Periksa Fakta

Klaim Salah: Korban Meninggal Akibat Corona Capai 10 Ribu Orang

Oleh: Irma Garnesia - 31 Januari 2020
Dibaca Normal 2 menit
Menurut pantauan WHO per 29 Januari 2020, Virus Corona telah menyebabkan kematian pada 132 orang di Cina.
tirto.id - Pada 26 Januari 2020, kanal Youtube Epoch Times (ET) Indonesia membagikan sebuah video berjudul “Wuhan Jadi neraka, Mayat Terbaring Dimana-mana, yang Meninggal Hampir 10.000, Tidak Terurus” (arsip). Berdurasi 2:22 menit dan telah disaksikan sebanyak 952 ribu kali dan mendapat 5,2 ribu Likes, video dengan narasi Bahasa Mandarin itu menampilkan keadaan di sebuah rumah sakit di Wuhan.

Pada deskripsi video, ET Indonesia menuliskan: "Diluar ruang gawat darurat, ada sebuah mayat terbaring di sana, tidak diketahui sudah berapa lama, tidak ada yang mengurus, tadi saya berpikir ada orang yang terbaring di sana, namun saya teliti lagi wajahnya tertutup semua. Dalam Rumha Sakit Wuhan mayat banyak sekali, ada dimana-mana, yang meninggal sudah 100 lebih, masih terus ada yang meninggal, di Wuhan yang meninggal sudah 10.000 lebih, yang meninggal karena sakit, yang terbaring sudah meninggal, tidak ada yang mengurus, pemerintah juga tidak mengurus.”

Sementara itu, di media sosial Facebook, video ini juga dibagikan di grup PASAR ONLINE TAIWAN (arsip) dan grup lawak pecah perut (arsip). Dalam pantauan selama 24 jam terakhir, video ini telah disaksikan oleh 1,1 juta orang di Facebook.

Periksa Fakta Korban Meninggal Akibat Virus Corona
Periksa Fakta Korban Meninggal Akibat Virus Corona Capai 10 Ribu Orang. Screnshoot/Youtube/ET Indonesia


Pengecekan Fakta

The Epoch Times merupakan surat kabar multi-bahasa yang didirikan pada 2000 oleh John Tang dan sekelompok orang Amerika keturunan Cina. Menurut Media Bias Fact Check, The Epoch Times merupakan media yang kerap menerbitkan laporan yang menyesatkan. Beberapa sumber yang digunakan media ini juga tidak dapat dipercaya. Tidak ada keterangan yang jelas ihwal keterkaitan antara The Epoch Times dengan Epoch Times Indonesia. Epoch Times Indonesia sendiri tidak tercatat di Dewan Pers.

Dalam mengecek video yang dinarasikan dengan Bahasa Mandarin ini, Tirto bekerja sama dengan Billion Lee, fact-checker untuk Cofacts yang berasal dari Taiwan. Cofacts merupakan komunitas periksa fakta berbasis chatbot di Taiwan sejak 2016. Menurut Billion, narasi yang ada dalam video tersebut merupakan Bahasa Mandarin dan sebagiannya diucapkan dalam dialek Wuhan. Kalimat yang dapat didengar dengan jelas adalah:

“Di depan pintu ada mayat, tidak tahu kapan mereka meletakkannya di sana. Saya kira itu seseorang yang terbaring, namun di wajahnya ada penutup kain putih. Orang-orang sekarat. Wabah di Wuhan, banyak sekali yang mati. Lebih dari 10 ribu orang mati di Wuhan. Sekarang mereka terbaring atau sakit. Tak ada yang peduli, banyak sekali. Pemerintah tak peduli, wabah di Wuhan. Tidakkah ini menakjubkan?”


Lebih lanjut, berdasarkan penelusuran Tirto, video ini diambil di Rumah Sakit Palang Merah Wuhan dan diunggah oleh situs berita Al Jazeera pada 28 Januari 2020. Video yang diunggah Al Jazeera itu berjudul “Coronavirus: Footage from inside hospital in Wuhan”. Namun, video Aljazeera dinarasikan oleh seorang wanita.

Pada deskripsinya, Al Jazeera menuliskan, ""Tidak ada yang datang untuk mengatasi hal ini." Rekaman dari Rumah Sakit Palang Merah Wuhan ini diduga menunjukkan mayat-mayat tergeletak di lorong ketika para dokter berusaha merawat pasien di tengah penyebaran virus korona yang mematikan."

Menurut Al Jazeera, video ini diambil pada 23 atau 24 Januari 2020. Al Jazeera juga mereferensi akun Twitter @ezracheungtoto pada bagian bawah video.

Setelah menilik akun Twitter @ezracheungtoto, ternyata video yang sama pertama kali diunggah akun itu pada 24 Januari 2020. Akun @ezracheungtoto adalah akun milik Ezra Cheung. Ezra merupakan jurnalis paruh waktu di New York Times dan CNN.

Dalam video berdurasi 38 detik tersebut, Ezra menuliskan, "Krisis kebersihan tampaknya telah meletus di #Wuhan. Klip video ini pernah diunggah di Weibo tetapi sekarang telah dihapus. Wanita dalam klip itu mengatakan mayat-mayat ditinggalkan di lorong-lorong rumah sakit tanpa perawatan, sementara para dokter merawat pasien lain di samping mereka. #WuhanPneumonia."



Belakangan, banyak informasi tak benar beredar terkait Virus Corona. Untuk itu, penting menyaring informasi yang kita terima di Internet. Terkait penyebaran Virus Corona, salah satu sumber informasi yang paling terpercaya berasal dari lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yakni World Health Organization (WHO) dan rilis dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

Menurut pemantauan WHO per 29 Januari 2020, infeksi Virus Corona secara global telah mencapai 6.065 kasus. Di Cina sendiri, ada 5.997 kasus terkonfirmasi dan menyebabkan kematian 132 orang. Sementara di luar Cina, ada 15 negara yang terkontaminasi dengan 68 kasus terkonfirmasi.

Negara-negara tersebut adalah Jepang (7 kasus), Korea Selatan (4 kasus), Vietnam (2 kasus), Singapura (7 kasus), Australia (7 kasus), Malaysia (4 kasus), Kamboja (1 kasus), Thailand (14 kasus), Nepal (1 kasus), Sri Lanka (1 kasus), Amerika Serikat (5 kasus), Kanada (3 kasus), Perancis (4 kasus), Jerman (4 kasus), dan Uni Emirat Arab (4 kasus). Sementara itu, Indonesia belum berada dalam rilis WHO tersebut.

Kesimpulan

Berdasarkan pengecekan fakta yang telah dipaparkan, tidak benar ada 10.000 lebih orang yang meninggal akibat Virus Corona di Wuhan. Video yang diunggah oleh The Epoch Time Indonesia bersifat salah dan menyesatkan (false and misleading). Menurut pantauan WHO per 29 Januari 2020, Virus Corona telah menyebabkan kematian pada 132 orang di Cina.


Baca juga artikel terkait PERIKSA FAKTA atau tulisan menarik lainnya Irma Garnesia
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Irma Garnesia
Editor: Ign. L. Adhi Bhaskara
DarkLight