Kisah Maurice & Josette Audin: Suami Tewas, Istri Menuntut Keadilan

Oleh: Eddward S Kennedy - 22 Januari 2019
Dibaca Normal 4 menit
61 tahun Josette Audin meminta pertanggungjawaban pemerintah Perancis atas hilangnya sang suami, Maurice Audin.
tirto.id - Butuh lebih dari 60 tahun bagi Josette Audin menuntut pemerintah Perancis agar kasus kematian suaminya, Maurice Audin, diungkap.

Perancis memutuskan untuk mencaplok Aljazair pada 1830 lantaran merosotnya popularitas Raja Charles X dan pula, provinsi Ottoman itu jauh dari Istanbul, sekaligus sedang lemah-lemahnya. Tak lama setelah kota Aljiers direbut dan administrasi sipil dijalankan, orang-orang dari Perancis berbondong-bondong masuk ke Aljazair. Kemudian terjadilah apa yang dinamakan kolonialisme pendatang (settlers colonialism) selama 132 tahun.

Setelah perlawanan-perlawanan lokal, pencaplokan tanah-tanah adat pada 1870an, keterlibatan masyarakat Aljazair sebagai war effort dalam Perang Dunia II, pembantaian massal di provinsi Setif pada 1946, dan gerilya kemerdekaan sejak 1954, mayoritas penduduk Aljazair memilih merdeka dari Prancis dalam sebuah referendum pada 1 Juli 1962. Empat hari kemudian, Presiden de Gaulle mengumumkan Aljazair merdeka.

Selama perang kemerdekaan yang berlangsung sepanjang 1954-62, tercatat kurang lebih 1,5 juta jiwa warga Aljazair tewas. Sepanjang itu pula, pasukan militer Perancis secara rutin menggunakan penyiksaan terhadap para tawanan yang mayoritas pejuang kemerdekaan. Sebuah sikap yang kemudian terus disangkal mereka dengan cara menyensor koran, buku, dan film tentang hal tersebut agar terus masyarakat Perancis merasa tabu membicarakannya.

Le Petit Soldat (The Little Soldier), film karya Jean-Luc Godard tahun 1960, bercerita tentang kecaman terhadap penggunaan penyiksaan oleh kedua belah pihak, dilarang beredar selama tiga tahun. Pada 2005, film thriller psikologis karya Michael Haneke, Caché (Hidden), yang turut mengisahkan pembantaian tahun 1961 terhadap 300 pendukung kemerdekaan Aljazair di Paris, dilarang selama 37 tahun.

Para pejabat Perancis juga menghindari bicara soal ini. Salah satunya ditunjukkan dengan selalu menyebut "les événements" (peristiwa) dan menghindari kata “perang”, ketika topik Perang Kemerdekaan Aljazair mulai merebak.

Barulah, pada 13 September 2018 lalu, di hadapan Josette Audin, pemerintah Perancis melalui presiden Emmanuel Macron, akhirnya berani mengakui kesalahan puluhan tahun tersebut. Ia juga meminta maaf kepada Josette karena suaminya tewas di tahanan setelah disiksa oleh tentara yang menculiknya. Penyiksaan tersebut, jelas Macron, berasal dari “sistem ketika Aljazair masih bagian dari Perancis”.

Dan atas perjuangan Jossete selama 61 tahun, 3 bulan, dan 2 hari menuntut pertanggungjawaban negara, tidak bisa tidak, Macron hanya mampu takjub sembari berujar lirih: “Anda tidak pernah menyerah agar kebenaran diakui”.

Matematikawan Komunis dan Aktivis Pro-Kemerdekaan Aljazair


Maurice Audin, seorang Perancis yang lahir di Beja, sebuah kota di Tunisia, pada 14 Februari 1932, adalah pria dengan multilatar belakang: matematikawan, anggota Partai Komunis Aljazair (PCA), dan pegiat antikolonialis yang menentang penjajahan di Aljazair.

