tsunami.

Berdasarkan hal itu, BMKG sempat mengeluarkan peringatan dini waspada tsunami. Setelah peringatan itu, tsunami kecil terjadi di Desa Carik (13,5 cm), Desa Badas (10 cm), Desa Lembar (9 cm), dan Benoa (2 cm). Peringatan dini tsunami tersebut diakhiri pada Minggu (5/8) pukul 20.25 WIB.

Baca juga artikel terkait GEMPA NTB

tirto.id - Sosial budaya
Sumber: Antara