Advertorial

Komitmen Klaim Asuransi Allianz di Tengah Pandemi

Ilustrasi Kemudahan Klaim Asuransi. FOTO/Istock
Oleh: Advertorial - 18 Oktober 2020
Dibaca Normal 3 menit
Sebagai sebuah bisnis, asuransi selalu diselubungi banyak mitos, seperti klaim yang rumit dan merepotkan.
Tentu saja, seperti yang dibayangkan oleh banyak orang, masa pandemi ini bikin kita semakin merasa butuh asuransi kesehatan dan jiwa. Pada Maret 2020, hasil riset lembaga survey Nielsen menyatakan bahwa 35 persen konsumen Indonesia tertarik untuk lebih memperhatikan kesehatan mereka dan berinvestasi pada pembelian asuransi kesehatan sejak pandemi.

Riset tersebut juga menunjukkan jika lima persen konsumen telah melakukan pembelian asuransi untuk pertama kalinya karena pandemi, serta 40 persen lainnya diperkirakan akan melakukan pembelian asuransi dalam 12 bulan berikutnya.

Sementara MarkPlus, Inc. pada acara “Industry Roundtable” di bulan yang sama, mengatakan bahwa sembilan dari 10 nasabah asuransi mencari informasi, terutama mengenai apakah polis asuransinya memberikan perlindungan terhadap COVID-19.

Ironisnya, hal sedikit berbeda malah terjadi sebelum pandemi. Berdasarkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan yang dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan pada 2016 silam, 96,81 persen masyarakat Indonesia mengaku memiliki tujuan keuangan, tapi mayoritas untuk jangka pendek, alias untuk kebutuhan sehari-hari saja.

Begitu pula soal asuransi. Pada 2019, OJK mencatat indeks literasi asuransi masih cukup rendah, yakni 19.4%. Dari 100 orang, hanya 19 orang yang memahami asuransi.

Karena itu, tak heran kalau perusahaan asuransi sering dilingkupi mitos yang jauh dari kebenaran. Pertama, tentang membeli asuransi yang dianggap mendahului takdir. Padahal membeli asuransi adalah sebuah ikhtiar, usaha untuk menjaga diri. Pepatah dulu bilang: lebih baik sedia payung sebelum hujan. Membeli asuransi adalah laku membeli payung itu.

Mitos kedua yang juga umum, adalah harga asuransi dianggap mahal. Padahal, harga asuransi sangat beragam, tergantung jenisnya. Harga asuransi bahkan ada yang mulai dari harga belasan ribu rupiah per bulan. Ini tentu jauh lebih murah ketimbang harga untuk beli kuota, dan juga untuk beli kopi.

Selain dua mitos itu, mitos ketiga yang amat lekat dengan asuransi adalah: klaimnya amat rumit dan menyita waktu. Padahal seringkali klaim itu terasa rumit karena nasabah tak melengkapi dokumen. Di beberapa perusahaan asuransi, malah klaim bisa dilakukan hanya dalam waktu 48 jam saja. Cepat dan praktis.

Masalahnya, karena berbagai mitos itu sudah terlanjur mengakar kuat di pikiran, tak heran kalau banyak orang tak mau membeli asuransi karena keder duluan. Namun pandemi memang bikin banyak manusia berpikir ulang tentang banyak hal dan juga belajar bahwa ada saja kejadian yang tak bisa diprediksi.

Di Januari 2020, orang-orang berharap sesuatu yang baik akan menghampiri. “January, be good to me!” begitu harapan yang dicuit oleh banyak orang di media sosial. Dan dua bulan kemudian, tak ada yang baik-baik saja. Semua berubah. Pekerjaan hilang, puluhan juta orang menganggur di seluruh dunia, kita tak bisa lagi dengan santai bertemu orang lain, sekadar ngopi, apalagi bepergian jauh.

Seiring makin banyak orang butuh asuransi, ada beberapa perusahaan yang serta merta menaikkan harga premi, juga mengubah banyak peraturan. Asuransi, sebagai bisnis yang demand-nya naik di masa pandemi, malah lebih selektif terhadap calon pembeli. Selain itu, biasanya aplikasi ini akan butuh waktu lebih lama jika tercatat punya riwayat perjalanan. Begitu pula bagi yang terkena COVID-19.