Ketika Front Pembebasan Nasional Aljazair (FLN) mulai melancarkan serangkaian serangan gerilya terhadap tentara dan warga sipil Perancis di Aljir, lalu dihadapi militer Perancis dengan pembalasan yang semakin keras, termasuk eksekusi, penyiksaan, hingga “penghilangan”, Maurice dikabarkan menghilang. Belakangan diketahui, ia diculik dari rumahnya pada 11 Juni 1957, oleh Kapten Devis, Letnan Philippe Erulin, dan beberapa prajurit Resimen Parasut Pertama Angkatan Darat Peranciske sebuah pusat penahanan di daerah El Biar.

Michèle Audin, anak tertua dari Josette dan Maurice, mengatakan kepada BBC bahwa ketika momen penjemputan, ibunya sempat bertanya kepada salah seorang tentara. “Ibuku bertanya: ‘kapan suami saya akan dipulangkan?’ Mereka menjawab: ‘Jika semua berjalan lancar, ia akan pulang dalam waktu setengah jam’.”

Satu jam, dua jam, tiga jam, satu minggu, dua minggu, tiga minggu, satu bulan, satu tahun, 10 tahun, 20 tahun, 30 tahun, 40 tahun, 50 tahun, 60 tahun, Maurice tak pernah dan tak akan pernah kembali. Selamanya.

Orang terakhir yang mengetahui keberadaan Maurice adalah Henri Alleg, rekan seperjuangannya dalam gerakan pro-kemerdekaan Aljazair. Ia juga diculik tentara Perancis ketika mengunjungi flat tempat Maurice tinggal, sehari setelah Maurice dikabarkan menghilang. Di lokasi penahanan, Alleg sempat melihat Maurice tengah ditelentangkan di atas meja dalam keadaan terikat. Suatu keadaan yang menggambarkan betapa “mengerikan” interogasi tersebut dilakukan.

Sosok lain yang juga diculik adalah Dr Georges Hadjadj. Ia adalah dokter spesialis paru-paru yang juga menjadi rekan Maurice dan Alleg di gerakan pro-kemerdekaan Aljazair. Orang ini diculik tiga hari sebelum Maurice dan Alleg. Setelah bertahan dari siksaan bertubi-tubi, di hari terakhir Hadjadj diancam bahwa istrinya akan menggantikan dirinya untuk disiksa. Ancaman tersebut membuat Hadjadj menyerah dan berujung dengan pembocoran nama Maurice ke para tentara.

Di ruang tahanan, Maurice disiksa habis-habisan. Namun sebelum presiden Macron mengakuinya, tidak pernah benar-benar jelas bagaimana cara Maurice tewas. Alleg sendiri mengaku pernah mendapat informasi bahwa Maurice tewas ditembak karena mencoba melarikan diri ketika hendak dipindahtempatkan. Perintah penembakannya dilakukan oleh Letnan André Charbonnier, penanggung jawab di tempat penahanan di El Biar.

Sylvie Thénault, seorang sejarawan yang mengkhususkan diri dalam Perang Kemerdekaan Aljazair, dalam wawancara dengan FRANCE 24, punya versi yang lebih meyakinkan. “Maurice ditangkap di rumahnya oleh tentara yang membawanya ke pusat penahanan El Biar, yang kemudian menginterogasi dan menyiksanya. Itu adalah fakta-fakta yang telah ditetapkan,” ujarnya.

“Sejak Aubin masuk ke pusat penahanan, tidak ada jejak lebih lanjut dari dia, kecuali pernyataan saksi oleh Henri Alleg (seorang aktivis anti-kolonial komunis yang ditahan sehari setelah Audin), yang mengatakan bahwa dia melihat Audin dan mengetahui bahwa dia telah disiksa,” lanjut Thénault.

Versi lain tewasnya Maurice turut diasumsikan oleh Pierre Vidal-Naquet, penulis L'Affaire Audin (1958). Ia menyebut bahwa Maurice tewas dicekik oleh Charbonnier. Sementara versi lainnya lagi menduga bahwa Maurice terbunuh atas perintah langsung dua orang militer senior Prancis di Aljazair, Brigadir Jenderal Jacques Massu, dan anteknya yang antusias, Pierre Aussaresses, seorang perwira berpangkat rendah yang bertanggung jawab atas tugas-tugas intelijen Perancis di Aljazair.

