Kolaborasi PSG dan Jordan Brand: Bukti Kosmopolitnya Olahraga

Oleh: Faisal Irfani - 17 September 2018
Dibaca Normal 3 menit
Langkah besar diambil Paris Saint-Germain dengan menggandeng jenama Air Jordan. Bisakah meruntuhkan dominasi Adidas?
tirto.id - Nyaris tak ada yang berbeda dari tampilan jersey anyar Paris Saint-Germain (PSG) yang diunggah di laman Instagram mereka baru-baru ini. Warna gelap yang dominan, logo Fly Emirates sebagai sponsor utama di bagian tengah, serta corak garis yang menggambarkan identitas klub.

Tapi, tunggu dulu sampai Anda melihat bagian kanan atas jersey. Di sana, bukan lagi logo Nike yang tercantum seperti biasanya, melainkan Jordan Brand—merek produksi Nike yang selama ini identik dengan sepatu basket milik Michael Jordan yang masyhur itu.

Kamis (13/9), Nike mengumumkan bahwa PSG resmi bekerjasama dengan jenama Jordan serta menjadikannya klub bola pertama di dunia yang mendapat keistimewaan itu. Michael Jordan, perwakilan dari Jordan, menyebut kerjasama dengan PSG sebagai “hal yang alami”. Sementara Presiden PSG, Nasser Al-Khelaifi, mencatat bahwa kemitraan antara PSG dengan Jordan mencerminkan ambisi untuk “menggabungkan gaya, kinerja, dan inovasi”.


Sedianya, kerjasama PSG dan Jordan mencakup pengadaan jersey, sepatu, sneakers, kaos, hingga jaket. Semua dibungkus dengan balutan warna dasar PSG, Jordan, serta gabungan keduanya. Produk kolaborasi keduanya dijadwalkan rilis pada 14 September. Sedangkan jersey PSG x Jordan bakal dipakai PSG dalam pertandingan perdana Liga Champions empat hari kemudian.

Dalam beberapa tahun terakhir, Jordan memang sudah lebih dulu menancapkan eksistensinya di Paris. Pada 2016, mereka membuka gerai Jordan Bastille. Setahun berselang, Jordan menjalin kemitraan dengan Federasi Bola Basket Prancis.

Mekar Karena Dilarang


Cerita Air Jordan tak bisa dilepaskan dari sosok Michael Jordan dan semua bermula pada 1984.

Kala itu, Jordan baru saja menjalani musim luar biasa bersama tim basket Universitas North Carolina. Salah satu prestasinya adalah menyabet gelar Pemain Terbaik Kompetisi Tahun 1984. Performa tersebut membuat Chicago Bulls kepincut dan menyodorkan kontrak bermain kepada Jordan.

Tak lama usai bersepakat dengan Bulls, giliran Nike yang mengajak Jordan kerjasama. Jordan pun setuju. Kontrak yang ia tandatangani dengan Nike berdurasi lima tahun dan punya nilai 2,5 juta dolar.

Sadar bahwa Jordan adalah potensi yang mampu mendatangkan banyak uang, Phil Knight, CEO Nike waktu itu, lantas membikin strategi untuk mengenalkan dirinya kepada penggemar basket di AS. Maka, dibuatlah seri sepatu yang kelak mampu menggambarkan identitas Jordan, tak hanya sebagai pebasket tapi juga sebagai brand. Dari sinilah Air Jordan muncul ke permukaan.

Air Jordan versi awal dijual seharga 65 dolar. Warnanya adalah perpaduan hitam dan merah dengan tali berwarna putih. Banyak yang beranggapan, sepatu Air Jordan tak cocok dengan jersey Bulls. Nike tak peduli. Mereka terus tancap gas memproduksi Air Jordan.


Tak cuma ditentang para penggemar, Air Jordan rupanya juga mendapat resistensi dari pihak NBA. Alasannya, Air Jordan dinilai melanggar regulasi yang mengharuskan warna sepatu pebasket adalah putih. Pada 18 Oktober 1984, catat Forbes, NBA, diwakili komisionernya, David Stern, melarang Air Jordan digunakan dalam pertandingan.

Lagi-lagi Nike tak ambil pusing. Mereka meminta Air Jordan tetap dipakai. Kengototan Nike membuat NBA berang dan menjatuhkan denda sebesar 5 ribu dolar setiap kali Jordan memakai sepatu tersebut di pertandingan. Jordan mulai tidak nyaman dengan situasi yang ada. Namun Nike meyakinkannya bahwa mereka akan membayar setiap sen dari denda yang diberikan NBA.

“Aku terus mengenakannya,” kata Jordan, mengutip For the Love of the Game, “dan David Stern memarahiku.”

Larangan NBA, mengutip Bleacher Report, justru kian membuat nama Air Jordan melambung. Alih-alih terjerembap, Nike malah memperoleh publisitas dalam skala yang cukup masif. Sejak saat itu, Nike tambah gencar mengkampanyekan Air Jordan. Mereka memasang iklan di sudut-sudut kota, menangkap tiap detil gerak Jordan saat mengenakan sepatunya. Walhasil, penggemar basket pun tertarik pada produk ini.

