Kisah Penjual Buku Pasar Kenari: Tempat Nyaman Malah Sepi Pembeli

Oleh: Alfian Putra Abdi - 8 September 2019
Dibaca Normal 3 menit
Pasar Kenari yang saat ini ditempati pedagang buku pindahan dari Pasar Senen dan Kwitang masih sepi pengunjung, meski tempatnya nyaman dan bersih. Apa masalahnya?
tirto.id - Deretan kios buku di Pasar Kenari, kawasan Salemba, Jakarta Pusat ini masih lengang. Beberapa kios masih terlihat belum membuka lapaknya. Bahkan banyak kios yang belum ditempati.

Salah satu pedagang buku di Pasar Kenari, Naomi (38) duduk di antara puluhan atau mungkin ratusan buku dengan berbagai jenis, disiplin ilmu dan genre. Jarum jam menunjukkan pukul 13.30. Ia masih sibuk menata buku.

"Hari ini belum ada yang laku," ujarnya kepada reporter Tirto, Jumat (6/9/2019).

Naomi harus bersaing dengan 60 kios penjual buku lainnya di lantai 3 Pasar Kenari. Kios-kios buku ini sebagian dipindahkan oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dari Pasar Senen dan Kwitang pada April 2019 lalu.

Belum lagi ia harus pula bersaing dengan Jakbook, toko buku retail milik PD Pasar Jaya.

"Kalau saya pindahan dari Pasar Senen," ujar Naomi.


Bisnis penjualan buku itu milik suaminya, yang sudah dirintis selama 10 tahun lebih. Baru ketika mereka menikah, Naomi ikut mengelola kios ini.


Sebelum pindah ke Pasar Kenari, ia sempat menyewa lapak meja di Pasar Senen dengan biaya Rp12 juta per tahun. Lalu ketika ada penawaran untuk pindah, ia dan suami pun mengiyakan.

"Saya ke sini karena di Senen, gedungnya dibongkar. Jadi kita jualannya di kaki lima bukan kios seperti ini," ujarnya.

Kios 57 yang ia tempati saat ini, masih bebas dari pungutan uang sewa hingga satu tahun ke depan. Ia hanya diminta membayar uang kebersihan saja.

"Setiap kios berbeda-beda, kalau saya untuk ukuran kios seperti ini [sewanya] hanya Rp285 per bulan," ujarnya.

Ia mengaku sejujurnya memilih pindah berjualan ke Pasar Kenari lantaran fasilitasnya yang lebih mumpuni ketimbang di Senen.

Ketika masih di Senen, ia selalu khawatir barang dagangannya dicuri, sebab stigma kawasan di sana yang terkenal dengan kawasan rawan copet. Selain itu, Pasar Kenari lebih nyaman, bersih dan ruangannya ber-AC.

"Pembeli pun lebih nyaman saat berbelanja. Bisa membaca sambil duduk di lantai, karena lantainya bersih. Kalau mau duduk, disediakan tempatnya juga," ujarnya.


Saat berkeliling di Lantai 3 Pasar Kenari memang terasa lebih sejuk. Berbeda dengan lantai-lantai di bawahnya yang panas, pengap dengan pencahayaan minim. Pasar Kenari yang berdiri hampir 20 tahun ini memang lebih dikenal sebagai pusat alat penjualan alat listrik.


Di lantai 3, terdapat mini swalayan Jakmart. Titik-titik untuk membaca pun tersedia di dalam area. Mulai dari yang lesehan dengan konsep rumput sintetis khas lapangan futsal, hingga meja-meja persis seperti perpustakaan.

Ada pula pojokan multimedia yang menyediakan layar televisi datar berukuran 29 inci untuk pengunjung bisa mengakses informasi soal literasi dan DKI Jakarta, kedai kopi modern, serta pujasera.

Pendapatan Turun


Ruangan berbelanja buku yang nyaman dengan fasilitas lengkap tak lantas ramai pengunjung. Selain Naomi, pedagang buku Pasar Kenari lainnya masih mengeluhkan minimnya pendapatan sejak pindah.


"Biasanya Sabtu-Minggu itu ramai. Tapi tak selalu sih," kata Naomi.