“Lebih dari separuh perusahaan asuransi yang bekerja sama dengan kami, yang merepresentasikan sebagian besar pasar perusahaan asuransi, telah melakukan perubahan syarat karena COVID-19,” ujar Jennifer Fitzgerald, CEO perusahaan pembanding asuransi, Policygenius.


Klaim Cepat dan Tepat


Yang terjadi di banyak perusahaan asuransi dunia itu, setidaknya tidak terjadi di Allianz Indonesia. Di masa pandemi ini, perusahaan internasional yang berpusat di München, Jerman ini, malah punya layanan yang makin cepat dan prima. Salah satunya lewat layanan pengajuan klaim asuransi kesehatan secara online melalui Allianz eAZy Connect.

Layanan ini adalah hasil dari inovasi digital yang dikembangkan Allianz sejak beberapa tahun terakhir. Karena inovasi ini, hampir semua layanan Allianz bisa diakses dengan lebih mudah dan berbasis digital. Mulai dari pengecekan informasi polis hingga pengajuan klaim asuransi kesehatan secara online.

Layanan digital ini terbukti digemari nasabah dan mitra bisnis Allianz. Hingga Juli 2020, pengajuan polis secara online mencapai 93 persen dari sisi keagenan dan 82 persen dari sisi bancassurance (dengan bank mitra). Sedangkan penerbitan polis elektronik mencapai 42 persen dari keseluruhan polis baru. Selain memudahkan, layanan eAZy ini juga mempercepat proses klaim asuransi kesejatan. Sekarang, 90 persen pembayaran klaim asuransi kesehatan Allianz secara online berhasil diproses dalam waktu 48 jam saja.

“Pelayanan dari Allianz terus terang gak bikin kita repot. Kita hanya menunjukkan kartu ke mereka, mereka semua yang urus. Terus orang Allianz yang konfirmasi ke kita by WA maupun SMS,” kata Sondang Sijabat, pasien PDP COVID-19 yang anak dan suaminya adalah ODP. “Mereka bilang kartunya sudah aktif dan dikoneksikan ke pusat.”

Allianz juga menyadari bahwa pandemi ini adalah masa yang berat buat semuanya. Karena itu, Allianz berkomitmen untuk membebaskan masa tunggu (waiting period) bagi nasabah yang dirawat dengan diagnosis COVID-19.

“Saya telepon ke customer care dan mereka cepat tanggap, dicatat dan uang pertanggungannya diproses dengan cepat,” kata Grace Zacharias, istri pasien COVID-19 yang ditinggal meninggal oleh suaminya.

Allianz memang telah berkomitmen untuk memberikan manfaat perlindungan terhadap COVID-19 kepada nasabahnya. “Setiap klaim terkait COVID-19 yang diajukan kepada kami diproses sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam Polis. Kami selalu siap membuktikan komitmen kami untuk memberikan perlindungan dan layanan terbaik bagi para nasabah,” ujar Karin Zulkarnaen, Direktur Allianz Life Indonesia.

Hingga Juni 2020, Allianz punya 630.000 nasabah asuransi jiwa dan kesehatan, dan punya lebih dari 9 juta tertanggung. Mereka juga membayarkan klaim asuransi jiwa dan kesehatan yang berkaitan dengan COVID-19.

“Hingga Agustus 2020, Allianz Life Indonesia telah menjamin dan membayar klaim asuransi jiwa dan kesehatan terkait kasus positif COVID-19 sebesar lebih dari Rp44 miliar,” kata Karin.

Apa yang dilakukan Allianz adalah bukti dalam membongkar mitos yang beredar di masyarakat di masa pandemi. Jika mitos yang berkembang umumnya perusahaan-perusahaan asuransi seakan terkesan mempersulit nasabah dan hanya ingin menangguk untung semata dari pandemi ini, Allianz membuktikan bahwa mereka bukan hanya mempermudah klaim asuransi, melainkan juga mempercepat prosesnya.
DarkLight