Kisah Virginia Woolf Tokoh Sastra Abad 20 yang Berakhir Bunuh Diri

Oleh: Maya Saputri - 25 Januari 2018
Dibaca Normal 1 menit
Virginia Woolf terkenal sebagai salah satu tokoh sastra modern abad ke-20 dan pelopor penggunaan teknik penulisan “stream of consciousness” sebagai narasi dalam novel-novelnya.
tirto.id - Novelis Inggris Virginia Woolf hari ini dirayakan ulang tahunnya yang ke-136 oleh Google doodle.

Woolf terkenal sebagai salah satu tokoh sastra modern abad ke-20 dan pelopor penggunaan teknik penulisan “stream of consciousness” sebagai narasi dalam novel-novelnya. Deretan karya penulis bernama lengkap Adeline Virginia Woolf ini antara lain Mrs. Dalloway (1925), To The Light House (1927) dan A Room of One’s Own (1929).

Terlahir dari keluarga terpelajar pasangan Julia Prinsep Duckworth Stephen dan Sir Leslie Stephen, Woolf dibesarkan di keluarga besar dengan adik dan kakak tiri dari pernikahan ayah ibunya sebelumnya. Ayah Woolf dikenal sebagai editor dan penulis yang terkenal di masanya. Penulis James Russel Powell bahkan menjadi ayah baptis bagi Virginia dan sastrawan Henry James dan George Elliot berteman baik dengan ayahnya.

Kenangan masa kecil Virginia yang membekas saat menghabiskan liburan musim panas di Cornwall yang nantinya menginspirasi novelnya To The Lighthouse, dikutip dari Wikipedia.

Namun kematian ibu Virginia saat ia masih berusia 13 tahun dan disusul kematian adiknya dua tahun kemudian telah menyebabkan dia depresi. Kematian ayahnya juga semakin memperburuk keadaannya, hingga sempat dimasukkan ke rumah sakit jiwa untuk penyembuhan.

Ia sempat belajar di London’s Kings College bersama beberapa figur yang menonjol dalam sastra salah satunya Leonard Woolf yang nantinya menjadi suaminya. Virginia dan Leonard Woolf menikah pada 1912 tetapi tak membuat hidupnya bahagia. Pada 1922, Virginia bertemu dengan Vita Sackville-West yang dikabarkan menjadi hubungan istimewa hingga 10 tahun. Salah satu novelnya, Orlando, disebut-sebut sebagai surat cinta kepada West.

Dibesarkan di lingkungan intelektual dan komunitas sastra, Woolf menjadi salah satu tokoh kunci di Grup Bloomsbury, kelompok intelektual dan penulis yang juga beranggotakan EM Forster dan JM Keynes.

Karya Woolf yang terkenal, Mrs. Dalloway dan To The Lighthouse, menggunakan narasi "stream of consciousness" yang menggambarkan perspektif karakter dengan kegiatan sehari-harinya dengan penekanan pada konteks kehidupan si tokoh dan sejarah dengan segala kecamuk pikiran yang berlalu-lalang. Kalimat pembuka novel ini bahkan menjadi salah satu yang paling terkenal di sejarah literature Inggris.

Karya non-fiksi lainnya A Room of One’s Own telah menjadikan Woolf sebagai salah satu tokoh feminis terkemuka. “Seorang perempuan harus memiliki uang dan ruangan tersendiri untuk dia bisa menulis fiksi,” cuplikan tulisannya ini menjadi salah satu kutipan yang paling terkenal untuk menggambarkan kemandirian perempuan.

Namun hidup Woolf berakhir tragis. Selama Perang Dunia II berkecamuk di Eropa, Woolf mengalami depresi berat. Karena tidak dapat mengatasi depresinya, Woolf mengenakan mantelnya, mengisi kantungnya dengan batu dan berjalan ke Sungai Ouse pada 28 Maret 1941. Ia kemudian terjun ke sungai itu. Pihak berwenang menemukan mayatnya tiga minggu kemudian.

Meskipun popularitasnya menurun setelah Perang Dunia II, karya Woolf kembali bergaung dengan generasi baru pembaca selama gerakan feminis tahun 1970-an. Woolf tetap menjadi salah satu penulis paling berpengaruh abad ke-21.

Untuk mengabadikan karya dan pencapaian penulis awal abad ke-20 ini, Google pada hari ini membuat sketsa wajah Virginia Woolf yang dikelilingi daun-daun berguguran, untuk menggambarkan “gaya minimalis” yang kerap dipakai Woolf dalam karya-karyanya.


Baca juga artikel terkait GOOGLE DOODLE atau tulisan menarik lainnya Maya Saputri
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Maya Saputri
Penulis: Maya Saputri
Editor: Maya Saputri
DarkLight