Ia mengenang ketika masih berdagang di Pasar Senen, pendapatannya per hari berkisar antara Rp500 ribu ke atas. Sementara di Pasar Kenari, omset hanya Rp100 ribu per hari hingga Rp300 ribu. Bahkan pernah seharian berdagang, hanya laku Rp25 ribu.

"Pemasukan saya masih di bawah pemasukan sewaktu di Senen. Tapi kan ini juga masih baru empat bulan yah. Sabar sajalah," ujarnya sambil merapikan buku.

Naomi mengakui pengunjung masih belum banyak yang tahu Pasar Kenari ada kios-kios buku. Imej tempat ini belum terbangun. Apalagi awalnya dikenal sebagai tempat menjual alat kelistrikan.

"Bahkan ada lho, pembeli saya yang ke sini karena terjebak. Niatnya Bapak itu cuma mau beli kabel di lantai bawah. Dia iseng naik saja, begitu sampai, dia baru tahu kalau ada yang jualan buku-buku.”

Hal senada juga dikeluhkan Imanda (58) yang menjaga dua kios buku di Pasar Kenari.

"Itu kios teman saya, saya bantuin jaga juga," ujar pemilik Kios 32 dan menjaga Kios 31, milik temannya.

Bahkan saking sepinya, tak sedikit pemilik kios buku di pasar ini yang rela menutup kiosnya.

"Kalau nggak gitu, mau makan dari mana kita [penjual]," ujar pria yang sudah menekuni bisnis jualan buku selama 30 tahun itu.

Pedagang buku pindahan dari Kwitang ini per hari bisa meraup
Rp200 ribu sampai Rp 500 ribu. Berbeda saat berjualan di Kwitang, pendapatannya mulai dari Rp 500 ribu hingga jutaan rupiah per hari, terutama saat tahun ajaran baru sekolah.

"Tapi ini [sekarang] lumayan ramai, daripada dua-tiga bulan pertama," ujarnya.

Kurang Promosi


Meski fasilitas lengkap dan tempat nyaman, bursa buku di Lantai 3 Pasar Kenari masih sepi pengunjung. Apa masalahnya?


Pada pertengahan Agustus lalu, Pasar Kenari sempat menjadi perbincangan di media sosial. Lantaran ada unggahan di Twitter yang sempat viral dan menarik pengunjung.

"Saya dan penjual lainnya sempat protes ke PD Pasar Jaya, 'tolonglah promosinya digencarkan' . Tapi kayaknya sudah dilakukan. Kamu lihat nggak [iklannya]? Di kereta katanya sih ada," kata Iman.

PD Pasar Jaya selaku pengelola sempat mengadakan kegiatan Hari Anak Jakarta Membaca di Pasar Kenari pada 27-29 Agustus 2019. Hal itu cukup ampuh memantik pengunjung datang dan terlebih lagi turut memperkenalkan Pasar Kenari sebagai bursa buku di Jakarta. Namun, ia juga berharap ada terobosan serupa agar imej pasar ini berubah.

"Orang kenal Pasar ini kan sebagai tempat jual barang teknik dan elektrik. Belum dikenal sebagai tempat jual buku," ujarnya.

Berbeda dengan Manager Operasional Jakbook Mohamad Taofik, sejak diresmikan pertama kali pada April lalu. Ia menuturkan pendapatan toko buku milik Pasar Jaya itu terus membaik.

"Dari hari ke harinya dan jumlah pengunjung meningkat," ujarnya kepada Tirto melalui pesan singkat, Sabtu (7/9/2019).

Namun, ia belum bisa menjelaskan detail pendapatan dan jumlah trafik pengunjung yang ia klaim meningkat tersebut.

"Terkait omset saya belum dapat angka pastinya," ujarnya.

Klaim peningkatan pendapatan itu, menurutnya, ditengarai oleh strategi promosi. Ke depan, kata Taofik, akan ada kegiatan untuk menggeliatkan Pasar Kenari agar lebih dikenal lebih luas.

"Akan ada talkshow serta meet and greet dengan berbagai penulis buku, bazar buku murah berkualitas, dan rangkaian lainnya," ujarnya.


Baca juga artikel terkait PEDAGANG BUKU atau tulisan menarik lainnya Alfian Putra Abdi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Alfian Putra Abdi
Penulis: Alfian Putra Abdi
Editor: Maya Saputri
DarkLight