Memasuki akhir 1980-an, popularitas Air Jordan seolah tak dapat dibendung. Di fase inilah, logo Air Jordan—gambar Jordan sedang terbang atau biasa disebut “Jumpman”—dibikin. Pembuatnya adalah Tinker Hatfield, desainer Nike yang lulusan arsitektur. Dari lapangan basket, Air Jordan lantas memenuhi rak-rak pertokoan di hampir seluruh Amerika—dan dunia.

Sejak pertama diluncurkan sampai sekarang, Air Jordan bermetamorfosis ke dalam lebih dari 30 seri. Dari Air Jordan Space Jamps, Bordeauxs, Coppers, Concords, Coments, Grapes, Breds, hingga Infrareds. Air Jordan dijual rutin dengan harga 200 dolar per pasang. Untuk model tertentu, bisa dijual dengan harga ribuan dolar.

Menurut laporan Forbes, jenama Air Jordan adalah mesin pencetak uang Nike. Pada 2014, penjualan Air Jordan di AS mencapai 2,6 miliar dolar. Di tahun yang sama, Air Jordan menguasai 58% pasar sepatu basket di AS, mengalahkan Adidas hingga Reebok. Yang mencengangkan, Air Jordan edisi “Legend Blue” bahkan mampu mendatangkan 80 juta dolar dalam seminggu pertama penjualan.

“Nike telah melakukan pekerjaan luar biasa dengan mengembangkan jenama Jordan menjadi jenama yang lebih hidup. Lebih dari sebatas produk basket,” ungkap Eric Tracy, analis Janney Capital Markets, kepada Forbes. “Itu secara inheren menarik target pasar yang jauh lebih besar.”

Infografik Air Jordan


Bisakah PSG Memanfaatkannya?


Tak ada yang meragukan popularitas Air Jordan. Ia dirayakan di mana-mana; tak sekadar sebagai produk olahraga, tapi juga menjadi produk budaya yang eksistensinya mengiringi perkembangan zaman.

Scoop Jackson dalam “Impact of Jordan Brand Reaches Far Beyond Basketball” yang terbit di ESPN pada 13 Februari 2016 mengatakan Air Jordan sudah sama pentingnya dengan permainan bola basket itu sendiri. Alasannya, tulis Jackson, pertama, Nike tak cuma menjual produk sepatu melainkan menjual karakter Michael Jordan sebagai atlet hebat dengan segala talentanya. Air Jordan lekat dengan pelbagai karakter maupun kemampuan Jordan ketika ia bermain di lapangan.

“Secara logis, kita tahu bahwa Air Jordan tidak akan membuat kita seperti Michael Jordan. Tapi, ada semacam kepercayaan yang berlaku secara universal dan komersial bahwa memiliki sepatu Air Jordan mampu membuat masyarakat merasa terhubung dengan Jordan,” terang Jackson.


Singkat kata, semakin banyak game yang Jordan menangkan, semakin banyak tembakan yang ia buat, dan semakin banyak poin yang ia dapatkan, maka semakin banyak sepatu yang ia jual ke pasaran.

Alasan kedua: Air Jordan tumbuh dengan ambisi “terus ingin mengeluarkan sesuatu yang baru” serta konsisten menyasar masyarakat di kota-kota besar. Air Jordan menolak tunduk pakem yang begitu-begitu saja. Ia terus berevolusi, mencoba menghadirkan sensasi yang mungkin belum pernah dibayangkan publik. Sikap semacam ini, sekarang, mungkin bisa dilihat dari Apple yang terus berinovasi dengan produknya.

Yang jadi pertanyaan: bisakah Jordan mengokupasi pasar sepakbola—sesuatu yang selama ini belum mereka jamah—dengan menggandeng PSG sebagai rekan bisnisnya?

Rasanya terlalu dini apabila langsung menyebut bahwa Jordan bakal menguasai sepakbola. Pasalnya, selama ini, lahan bisnis sepakbola sudah dikuasai Adidas. Pada 2016, mengutip GQ, Adidas berhasil menghasilkan 3 miliar dolar dari sepak bola, sementara Nike ‘hanya’ mendatangkan 2,1 miliar dolar. Hal tersebut tentu berbanding terbalik di basket ketika pada 2017, Nike, catat Bloomberg, unggul jauh (1,29 miliar dolar) mengalahkan Adidas (401 juta dolar).

Kendati demikian, pintu mengalahkan Adidas di bisnis sepakbola terbuka lebar. Datangnya Jordan semakin membuka lebih luas kesempatan itu.

Baca juga artikel terkait PSG atau tulisan menarik lainnya Faisal Irfani
(tirto.id - Olahraga)


Penulis: Faisal Irfani
Editor: Nuran Wibisono