Menuju konten utama

Komodifikasi Intimasi pada Jasa Sewa Pacar

Kita hidup di era modern di mana teknologi bisa mempermudah hidup, termasuk dengan mudah menyediakan kekasih impian meski memasang tarif per jam.

Komodifikasi Intimasi pada Jasa Sewa Pacar
Ilustrasi pacaran. FOTO/iStockphoto

tirto.id - Di film Love for Sale (2018) dikisahkan, Richard si jomblo dengan usia tak lagi muda diminta membawa pacar oleh teman-teman satu grupnya ke pesta pernikahan salah satu temannya.

Richard kemudian mencari segala cara untuk mendapatkan pacar dalam waktu 2 minggu. Akhirny aia menemukan Arini, di situs kencan.Tak butuh waktu lama, ia jatuh hati pada Arini, ia merasa menemukan soulmate yang mengerti akan dirinya. Padahal, Arini hanya kekasih bayaran yang akan hilang bersamaan dengan jangka waktu yang disepakati.

Kisah seperti Richard ini tak hanya di film saja, kini banyak bermunculan jasa sewa pacar, terutama di kota-kota besar Indonesia.

Mengadopsi jasa sewa pacar di Jepang atau China yang sudah lebih dulu ada, jasa sewa pacar di Indonesia mudah ditemukan di media sosial seperti Instagram atau Tiktok.

Pemuda atau pemudi jomblo kini tak lagi kesulitan mencari pacar. Mereka bisa bergandengan tangan, bermesraan di kafe, selfie berdua, merasa bahagia meski hanya beberapa jam saja.

Pengalaman sewa pacar daring ini pernah dialami oleh Kiki (23) - nama samaran. Ia menyewa pacar karena ingin mempunyai seseorang yang setiap hari bisa memberinya perhatian.

“Pulang kerja capek, begitu lihat ponsel, ada yang menyemangati dan memberi support dan bisa jadi teman curhat, rasanya lega sekali,” ungkapnya.

Meski ia menyadari sewa pacar ini tidaklah serius, tetapi ia cukup bahagia dengan adanya pacar sewaannya, karena pacar bayaran tersebutsangat memahaminya. “Nyambung sekali obrolannya, hobi kita pun sama, ” jelasnya.

Menurut Meike Lusye Karolus, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas UPN Veteran, Yogyakarta mengatakan, “Kultur kencan sebenarnya menguat bersamaan lahirnya modernitas. Dulu pernikahan merupakan transaksi ekonomi-politik untuk prokreasi dan melanjutkan kekuasaan, bukan relasi yang didasarkan cinta romantis antar manusia. Sejak masa revolusi industri, cinta romantis kemudian dikomodifikasi untuk mendorong manusia berprokreasi agar menciptakan tenaga kerja (kapital)."

"Manusia dibuat percaya bahwa sumber kebahagiaan mereka adalah menemukan cinta sejati (yang romantis) itu. Relasi cinta romantis rohnya terletak pada keintimannya. Oleh sebab itu, media sejak dulu sudah mendukung penyebaran pandangan itu secara masif hingga sekarang."

"Intimasi sangat penting karena akan membentuk relasi dan ikatan dari ranah privat hingga publik. Saat ini, penggunaan teknologi digital yang masif rupanya juga mempengaruhi keintiman untuk menjadi lebih cair, tidak ada border lagi, dan maknanya berubah-ubah,” jelas Meike.

Intimasi dapat diartikan sebagai elemen emosional dalam suatu hubungan yang melibatkan pengungkapan diri yang menghasilkan keterkaitan, kehangatan, dan kepercayaan. Intimasi bukan sebatas ketertarikan secara seksual namun merupakan kedekatan psikologis, emosional, dan perasaan diantara dua manusia bahkan kelompok.

“Salah satu kebutuhan manusia adalah intimasi. Saat ini, kerinduan akan intimasi ini dapat dibeli oleh mereka yang mampu membeli. Sewa pacar adalah intimasi yang dikomodifikasi. Yang dijual adalah sensasi merasakan keintiman dengan “pasangan” idaman,” jelas Meike.

Berbagai Jenis Sewa Pacar

Memulai bisnis sejak Agustus 2023, Diva (nama samaran) co-Founder dari @rentalpasangan mengklaim jasa sewa pacar ada untuk membantu orang-orang untuk mencari pasangan atau menyesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.

“Mereka yang memanfaatkan jasa memang ada yang mencari pacar, tetapi tidak melulu demikian. Mereka ada yang ingin dibantu untuk menguntit mantan, atau ingin mantannya cemburu, atau hanya butuh teman untuk menemani mereka, mendengarkan cerita atau meminta saran dari talent,” jelas Diva.

Jasa sewa pacar yang ditawarkan oleh @rentalpasangan ini ada 2 macam, daring dan luring. Untuk daring, ada paket-paket yang disediakan antara lain paket chatting, calling, baik per hari, per minggu maupun per bulan. Biaya mulai Rp30.000- Rp300.000.

Paket termahal bernama LDR seharga Rp750.000 termasuk chat, call, voice notes, voice call dan PAP.

Sementara, untuk kencan luring, tarif mulai Rp 150.000 per 2 jam. Saat ini @rentalpasangan sudah menyediakan jasa talent di berbagai kota seperti Jabodetabek, Purwokerto, Cirebon, Solo, Surabaya.

Diva mengatakan, pelanggannya memiliki karakter yang bermacam-macam, “Ada yang sampai 4 bulan mengambil paket, ada yang sampai jatuh cintabeneran,namun kami dan talent menjaga tetap profesional.”

Customer biasanya menyewa talent secara offline untuk acara-acara seperti resepsi pernikahan, acara wisuda, atau untuk teman kencan pada umumnya seperti nonton bioskop, makan, minum di kafe, dan lain sebagainya.

