Klaim Dokter Lois soal Interaksi Obat, Ahli Farmasi: Tidak Berdasar

Reporter: Mohammad Bernie, tirto.id - 12 Jul 2021 10:45 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Guru Besar Fakultas Farmasi UGM Zullies Ikawati menilai klaim Dokter Lois Owien soal kematian COVID-19 akibat efek interaksi obat tak berdasar.
tirto.id - Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) Zullies Ikawati buka suara atas tuduhan Dokter Lois Owien soal kematian COVID-19 lebih disebabkan oleh efek interaksi obat, bukan karena virus itu sendiri. Zullies mengatakan, interaksi obat tidak semudah itu menyebabkan kematian pada pasien.

"Jadi, jika ada yang menyebutkan bahwa kematian pasien COVID adalah semata-mata akibat interaksi obat, maka pernyataan itu tidak berdasar dan tidak bisa dipertanggungjawabkan," kata Zullies lewat keterangan tertulisnya pada Minggu (11/7/2021).

Sebelumnya, seseorang bernama Lois Owien menyangkal kematian akibat COVID-19. Melalui akun Twitternya, ia menuduh sekitar 60 ribu orang yang meninggal dunia akibat COVID-19, meninggal disebabkan efek interaksi obat yang digunakan dalam terapi COVID-19, bukan COVID-19 itu sendiri.

Lois mendaku diri sebagai dokter, dan pernah diundang ke acara talkshow di televisi untuk mengutarakan klaimnya itu. Namun, IDI menyebut keanggotaannya sudah kedaluwarsa, dan namanya pun tidak terdaftar di laman Konsil Kedokteran Indonesia.

"Interaksi antar obat. Kalau buka data di rumah sakit, itu pemberian obatnya lebih dari enam macam," kata Lois dalam acara tersebut.

Zullies menjelaskan interaksi obat adalah adanya pengaruh suatu obat terhadap efek obat lain ketika digunakan secara bersama-sama kepada seorang pasien. Efeknya bisa meningkatkan efek farmakologi suatu obat yang itu bisa berdampak sinergis atau aditif; mengurangi efek obat lain; dan meningkatkan efek yang tidak diinginkan dari obat yang digunakan.

Namun Zullies pun menegaskan, tidak semua kombinasi obat-obatan akan menimbulkan efek interaksi obat yang signifikan.

"Karena itu, sebenarnya interaksi ini tidak semuanya berkonotasi berbahaya, ada yang menguntungkan, ada yang merugikan. Jadi tidak bisa digeneralisir, dan harus dikaji secara individual," tegas Zullies.

Dalam kasus umum, banyak kondisi penyakit yang membutuhkan lebih dari satu obat untuk terapinya, misalnya jika pasien memiliki penyakit penyerta (komorbid). Dalam beberapa kasus, satu penyakit pun membutuhkan lebih dari satu obat dalam penanganannya misalnya hipertensi, pada kondisi hipertensi yang tidak terkontrol bisa ditambahkan obat antihipertensi yang lain.

Bagaimana dengan terapi COVID-19? Zullies mengatakan, COVID-19 adalah penyakit yang unik sebab gejala yang dialami bisa bermacam-macam. Pada gejala sedang dan berat, penderitanya bisa mengalami peradangan paru, gangguan pembekuan darah, hingga gangguan pencernaan. Karenanya, di samping vitamin dan anti-virus untuk meredam virus itu sendiri, sangat mungkin dibutuhkan beberapa jenis obat-obatan untuk mengatasi gejala-gejala yang dialami.

"Justru jika tidak mendapatkan obat yang sesuai, dapat memperburuk kondisi dan menyebabkan kematian. Dalam hal ini, dokter tentu akan mempertimbangkan manfaat dan risikonya dan memilihkan obat yang terbaik untuk pasiennya. Tidak ada dokter yang ingin pasiennya meninggal dengan obat-obat yang diberikannya," kata Zullies.

Namun, memang interaksi obat itu juga bisa berdampak negatif, bisa menyebabkan berkurangnya efek obat lain yang digunakan secara bersama. Interaksi obat juga bisa meningkatkan efek terapi dari satu obat yang itu justru bisa berdampak negatif, misal penggunaan insulin dan obat diabetes oral bisa jadi berbahaya karena menyebabkan penurunan kadar gula darah yang berlebihan.

Interaksi obat juga bisa meningkatkan risiko efek samping. Misal, penggunaan kombinasi obat azitromisin dan hidroksiklorokuin yang dulu digunakan untuk terapi COVID atau azitromisin dengan levofloksasin, mereka sama-sama memiliki efek samping mengganggu irama jantung. Jika digunakan bersama maka bisa terjadi efek total yang membahayakan.

Namun, interaksi obat yang tidak diinginkan itu juga bisa dihindari dengan cara memahami mekanisme interaksinya. Jika obat berinteraksi secara fisik, seperti obat antibiotika golongan kuinolon dengan kalsium yang dapat membentuk ikatan kelat, maka interaksinya bisa diredam dengan pemberian jeda waktu yang lebar antar masing-masing obat.

Jika obat interaksi obat mengakibatkan kadar obat lain bertambah atau berkurang, maka bisa diatasi dengan mengurangi dosis obat. Atau cara lain adalah mengganti obat yang berinteraksi dengan obat lain yang tidak akan berinteraksi.

"Sekali lagi, dampak interaksi obat tidak bisa digeneralisir dan harus dilihat kasus demi kasus secara individual, sehingga cara mengatasinya pun berbeda-beda pada setiap kasus," kata Zullies.

Selain sifatnya yang individual dan bisa dihindari, dokter juga akan meningkatkan pemantauan jika menggunakan obat yang dapat berinteraksi klinis. Jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan maka tenaga kesehatan bisa segera melakukan tindakan.

"Jadi, interaksi obat tidak semudah itu menyebabkan kematian," tutup Zullies.


Baca juga artikel terkait OBAT COVID-19 atau tulisan menarik lainnya Mohammad Bernie
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Mohammad Bernie
Penulis: Mohammad Bernie
Editor: Maya Saputri

DarkLight