Pada akhir tahun 1957, Josette untuk pertama kali mengajukan gugatan terhadap pemerintah Perancis terkait keterlibatan dalam pembunuhan suaminya. Bersamaan itu pula, komite untuk mengusut kasus tersebut turut dibentuk. Namun demikian, desakan untuk menjelaskan keadaan Maurice sudah lebih dulu dilakukan oleh Léon Feix, pemimpin FLN, kepada Keeper of the Seals (istilah klasik yang disematkan kepada Menteri Keadilan Perancis), Maurice Bourgès-Maunoury, dalam bentuk surat terbuka pada .

"Apa yang terjadi dengan Maurice Audin? Bagaimana dengan kasus pembunuhan Ali Boumendjel, Raymonde Peschard, dan Larbi Ben Mhidi, serta nasib mereka yang dijatuhi hukuman mati? Tidak pernah ada sebelumnya bagaimana penyiksaan, ‘penghilangan’, serta eksekusi, terjadi begitu banyak seperti di Aljazair," demikian intisari surat tersebut sebagaimana dikutip l'Humanité.

Infografik Kasus Audin
Infografik Kasus Audin


Namun, yang terjadi setelah banyaknya laporan maupun gugatan terkait hilangan Maurice dan korban-korban lain adalah penyensoran dan pelarangan dari pemerintah Perancis. Josette tidak peduli. Ia terus menerus menulis surat kepada wartawan, media, akademisi, sejarawan, politikus, aparat, demi mencari kebenaran dan menuntut keadilan tentang suaminya.

Berselang beberapa tahun ketika Aljazair akhirnya mencapai kemerdekaan, Josette dan anak-anaknya berpindah ke Paris. Di sana, mereka bahu membahu mengumpulkan bahan bukti yang menunjukkan bahwa Maurice telah disiksa sebelum dibunuh dengan kejam semasa Aljazair di bawah pemerintah Perancis. Banyak pula buku maupun penelitian mengenai kasus tersebut yang kemudian diterbitkan. Namun, hasilnya tetap nihil: pemerintah Perancis masih belum memberi keterangan jelas.

Selepas hampir enam dekade dan melewati tujuh presiden, mulai dari Charles de Gaulle hingga Nicolas Sarkozy, baru pada tahun 2014, akhirnya Presiden François Hollande mengakui bahwa Maurice tewas semasa dalam tahanan. Kendati demikian, apa yang “kurang” dalam pernyataan Hollande adalah, mengutip Thénault: “pengakuan bahwa Audin meninggal karena penyiksaan yang diberikan kepadanya saat berada di tangan militer.”

Michèle mengatakan: “Dia [Josette, ibunya] tidak meminta permohonan maaf, melainkan pertanggungjawaban pemerintah Perancis dalam masa perang tersebut.”

Yang perlu diketahui ketika akhirnya Macron mengakui kesalahan Pemerintah Perancis di hadapan Josette adalah: kasus suaminya hanyalah satu dari sekian ribu korban lain dalam masa Perang Kemerdekaan Aljazair. Sama seperti Maurice, banyak pula di antara mereka yang tewas tak tentu rimbanya, tak ada jasadnya, tak terungkap pula kematiannya.
Kesaksian Mounira Yacef adalah salah satunya.

Suatu malam, ayahnya, Lahcene Yacef, dijemput oleh tentara Perancis dari rumahnya dan sejak itu tak pernah lagi ada kabar mengenai dirinya. Selama itu pula keluarga Lahcene bertanya-tanya: apakah ia masih hidup, sudah tewas, bagaimana tewasnya, di mana, kapan, dan sebagainya. Satu-satunya hal yang diketahui Mounira hanyalah nama sang ayah termaktub ke dalam dokumen orang-orang yang hilang. Dan itu sama sekali tak berarti apa-apa.

Sebab bagi Mounira: “Hilangnya tubuh berarti hilangnya sejarah.”

Baca juga artikel terkait KASUS HAM atau tulisan menarik lainnya Eddward S Kennedy
(tirto.id - Politik)


Penulis: Eddward S Kennedy
Editor: Maulida Sri Handayani