“Kami mempunyai batasan dan peraturan yang tidak boleh dilanggar. Seperti, customer tidak boleh chat atau meminta hal mesum, jika seperti ini maka talent berhak mengakhiri chat sebelum batas waktu berakhir. Sementara untuk offline, tempat pertemuannya harus di tempat umum, dan tidak boleh meminta hal mesum, seperti berciuman dan lain sebagainya,” jelas Diva.

Sebelum memesan, perusahaan akan memverifikasi identitas konsumen dan tempat kencan. Konsumen juga diberi tahu akan peraturan apa saja tidak boleh dilakukan.

Sementara, untuk menjadi talent, Diva mengatakan, “Untuk menjadi talent kami ada seleksi mulai dari biodata, interview, dan kami memberikan cara-cara berkomunikasi dengan customer”.

Talent hanya memberikan nama samaran dan nomor ponsel yang khusus untuk melayani jasa sewa pacar.

Dari data @rentalpasangan, pengguna jasa sewa pacar ini berusia 20-30 tahun dan punya pekerjaan.

“Jadi secara umum, mereka pekerja yang tidak punya waktu untuk mencari pacar, tidak punya teman atau seseorang untuk diajak ngobrolatau tukar pikiran,” jelasnya.

Meike menuturkan, pengaruh sistem ekonomi kapitalisme telah membuat banyak orang di usia muda sibuk bekerja hingga tidak punya waktu untuk berinteraksi dengan orang lain di dunia nyata, mereka teralienasi dan kesepian.

Ditambah dengan hadirnya teknologi digital dimana ada konsep masyarakat tontonan. Secara psikologis, di usia produktif seperti itu juga puncak orang lapar akan keintiman.

“Orang berkompetisi memenuhi standar-strandar ideal masyarakat, seperti misalnya punya pacar di usia tertentu. Sosial media menjadi cara mudah menunjukkan pencapaian dan keberhasilan, seperti memiliki uang banyak, kecantikan, dan bahkan keluarga idaman. Orang kemudian tergiur untuk menunjukkan punya pacar ganteng atau cantik, meskipundengan cara manipulasi yaitu membayar orang lain agar berakting menjadi pacar,” jelas Meike.

Infografik Sewa Kekasih

Infografik Sewa Kekasih. tirto.id/Fuad

Relasi Berdasarkan Ilusi

Diva menyatakan, bisnis pacar sewaan ini terus berkembang dan pasarnya meningkat. Ini terbukti dari live Tiktok @rentalpasangan, viewernya banyak menanyakan sewa pacar di daerah masing-masing.

“Dari ribuan viewer, sekitar 40 persen mengirim pesan ke kami, sayangnya tidak semua kota ada talent kami, untuk itu kami berupaya untuk merekrut talent di kota-kota besar yang banyak permintaan,seperti Bali.”

Bisnis sewa pacar ini diakui Meike membuka lapangan kerja sektor informal karena memang ada pasarnya.

“Sistem kapitalistik ini akan membuat kerja-kerja yang tadinya dilakukan orang di ranah privat menjadi ranah publik. Jika dahulu kita menyuruh teman untuk menyelidiki mantan, saat ini ada orang bayaran yang bisa mengerjakannya.”

Menurut Meike, praktek sewa pacar ini memiliki basis relasi berupa ilusi bukan kepercayaan (trust).

Saling memanipulasi dan hubunganya sebatas transaksional. Orang dibuat percaya punya hubungan seperti nyata, tetapi harus membayar.

“Lama-kelamaan seperti yang ada di Jepang, orang tidak lagi butuh pasangan nyata apalagi pernikahan, karena bisa bayar pacar sesuai yang ia mau. Untuk kebutuhan seks, ada boneka seks.”

Dalam kasus general, praktek sewa pacar ini bisa mendegradasi institusi pernikahan. Namun, Meike berpendapat, fenomena ini masih perlu dipelajari lebih lanjut.

Ia mencontohkan, pernikahan pun memiliki dimensi transaksional. Laki-laki memberi mahar yang dipertukarkan dengan identitas dan alat reproduksi perempuan yang menjadikan keperawanan menjadi tanda jadi kesepakatan.

Keperawanan perempuan akhirnya diberi nilai dan dibungkus dengan mitos dan kesakralan. Sementara itu, sewa pacar adalah hubungan transaksional yang lebih eksplisit dengan basis kesepakatan.

“Perbedaan pernikahan dan kencan sewaan adalah karena yang satu dinormatifkan dan yang satunya tidak. Faktanya, banyak orang menikah belum tentu karena cinta, lantas apa bedanya dengan pacar sewaan?"

"Hubungan kencan sewaan tidak ditujukan berakhir di pernikahan. Itu bukan komitmen jangka panjang. Hubungan kencan sewaan merupakan hubungan jangka pendek yang dibatasi waktu dengan argo. Konteks pacar sewaan ini merupakan gejala perubahan masyarakat memandang keintiman dan kritik terhadap sakralitas pernikahan.”

Positifnya adalah orang mulai terbuka dengan keintiman, yaitu bahwa setiap orang butuh hal tersebut.

Problemmya, tidak setiap orang dapat membangun keintiman yang sehat, sehingga mendapatkannya dengan cara-cara transaksional dan bukan cinta.

“Jika seperti itu, maka kita perlu bertanya pada diri sendiri, inikah relasi yang memanusiakan manusia?,” tutup Meike.

Baca juga artikel terkait LIFESTYLE atau tulisan lainnya dari Daria Rani Gumulya

tirto.id - Gaya hidup
Kontributor: Daria Rani Gumulya
Penulis: Daria Rani Gumulya
Editor: Lilin Rosa Santi